Widget HTML Atas

Pengalaman Ke Rumah Sakit Ahli Tulang RS Karima Utama Surakarta

Selasa pagi, 25 Februari 2020, Ibu mertua saya mengalami kecelakaan kecil. Ibu jatuh dari sepeda sewaktu hendak berangkat bekerja, yang mengakibatkan patah pergelangan tangan kirinya. Oleh adik saya, dan juga atas saran dari beberapa orang tetangga, sebaiknya Ibu menjalani operasi di Rumah Sakit Karima Utama Surakarta.

Rumah Sakit Karima Utama terletak di Ds Ngabean Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah sakit ini sudah terkenal sebagai rumah sakit ahli tulang. Rumah sakit ini didirikan oleh (alm) Dokter Tunjung, dan kini kabarnya diteruskan atau dikelola oleh putera-puteranya.

Meski sempat menolak, pada akhirnya Ibu berkenan untuk berobat dan menjalani operasi di RS Karima Utama. Sebelumnya, Ibu lebih memilih untuk menjalani perawatan dan pengobatan di sangkal putung Kudus atau Jepara. Jadilah pagi menjelang siang itu juga, dengan ditemani adik saya, beliau bertolak dari Kudus ke Solo.


Baca JugaPengalaman Menambal GIGI di Puskesmas


Ketika mendengar kabar kurang mengenakkan tersebut, saya sendiri sedang mengajar. Saat itu juga saya memutuskan untuk pulang ke Ambarawa, lalu bersama istri dan kedua anak saya, kami meluncur ke Solo untuk turut menemani proses operasi Ibu.

Kami tiba di RS Karima Utama menjelang zuhur. Kami tiba lebih dahulu daripada Ibu, yang pada saat itu baru sampai di Gemolong, Sragen. Ibu dan adik datang lebih kurang pukul 13.00.

Ibu langsung masuk ke IGD. Istri saya masuk menemani dan mengurus segala administrasi dan keperluan. Adapun kedua anak saya, yang dua-duanya tidak bisa memasuki rumah sakit karena masih berusia di bawah 12 tahun, ikut dengan saya.

Saya mengajak mereka menunggu di musola, sambil menunggu hujan mereda. Rencana kami, nanti malam ketika Ibu menjalani operasi, anak-anak akan menginap di rumah adik saya di Gumpang, Sukoharjo.



Sementara itu, kabar yang kami dapatkan, Ibu mendapatkan jadwal untuk menjalani operasi kira-kira pukul 10.00 malam. Maka dari itu, 8 jam sebelumnya, yaitu pukul dua siang, Ibu harus mulai berpuasa tidak makan dan tidak minum sebelum menjalani operasi.

Kami menunggu waktu operasi dengan perasaan yang tidak menentu. Kami berusaha menata hati. Semua adalah musibah yang telah digariskan oleh-Nya. Kami mesti ikhlas menerima takdir ini. Tidak ada guna menyesali segala yang telah terjadi tersebut.

Pelipur lara kami adalah, di tengah musibah tersebut, kami masih juga merasa "untung", "bejo", dan "bersyukur" karena "untung hanya patah pergelangan tangan" saja. Saya sempat kalut, memang, ketika mendapat telepon dari istri saya mengabarkan "kecelakaan" yang dialami oleh Ibu. Bayangan yang ada di benak saya, sudah buruk.

Kembali ke proses operasi, Ibu baru memasuki ruang operasi menjelang tengah malam. Kira-kira pukul dua belas malam, sedikit molor dari perkiraan awal yang kami terima yaitu pukul 10 malam.

Ibu sudah siap dengan pakaian operasi ketika perawat datang ke kamar kami, dan mengantarnya ke ruang operasi. Saya dan adik saya, menunggu di luar dengan menahan kantuk yang luar biasa.

Satu setengah jam, kira-kira, Ibu menjalani operasi. Setelah operasi, perawat mengatakan kepada kami, bahwa Ibu baru boleh makan paling tidak satu jam setelah proses operasi.

Kira-kira pukul 08.00 pagi, Ibu sudah bisa pulang, meninggalkan rumah sakit. Oya, berapa biaya operasi patah tulang di RS Karima Utama? Keseluruhan biaya mulai dari rontgen, kamar, biaya operasi, pasang pen, dan juga obat, adalah sekitar 8 juta rupiah. Saya pikir, besaran biaya adalah tergantung dari penanganan yang diberikan.

Tapi kita bisa gunakan Layanan BPJS Kesehatan untuk menanggung semua biaya tersebut.

Sebelum pulang, kami menandatangani reservasi antrean untuk kontrol kesehatan tanggal 11 Maret 2020.

Kami berdoa, semoga Ibu lekaslah diberikan kesembuhan, pulih seperti sedia kala. Amin.