Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CARA MENGAJARI ANAK PEMBAGIAN

 Rifanfajrin.com - cara mengajari anak pembagian kelas 2 sd

Halo apa kabar semuanya? semoga kalian selalu sehat dan ceria. Pada kesempatan kali ini rifanfajrin akan membahas tentang bagaimana cara mengajari anak pembagian untuk kelas 2 sd.

Perkalian dan pembagian merupakan dua konsep penting dalam belajar matematika. Apabila dulu di kelas 1 SD anak diajari tentang bagaimana konsep penjumlahan dan pengurangan sederhana (bilangan satuan), maka di kelas 2 SD mereka diajari bagaimana cara menghitung hingga puluhan dan ratusan dengan cara bersusun panjang dan bersusun pendek.

CARA MENGAJARI ANAK PEMBAGIAN


Pada tahap selanjutnya, mereka juga diajarkan bagaimana melakukan perkalian dan pembagian.

BELAJAR PERKALIAN DAN PEMBAGIAN

Belajar perkalian dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. salah satunya adalah mengenal konsep perkalian terlebih dahulu. Bapak ibu bisa mengajari anak lagu perkalian dengan irama lagu becak ciptaan Ibu Sud berikut ini.

Belajar Perkalian (Irama Lagu “Becak” Ciptaan Ibu Sud)

Aku mau belajar, belajar perkalian.

Perkalian adalah penjumlahan berulang.

Ingat kata bu guru, aturan minum obat.

Ayo kawan mari kita belajar!

3 dikali 1 sama dengan berapa?

Itu sama artinya 1 nya ada 3

Ayo kawan semua mari kita jumlahkan!

Ayo kawan siapa tahu jawabnya?

Dengan memelajari lagu perkalian tersebut, maka sedikit banyak anak akan memahami konsep perkalian tersebut. Sebagaimana tertuang pada penggalan lirik "perkalian adalah penjumlahan berulang. ingat kata bu guru, aturan minum obat, tiga dikali satu sama dengan berapa? itu sama artinya satu nya ada tiga".

Belajar Pembagian

Bagaimana dengan pembagian? Belajar pembagian ini sangat penting bagi kalian dalam kehidupan sehari hari contohnya misalnya apabila kalian sedang berbelanja,  dengan memahami pembagian maka kita akan mengetahui berapa banyak barang yang bisa kita peroleh. Saat kita memiliki uang lima ribu rupiah, ingin kita belikan pensil seharga seribu rupiah, maka berapa pensil yang akan kita dapatkan? tentu orang dewasa (yang tentunya sudah memahami pembagian) dapat dengan mudah menyebutkan 5 buah pensil yang akan kita dapatkan.

Cara menghitung pembagian berguna kelak di kemudian hari. kita tidak akan bisa selalu bergantung pada kalkulator untuk membantu menghitung pembagian maupun perkalian.  Oleh sebab itu, penting kiranya kita belajar pembagian dan wajib memahaminya.

Bagaimana cara mengajari anak pembagian? 

Mengajarkan konsep pembagian kepada anak yang baru belajar berhitung tentu tidaklah mudah. mengajarinya berhitung memerlukan kesabaran tinggi, terutama mengajari siswa yang memiliki daya serap dan daya nalar yang lemah.

Bisakah kita mengajari mereka hingga benar benar paham?

Mengajari anak yang memiliki daya nalar bagus tentang konsep pembagian, tentu relatif mudah. Namun bagaimana mengajarkan materi kepada mereka yang nalarnya lemah. Tidak jarang kita kadang berpikir, "kok bisa semudah ini saja tidak paham?"

Kita dulu awal belajar berhitung, kalau boleh jujur sesungguhnya mengalami tahap kesulitan seperni anak anak tersebut, tetapi karena kita sering mengasahnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan asehari hari, maka kita merasa seperti tahu-tahu sudah menguasainya. kadang kita juga tidak sadar dan mungkin juga lupa kapan tepatnya kita benar benar mampu menguasainya? 

Akibatnya jika kita mengajarkan kepada anak yang baru mulai belajar berhitung, bingun bagaimana cara mengajarkannya, makanya seringkali kita menyederhanakan masalah. 

Pokoknya anak harus menghapalkan, bahwa kalau 10 : 2 = 5, 16 : 4 = 4 dsb, tetapi jarang memberikan pemahaman darimana dan bagaimana hasil tersebut didapat.

Nah supaya kita mudah untuk mengajari anak pembagian kelas 2 sd, maka ada baiknya kita ikuti langkah langkah berikut ini.

Tahap 1

Mengajarkan konsep pembagian kepada anak yang baru mulai belajar berhitung (tidak hapal perkalian)

Tahapan paling dasar mengenalkan konsep pembagian pada anak (yang belum mengenal apa itu pembagian) adalah dengan mengajarkan konsep pembagian. Sebab, konsep pembagian sesungguhnya sudah sering dialami anak dlam kehidupan sehari-hari sudah sering mereka lakukan. 

Sampaikan saja pernahkah kalian memiliki 10 permen, kemudian dibagikan kepada 5 orang temannya sama rata, maka masing-masing anak mendapat berapa permen? jawabannya adalah 2 permen. Konsep itulah yang disebut pembagian.

Seringkali kita melompati tahap ini, bahkan langsung meminta anak asal hafal 

10 : 5 = 2, 6 : 2 = 3, dan lain sebagainya 

anak berdaya nalar tinggi biasanya langsung bisa mengikuti, terlebih sebelumnya ia telah belajar perkalian, jadi tinggal dibalik saja konsep perkalian menjadi pembagian.

Namun jika anak lambat mencerna konsep matematika, misalnya masih kurang menguasai penjumlahan dan pengurangan penjumlahan masih lambat, pengurangan masih sering salah apalagi perkalian, bisakah diajari?

Jawabannya adalah bisa. Selama anak sudah menguasai penjumlahan benda maka materi pembagian sudah bisa diajarkan, malahan bisa langsung diajarkan tanpa harus mengajarkan penjumlahan, pengurangan atau perkalian terlebih dahulu.

Media yang dapat digunakan misalnya dengan batang lidi, atau dengan gambar (menggambar benda sejumlah yang akan dibagikan). Keduanya memiliki fungsi yang sama, perbedaannya hanya pada alatnya saja. tentu kebih praktis metode gambar karena tidak harus menyiapkan batang lidi dengan jumlah tertentu, dan kita bisa mensimulasikan dengan beraneka gambar, misalnya roti, apel, buku, pensil dan benda benda lainnya yang mudah digambar.

Namun untuk tahap mengenalkan konsep, memang ada baiknya kita sesekali meminta anak untuk menyiapkan  batang lidi dengan jumlah tertentu sebagai metode untuk mengenalkan konsep perhitungan, baik penjumlahan, pengurangan, perkalian maupun pembagian.

Berapa 20 : 5 ?

Langkah 1 : Tulis angka 1 s/d 5 berderet (sebaris)

Langkah 2 : Gambar lingkaran kecil tepat dibawah angka-angka yang kita tulis tadi, sambil dihitung jumlah lingkaran yang sedang digambar mulai dari angka 1, 2, 3, 4, 5.

Langkah 3 : Setelah baris pertama selesai, lanjutkan menggambar lingkaran pada baris berikutnya, mulai dari angka 1 lagi, sambil menghitug jumlahnya (6, 7, 8....). Gambar lingkaran berhenti ketika sudah mencapai jumlah 20.

Langkah 4 : Hitung jumlah barisnya (dari atas ke bawah ada berapa lingkaran) ada 4 baris, itulah hasilnya. Jadi hasil 20 : 5 = 4

1  2 3 4 5

 •  •  •  •  •

 •  •  •  •  •

 •  •  •  •  •

 •  •  •  •  •

Jika anak sudah menguasai tahap ini, maka sudah bisa mulai diajarkan ke tahap berikutnya.

Tahap 2

Mengajarkan konsep pembagian kepada anak yang bisa menguasai / hapal perkalian (1 s/d 10)

Pada tahap ini anak seharusnya telah memahami apa yang dimaksud pembagian. Untuk mempercepat proses perhitungan, sebaiknya anak diminta untuk menghafal operasi pembagian sampai bilangan 100. Proses ini akan jauh lebih mudah jika anak sudah hapal perkalian (1 s/d 10).

Jika belum hapal perkalian sampai 1 s/d 10 tidak masalah, tetap bisa diajarkan pembagian tahap 2, tapi mungkin lebih lama proses nya. Disini kita fokus pada pembagian bilangan 100 kebawah dengan bilangan pembagi dan hasil baginya adalah 1 s/d 10.

Kenapa ini perlu dihapal ?

Karena ini merupakan dasar dari proses pembagian dengan bilangan yang lebih besar, atau pecahan desimal.

Tahap ini dibagi menjadi 3 bagian :

a. Pembagian bilangan 25 kebawah

- Pertama diajarkan pembagian bilangan yg habis dibagi 5

25 : 5 = 5

20 : 5 = 4

15 : 5 = 3

10 : 5 = 2

5 : 5 = 1

Kalau anak kesulitan menghapal nya, bisa dibantu dengan menuliskan perkaliannya dulu, kemudian angka pembaginya ditutup, angka yang terlihat adalah hasil baginya.

4 x 5 = 20; kalau 20 : 5 maka pada operasi perkalian angka 5 nya kita tutup, jadi hasilnya adalah angka yang satunya (yg terlihat) yaitu 4.

Jika sudah lancar bisa dilanjutkan

24 : 4 = 6

20 : 4 = 5

16 : 4 = 4

12 : 4 = 3

8 : 4 = 2

4 : 4 = 1

24 : 3 = 8

21 : 3 = 7

18 : 3 = 6

15 : 3 = 5

12 : 3 = 4

9 : 3 = 3

6 : 3 = 2

3 : 3 = 1

20 : 2 = 10

18 : 2 = 9

16 : 2 = 8

14 : 2 = 7

12 : 2 = 6

10 : 2 = 5

8 : 2 = 4

6 : 2 = 3

4 : 2 = 2

2 : 2 = 1

b. Pembagian bilangan 50 kebawah

49 : 7 = 7

42 : 7 = 6

35 : 7 = 5

28 : 7 = 4

21 : 7 = 3

14 : 7 = 2

7 : 7 = 1

48 : 6 = 8

42 : 6 = 7

36 : 6 = 6

30 : 6 = 5

24 : 6 = 4

18 : 6 = 3

12 : 6 = 2

6 : 6 = 1

50 : 5 = 10

45 : 5 = 9

40 : 5 = 8

35 : 5 = 7

30 : 5 = 6

40 : 4 = 10

36 : 4 = 9

32 : 4 = 8

28 : 4 = 7

30 : 3 = 10

27 : 3 = 9

c. Pembagian bilangan 100 kebawah

100 : 10 = 10

90 : 10 = 9

80 : 10 = 8

70 : 10 = 7

60 : 10 = 6

50 : 10 = 5

40 : 10 = 4

30 : 10 = 3

20 : 10 = 2

10 : 10 = 1

(Bagian ini biasanya anak cepat hapal)

90 : 9 = 10

81 : 9 = 9

72 : 9 = 8

63 : 9 = 7

54 : 9 = 6

45 : 9 = 5

36 : 9 = 4

27 : 9 = 3

18 : 9 = 2

9 : 9 = 1

(Untuk bagian ini tips nya, hasil baginya adalah angka depan +1)

80 : 8 = 10

72 : 8 = 9

64 : 8 = 8

56 : 8 = 7

48 : 8 = 6

40 : 8 = 5

32 : 8 = 4

24 : 8 = 3

16 : 8 = 2

8 : 8 = 1

(Untuk bagian ini tips nya, jika diatas 40 hasil baginya adalah angka depan +2, untuk bilangan 40 kebawah hasil baginya adalah angka depan +1)

70 : 7 = 10

63 : 7 = 9

56 : 7 = 8

60 : 6 = 10

54 : 6 = 9

Jika masih kesulitan menghapal bisa menggunakan bantuan perkalian atau kembali menggunakan cara tahap 1 (metode menggunakan gambar)

Tahap 3

Mengajarkan konsep sisa, yaitu tidak semua bilangan habis dibagi.

Setelah menguasai pembagian bilangan dibawah 100, tahap selajutnya adalah mengenalkan bahwa tidak semua bilangan habis dibagi.

Tahap ini bisa mulai dikenalkan setelah anak bisa menghapal pembagian bilangan 50 kebawah, kemudian diajarkan sambil proses anak menghapal pembagian 100 kebawah.

Untuk mengenalkan konsep sisa bisa dengan cara tahap 1 (metode menggunakan gambar), dengan contoh bilangan yg kecil saja ( 25 kebawah ), misal 10 : 3

1  2 3

 •  •  3

 •  •  6

 •  •  9

 •

Setelah digambar ternyata yang baris terakhir tidak semua dapat lingkaran, ada sisa 1 lingkaran di baris paling bawah, artinya 10 : 3 itu hasilnya 3 sisa 1.

Disini kita belum perlu mengenalkan bentuk pecahan atau desimal, cukup menentukan hasilnya berapa sisa berapa.

Contoh lain , 15 : 4

1  2 3 4

 •  •  •  4

 •  •  •  8

 •  •  •  12

 •  •  •

Hasilnya adalah 3 sisa 3.

Tahap ini mungkin tidak butuh waktu terlalu lama untuk menjelaskan kepada anak, cukup anak tahu konsepnya. Karena pada tahapan selanjutnya anak akan sering menggunakan konsep ini, jadi dengan sendirinya anak akan terlatih dan terbiasa menggunakannya

Tahap 4

Mengajarkan metode pembagian bersusun (porogapit).

Metode pembagian yang umum dipakai adalah metode pembagian bersusun (porogapit). Mengajari metode pembagian bersusun kepada anak membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang lebih serta trik-trik yang memudahkan anak untuk memahaminya.

Bisa jadi kita merasa sudah menjelaskan dengan terang benderang langkah-langkah metode pembagian bersusun kepada anak, tetapi anak tidak paham-paham malah tambah bingung. Akhirnya kita pun ikut bingung memikirkan cara apalagi yang bisa digunakan untuk bisa membuat anak paham.

Memang, bagi anak yang baru belajar pembagian metode ini terasa cukup rumit, ada beberapa langkah-langkah yang harus dihapal dan dipahami. Apalagi jika anak tidak hapal perkalian (1 s/10), pasti jadi tambah rumit. Tapi bukan berarti anak yang tidak hapal perkalian (1 s/d 10) tidak bisa mengerjakan metode pembagian bersusun.

Mari kita mulai mengupas langkah-langkah mengajarkan pembagian bersusun. Di daerah saya, pembagian susun biasanya disebut porogapit.

Berikut contoh pembagian dengan porogapit


Akhir kata

Demikianlah tahapan cara mengajari anak pembagian, cara mengajari anak pembagian kelas 2 sd, CARA MENGAJARI ANAK PEMBAGIAN, semoga bermanfaat ya.