[Kegiatan Literasi Sekolah Dasar] Berlatih Membuat Kalimat Seperti AS Laksana

Kegiatan literasi sekolah dasar Labschool Unnes di kelas 3A pagi ini adalah berlatih membuat kalimat.

Kegiatan literasi di sekolah kami secara rutin dilaksanakan setiap Rabu pagi. Biasanya kami membaca buku cerita. Masing-masing siswa membaca buku cerita mereka sendiri. Bila masih ada waktu, saya minta satu atau dua orang siswa maju ke depan untuk menceritakan kembali apa yang telah dibaca. Berlatih menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri.

Baca: Gibran dan Aila Membacakan Cerita Dua Bahasa (kegiatan literasi di sekolah dasar)

[Aiko membaca cerita di depan kelas]


Untuk pagi ini, selain anak-anak membaca seperti biasa, saya ingin pula mengajak mereka untuk berlatih membuat kalimat. Kebetulan saya baru saja membaca blog Pak AS Laksana, sastrawan kondang dari Semarang.

Anda bisa membaca blognya yang isinya sangat bagus untuk kita baca, yaitu kunyit101.blogspot.com.

Saya membaca tulisan beliau tentang "Berlatih Membuat Kalimat" yang tautannya dibagikan di laman facebook beliau. Dalam tulisan tersebut, kita belajar membuat kalimat dengan menjawab beberapa pertanyaan, yaitu:


  • Apa yang sedang kamu lakukan?
  • Kapan?
  • Dimana?
  • Ada kejadian apa pada saat yang sama?
Nah, latihan membuat kalimat tersebut saya praktikkan bersama anak-anak pagi ini.


Berlatih Membuat Kalimat Seperti AS Laksana


Saya mengawali kegiatan itu dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada anak-anak.

"Anak-anak, apakah kalian bisa membuat sebuah kalimat?"

Anak-anak mengangkat tangan. "Saya, Pak!" teriak mereka.

"Baik. Saya ingin mendengar kalimat dari Mas Gilang," kata saya sambil menunjuk Gilang.

Gilang mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian saya tulis di papan tulis. Kalimat Gilang seperti ini:

Lani membeli sepotong kue untuk Ibu.

"Tepuk tangan! Bagus sekali!" 

Lalu saya menjelaskan kepada anak-anak, bahwa kalimat milik Gilang itu bisa ditambahi lagi dengan keterangan tempat.

"Anak-anak, perhatikan kalimat Mas Gilang! Kita bisa melengkapi kalimat itu dengan menjawab pertanyaan 'di mana' peristiwa itu terjadi?"

Amel mengangkat tangan. Kemudian saya persilakan Amel untuk meneruskan kalimat Gilang, sehingga menjadi seperti ini:

Lani membeli sepotong kue untuk Ibu di warung.

"Bagus sekali, Mbak Amel! Mbak Amel telah menambahi keterangan tempat pada kalimat Mas Gilang. Sekarang siapa yang ingin menambahinya dengan keterangan waktu? Dengan cara menjawab pertanyaan 'kapan' peristiwa itu terjadi?"

Anak-anak mengangkat tangannya, menunggu untuk ditunjuk dan dipersilakan menjawab.

"Coba bagaimana kalimatmu, Mas Gibran?"

Gibran menjawab:

Lani membeli sepotong kue untuk Ibu di warung pada pukul 01.30.

Anak-anak tertawa. Mana ada warung yang buka pada dini hari begitu? Lagipula, Lani adalah anak perempuan usia SD. Mungkinkah dia dapat izin untuk keluar malam-malam begitu?

"Ya siapa tahu Ibu Lani sedang sakit dan warung tempat dia membeli roti itu dekat dengan rumahnya."

Sekarang kita sampai pada pertanyaan ke-empat pada metode latihan yang dicontohkan AS Laksana tadi, yaitu "Ada kejadian apa yang berlangsung pada saat yang sama?"

"Anak-anak, coba bayangkan. Ketika Lani sedang keluar malam itu, bisa saja Mbak Feli sedang pulas-pulasnya tertidur, bisa saja Mbak Zahira sedang terbangun untuk pergi ke kamar mandi, Mas Belva justru belum tidur karena harus menyelesaikan PR-nya, dan Mbak Jihan mungkin juga sudah terbangun dari tidurnya karena hendak sholat tahajud kaaaan?" kata saya.

Pertanyaan saya itu malah disambut dengan cie-ciee, karena Belva menepuk dadanya sendiri, seolah menunjukkan ini lho saya belum tidur karena saya anak rajin mengerjakan PR. hihihi.

"Baik. Jadi dalam kalimat tadi pun, kita masih bisa melengkapinya dengan menambahkan 'ada kejadian apa pada saat Lani beli roti' tadi?" kata saya menjelaskan.

Belva kemudian mengangkat tangan dan mencoba melengkapi kalimat tadi seperti ini:


Lani membeli sepotong kue untuk Ibu di warung pada pukul 01.30. Pada saat itu rumah di sebelah warung kebakaran.

Sampai di sini, anak-anak kelihatannya cukup paham dan senang. Sebab, mereka secara lisan bisa membuat kalimat yang aneh-aneh, yang kemudian disambut gelak tawa teman-temannya.

Kalimat-kalimat "celemongan" itu misalnya:

Lani sedang membeli septong kue untuk Ibu di warung pada pukul 01.30 ketika tiba-tiba sesosok pocong meloncat-loncat.

Hahaha!

Kini saatnya berlatih. Saya bagikan kepada anak-anak masing-masing selembar kertas. Sembari mereka menulis nama di kertas itu, saya sempat menulis satu kalimat di papan tulis.

  • Yang sedang saya lakukan = Saya bermain gitar.
  • Kapan = kemarin sore
  • Di mana = di teras rumah
  • Kejadian yang sama = seekor kodok datang sambil membawa seruling
Saya sedang main gitar di teras rumah kemarin sore ketika tiba-tiba seekor kodok datang sambil membawa seruling.

Daniel mengangkat tangan. "Pak, masak seekor kodok bisa membawa seruling?"

"Yes!" batin saya, karena saya ingin mengajak anak-anak untuk membebaskan imajinasi.

"Yaaa, kalau di dalam kehidupan sehari-hari, memang tidak ada kodok yang bisa membawa seruling. Tapi bisa saja kaaan saya membuat kalimat seperti itu? Terutama kalau saya sedang menulis cerita apa...?" saya memancing mereka dengan pertanyaan.

"Menulis fiksi!"
"Ya, betul. Menulis cerita apa?"
"Dongeng!"
"Apa tepatnya? Cerita yang ada tokoh binatangnya?"
Fesie pun menjawab, "Aku tahu! Cerita fabel!"

Saya tersenyum. Mari kita mulai. Dan seperti inilah hasil coretan anak-anak. Selamat membaca!


Hasil Latihan Menulis Siswa


Kalimat Oryza

1. Aku sedang menikmati suasana tenang di luar saat malam hari ketika tiba-tiba kucing-kucingku datang di sebelahku karena mereka takut hujan.

2. Aku sedang mengisi makanan kucingku sore itu di gudang saat tiba-tiba kucingku mengelus.


Feli: 
Saya sedang bermain game dengan Kak Roselle tadi malam di rumah ketika tikus masuk rumahku. Ayahku melawannya dan tikus itu pun pergi.

Ernandis:
Aku sedang bermain boneka kemarin hari Sabtu di rumah ketika tak kusangka adikku terjatuh.

Tabina:
Saya sedang mencuci mobil bersama ayah dan adik tadi siang di teras rumah ketika tiba-tiba muncul seorang pengemis. Lalu saya kasih uang.

Fesie:
Saya sedang belajar kemarin malam di ruang keluarga ketika tiba-tiba hujan yang sangat deras pun datang sampai pohon yang ada di depan rumahku tumbang.

Daniel:
Saya sedang makan di malam hari waktu ada seorang pencuri sepeda tertangkap. Seterusnya setelah makan aku tidur.

Gilang:
Suatu hari aku bermain layangan di lapangan ketika tanpa kusadari ada Mak Beti lepas dari Rumah Sakit Jiwa. Aku dan teman-temanku takut dan lari! Aku tolong temanku yang jatuh.

Gibran:
Saya sedang bermain bola dengan teman-teman pada sore hari Sabtu. Ketika itu ada seorang bapak bapak menyuruh kami segera pulang.

Amel:
Aku sedang bermain sepeda bersama adikku hari Sabtu sore jam 14.30 di halaman rumahku. Pada saat itu aku melihat kucing jantan dan betina bergandengan tangan yang membuatku langsung ketawa.

Rama:
Aku berulang tahun kemarin Juli tanggal 22 di rumah. Ada seorang temanku datang membawa balon.

Jihan:
Saya sedang bermain sepeda Minggu kemarin pagi di teras rumah ketika adikku datang ingin bermain bermain sepeda bersamaku.

Putik:
Saya sedang bermain boneka tadi sore di kamar ketika itu seekor kucing datang membawa ikan.

Zahira:
Saya sedang main kejar-kejaran di depan rumahku kemarin sore ketika aku lari temanku jatuh dan menangis.

Aiko:
Saya sedang bermain bersama Kak Vian tadi siang di Taman Toga ketika ada kejadian aneh. Aku melihat seseorang terus-menerus memperhatikan aku dan Kak Vian yang sedang asyik bermain.

Saffira:
Saya sedang bermain dengan adek jam lima sore. Aku melihat adikku terjatuh dan segera menolongnya.

Sabrina:
Saya sedang main di taman bersama adikku. Sorenya aku bermain bersama kakak. Ketika itu aku melihat nenek-nenek yang kasihan sekali aku melihatnya.

Aila;
Saya sedang serius belajar di sekolah tadi siang ketika temanku ada yang ribut minta cepat istirahat.

Belva:
Aku sedang membelikan ibu obat di warung ketika tiba-tiba warung itu kebakaran.

Delapan belas kalimat dari anak-anak pagi ini membuatku tertawa. Sebenarnya murid di kelas kami ada 20. Sejak kemarin dua anak tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Mereka adalah Darren dan Schatzi. 

Lekaslah sembuh Mas Darren dan Mbak Schatzi, kita belajar dan bercanda bersama di kelas.

[]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel