Tempat Wisata Menarik Kabupaten Semarang: Candi Gedong Songo

rifanfajrin.com - Tempat Wisata Menarik Kabupaten Semarang: Candi Gedong Songo
Wisata Candi Gedongsongo
Ilyas sama ibunya mejeng di depan Candi V

Minggu itu memang hari yang khusus untuk keluarga. Pada hari itu, biasanya kami selalu merencanakan untuk "ayo kita ke mana". Nah, pada kesempatan minggu 15 November 2015 kemarin itu, istriku bilang, "Rasanya sudah lama aku tidak naik gunung. Masih kuat nggak yaa??" Jadilah kami memutuskan untuk plesir ke tempat wisata menarik yang ada di Kabupaten Semarang: Candi Gedong Songo. 
Ya, wajar saja istriku sedikit bertanya, mungkin ragu pada akankah kami akan kuat naik sampai atas mengunjungi semua candi. Sebab, kami naik bersama Ilyas, si kecil jagoan kami yang Desember mendatang baru genap berumur satu tahun. :)

Candi Gedong Songo merupakan candi peninggalan Hindu Wangsa Syailendra yang terletak di lereng Gunung Ungaran. Candi ini, menurut catatan sejarah, ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804 M.

Untuk menuju ke sana, kami cukup menempuhnya selama lebih kurang setengah jam dengan sepeda motor santai saja (karena memang saya tidak bisa naek motor kenceng-kenceng, hehehe). Candi Gedong Songo hanya 20 km dari Kota Ambarawa tempat saya tinggal. Tepatnya di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Terletak pada ketinggian kira-kira 1200 meter di atas permukaan air laut (mdpl), menjadikan suhu di sekitar candi sangat sejuk, yaitu antara 19-27°C. Kurasa ini sangat cocok untuk refreshing, membunuh penat setelah bekerja selama sepekan. Apalagi kami sampai di lokasi saat hari masih pagi, matahari belum memancarkan sinar yang panas. he he he.

Di loket tak jauh dari pintu masuk, pengunjung cukup mengeluarkan ongkos 10.000 rupiah untuk masuk. Di situ juga tertulis "Tourist Rp 50.000". Hihihi. Maksudnya kalau turist asing atau mancanegara harus bayar lebih mahal lima kali lipat daripada wisatawan lokal. Melihat tulisan tersebut, istriku bilang, "Kita kan juga turis, tapi turis lokal. Bener nggak sih?" Aku menjawab, "Sudah, nggak usah jadi masalah daripada kita bayar seket ewu!" hehehe.

Baru beberapa meter berjalan, kami sudah dihampiri oleh para penyedia jasa kuda. Mereka menawarkan jasa kuda untuk mengantarkan para pengunjung berkeliling mengunjungi semua candi dengan berkuda. Untuk menyewa kuda berkeliling ke semua candi itu, kita cukup merogoh kantong sebesar Rp 80.000,00 per orang. Akan tetapi, khusus bagi Anda yang memiliki postur tubuh agak big size, alias agak gemuk dengan berat badan 80 kg atau lebih, Anda harus mengeluarkan ongkos lebih banyak, yaitu Rp 100.000 per orang. Hihihi. Yah, harus dibedakan dong, kalau tidak kasihan kudanya. Kuda juga bisa ngos-ngosan, itu yang saya tahu setelah membaca kisah seekor kuda zama victoria lewat novel "Black Beauty" karya Anna Sewell, penulis asal Inggris. (Baca: Ulasan Buku Black Beauty).

Namun, karena tujuan kami di awal adalah untuk refreshing sekaligus mejajal kekuatan masih kuat atau tidak jalan kaki naik berkeliling semua candi, maka kami harus menolak tawaran bapak-bapak penyedia jasa kuda itu dan memilih jalan kaki. Selain itu, psstt, kami tidak membawa cukup uang untuk menyewa kuda. Hi hi hi. Lain kali saja, kalau Ilyas sudah agak besar, kami berencana jalan-jalan lagi ke Gedong Songo dan menyewa kuda! Insyaalloh!

Walaupun namanya kompleks Candi Gedong Songo yang artinya sembilan, akan tetapi pada kenyataannya kami hanya menemukan lima candi saja. Candi pertama kami lewati dengan mudah. Di candi inilah banyak ditemui para pengunjung yang mengambil foto. Sementara itu, untuk menuju ke Candi II, III, dan IV, kami harus berjalan dengan jarak lumayan jauh dan menanjak. Seingat saya, dulu untuk menuju candi II, III, IV yang jaraknya berdekatan itu, rasanya tidak sejauh ini. Rupa-rupanya sekarang ini pengelola candi telah membuat jalur pendakian yang sedikit memutar. Mungkin hal itu dibuat dengan maksud agar pengunjung melewati beberapa warung para penduduk. Dengan demikian, perekonomian akan tumbuh. Hehehe. (Sok tahu nih). Walhasil, pada perjalanan menuju candi ke dua ini, saya dan istri sempat dua kali  (kalau tidak salah hitung) berhenti untuk beristirahat sejenak. :) Kami pun bergantian menggendong Ilyas. Sampai di sini, kami sempat merasa bahwa lebih baik kami menyewa kuda saja. Hehehe.

Akan tetapi, begitu sampai di candi II, kami kok merasa separuh perjalanan sudah terlewati. Kami juga merasa ringan saja melangkah menuju candi-candi berikutnya. Maka, mungkin sedikit saran bagi pembaca sekalian, jika Anda berkunjung ke Candi Gedongsongo, atau ke tempat-tempat wisata lainnya, yang penting adalah perasaan hepi agar perjalan terasa menyenangkan dan tidak terasa lelahnya. (Lelahnya baru terasa setelah sampai di rumah, hihihi)

Benar saja, setelah kami sampai di candi V, kami mulai berjalan turun. Berbeda ketika naik yang terasa tidak sampai-sampai, ketika turun tidak terasa tahu-tahu kami sudah sampai lagi di bawah. Dan pada akhirnya istriku bilang, "Horeee!!! Ternyata aku masih kuat jalan kaki naik Gedong Songo!" Huahaha. 

"Lha wong dulu sebelum nikah gaweane munggah gunung mbolang mrana-mrena kok sekarang nggak kuat! Ya harus kuat dong! Ngomong-ngomong, Minggu depan kita ke mana lagi?" tanyaku cengengesan. (Baca juga catatan perjalanan kami ke objek wisata Kab. Semarang lainnya: Museum Kereta Api Ambarawa, Goa Rong, atau Taman Wisata Kopeng)

"Lauuut!!!" teriak istriku.

Ya sudah, sekarang tidak usah dipikir dulu. Minggu depan biar minggu depan. Sekarang yang jelas ,kita bersiap memasuki hari aktif untuk kerja lagi! Kerja! Kerja! Kerja! Mengko didukani Pak Jokowi yen leda-lede, (Nanti dimarahi Pak Jokowi kalau malas-malasan) hihihi.

Oya, berikut ini vidio hasil jalan-jalan kemarin.



Sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. :) 
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon