[Book Review] Uncle Tom’s Cabin (Pondok Paman Tom) ~ Harriet Beecher Stowe

Judul Buku: Uncle Tom’s Cabin (Pondok Paman Tom)
Penulis: Harriet Beecher Stowe
Diceritakan kembali oleh: Brett Thomas
Alih Bahasa: Olenka Munif
Penerbit: Narasi, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2007 (Cetakan Pertama)
Tebal Buku: 156 Halaman


[Book Review] Uncle Tom’s Cabin (Pondok Paman Tom) ~ Harriet Beecher Stowe

Dua tahun setelah Tom meninggalkan Kentucky, persahabatannya dengan Eva semakin erat. Ketika Eva beranjak besar, ia mulai dapat membaca dengan lancar dan ia membacakan Injil pada Tom. 

Pada awalnya ia hanya membaca untuk menyenangkan Tom, namun dengan waktu berlalu, ia mulai melihat cerita itu dengan cara yang lebih pribadi dan ia membacanya dengan penuh perasaan dan imajinasi.

Tom sering terhanyut dalam pembacaan yang dilakukan Eva. Eva pun demikian, sering berhenti membaca kemudian melihat ke luar jendela atau langit.
“Paman Tom, aku akan pergi ke sana,” ia berkata pada suatu hari.
“Ke mana, Nona Eva?”
“Ke atas sana,” ia berkata, berdiri seraya menunjuk ke arah langit. “Ke surga. Aku akan pergi ke sana, Paman Tom.”

Tom melihat bagaimana cahaya matahari menyinari rambutnya yang keemasan dan lembut. Tom merasa sangat sedih … Evanya yang tercinta, sedang sekarat.

***

Tom adalah budak kulit hitam dalam tulisan karya Harriet Beecher Stowe. Ketika akhirnya Uncle Tom’s Cabin diterbitkan, buku ini mendapat sukses besar, dan kemudian berhasil menjadi novel paling laris pada abad kesembilan belas.

Buku ini dibaca oleh para politisi, dan Presiden Lincoln suatu kali pernah mengatakan bahwa tulisan Stowe menrupakan salah satu penyebab terjadinya perang saudara Amerika (1861 – 1865). 

Buku ini juga banyak mendapat kritik oleh orang-orang dengan berbagai macam alasan, terutama oleh mereka yang setuju dengan perbudakan.

Sekilas tentang Penulis

Harriet Beecher Stowe (1811 – 1896) dilahirkan di Connecticut, sebagai anggota termuda dari enam orang saudara laki-laki dan empat orang saudara perempuan. Ayahnya adalah seorang pendeta terkenal dan semua saudaranya sangat tertarik pada keagamaan.

Amerika, di mana Stowe dilahirkan, sangat berbeda dengan negara yang kita kenal sekarang. Pada saat itu banyak pembedaan antara Utara dan Selatan, isu paling penting adalah masalah perbudakan.

BACA JUGAWinnetou I, Old Shatterhand: The Wild West Journey Karya Karl May

Semoga Bermanfaat bagi para pecinta bukuu..!
close