Komputer Lawas

Kemarin saya ke Karangjati. Kami pergi ke tempat Bulik, silaturahmi sekaligus nengok Amara yang baru saja opname.

Alhamdulillah sekarang sudah sehat. Pekan lalu kami dengar kabar bahwa Amara (putri ke dua bulik saya itu) harus mondok di Puskesmas Karangjati lantaran sakit DB (demam berdarah). 

Kami belum sempat mampir. Padahal saya sendiri setiap hari melaju dari Ambarawa - Semarang, tentu lewat juga di Karangjati Bergas. Jadilah kemarin siang itu, kami baru bisa menyempatkan diri ke sana. Ternyata, bukan sakit DB. Kata bulik, Amara sakitnya tipes.

Kami sampai di Karangjati kira-kira pukul 10.30. Semua sedang berada di rumah, alhamdulillah. 

"Prei to, Bulik?" tanya saya.
"Iyo, to yo. Minggu-minggu kok mangkat kerjo," begitu jawab Bulik saya.

Tak lama, Rifai--adik saya--datang bersama keluarga. Lengkaplah.


KOMPUTER LAWAS

Kami lalu mengobrol santai. Sementara itu Ilyas, anak saya, pandangan mata dia tertuju pada komputer di ruang tamu yang saat kami datang masih dalam keadaan OFF. 

Oya, Paklik saya memang membuka usaha sablon dan desain di rumahnya. Anda yang berdomisili di sekitar Karangjati, bisa order sablon, kaos, undangan, dan lain-lain ke Paklik saya. Usahanya dinamakan Alia Sablon.

"Pak, mainan komputer. Ketik huruf-huruf dan angka-angka," kata Ilyas.

"Matur sama bulik Fida," kata saya.

Begitu komputer dinayalakan, Ilyas lalu mengetik namanya sendiri, kemudian nama adik-adiknya. Seperti yang kita lihat pada foto di bawah ini.

Ilyas belajar mengetik namanya sendiri
Saya tidak menyia-nyiakan moment tersebut. Saya ambil fotonya, lalu saya unggah di akun Instagram dan facebook saya.

Saya kasih keterangan: "Ngetik trus kirim ke KOMPAS. Hehehe."

Tanggapan yang muncul di kolom komentar pun beragam.

Beberapa kawan saya di kampus memberikan komentar, seolah-olah saya sedang menulis artikel atau mungkin cerita fiksi lalu mengirimnya ke media cetak, aktivitas yang dulu pernah saya lakukan namun sekarang tidak lagi. hihihi.

Padahal saya cuma mau nggaya doang... Lha wong tulisan saya nggak pernah sekali pun dimuat di KOMPAS. wkwkwk.



Tanggapan lain adalah tentu saja pada komputer yang "jadul" itu.

Pak Tri, kawan saya di Penulis Ambarawa, bahkan menulis, bahwa komputer itu masih "salaf" sama seperti yang beliau pakai untuk menulis di rumah hingga sekarang.

Sementara itu Bang Ato Sugianto, berkomentar bahwa komputer tersebut mengingatkan pada komputer kami di Komplek Joglo, "kawah candradimuka" bagi kami semasa berkegiatan di BP2M Unnes. BP2M adalah Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa alias pers kampus Unnes.

BACA JUGA: Bagaimana Membuat Majalah Sekolah?

Saya sendiri mengiyakan komentar Mas Ato tersebut.

Diam-diam saya sebenarnya punya keinginan untuk memiliki ruang kerja di rumah dengan satu set komputer meja seperti yang ada di ruang kerja Paklik saya tersebut.

2 Responses to "Komputer Lawas"

  1. wuih jadi seru dan banyak hikmah yang didapatkan gegara silaturahmi menengok bulenya yah....mantaB deh

    BalasHapus
  2. Mang Lembu: iya Mas. itu manfaat yang kelihatan yaaa... baru manfaat yang tak terlihat diantaranya memperpanjang umur, hehe..

    Trims

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel