Sinopsis Novel Kartu Anak Nakal, by Hwang Sun Mi (K-Novel)

Judul Buku : Kartu Anak Nakal
Judul Asli : Nappeun Orini Pyo (The Bad Kids Stickers)
Penulis : Hwang Sun Mi
Ilustrasi : Kwon Sa-woo
Penerjemah : Siti Hasanah
Penyunting : Huda Wahid
Penerbit : DAR! Mizan, Bandung
Tahun terbit : Cetakan 1, Maret 2014

Sampai sekarang, aku belum pernah berpikir aku anak nakal. Tetapi aku tak tahu mengapa aku sering menerima kartu anak nakal. Karena itu, saat belajar kuletakkan buku catatanku lalu aku mencoba menggambar Bu Guru dengan wajah marah. Jika aku punya stiker warna kuning, aku juga ingin memberikan pada Bu Guru. Karena aku bukan anak nakal."




Lee Gun Woo, tokoh utama dalam cerita ini, adalah anak yang sudah (terlanjur?) mendapat predikat anak nakal. Kejadian demi kejadian di dalam kelas, atau lebih tepatnya kesialan, itulah yang membuatnya mendapat predikat tersebut. Padahal sebenarnya dia tidak berniat berbuat kenakalan. Pot yang hancur berkeping-keping karena tersenggol oleh Gun Woo adalah salah satu kesialan tersebut. Gun Woo sendiri tidak habis pikir, mengapa seolah-olah hanya dialah satu-satunya tersangka, padahal seseorang telah mendorongnya dari belakang. Mengapa semua hanya terdiam dan tidak ada yang mau menjelaskan kejadian yang sebenarya ketika Ibu Guru datang? Mau tidak mau Gun Woo pun harus menerima kartu anak nakal berwarna kuning dari Ibu Guru untuk pertama kalinya.

Penyebab Gun Woo harus menerima kartu anak nakal untuk kedua kalinya, juga tidak bisa jelas dimengerti oleh Gun Woo. Hal itu terjadi pada jam kegiatan khusus, ketika dia bermain badminton. Gun Woo pergi keluar kelas dan memasuki lapangan olahraga. Ketika sedang membersihkan tangan di wastafel, tiba-tiba terdengar suara bel masuk. Setelah menyimpan sepatu di rak dan hendak kembali ke kelas, suara bel ternyata telah berhenti dan pintu kelas sudah ditutup. Gun Woo terlambat masuk kelas meskipun dia sudah berusaha keras agar dirinya tidak terlambat. Namun, siapa yang mau mendengar penjelasannya? Semuanya tidak berguna.

Hari-hari berikutnya, Gun Woo telah bertekad untuk tidak lagi menerima kartu anak nakal. Meskipun begitu, entah mengapa dia merasa tidak yakin bahwa dia tidak akan lagi menerima kartu nakal itu! Pergi ke sekolah menjadi begitu menakutkan bagi Gun Woo. Bahkan dia berpikir bahwa Ibu Guru membenci dirinya. Namanya di dalam daftar anak nakal yang ditandai dengan stiker kuning tertempel di depan kelas, juga semakin panjang saja. 

Gun Woo kembali mendapat kartu karena mengumpat di dalam kamar mandi. Dia mengumpat karena marah. Marahnya bukan karena memang dia pemarah, tapi dia marah atas ketidakadilan yang menimpanya. Tapi bagaimana mungkin Ibu Guru tahu bahwa dia mengumpat, padahal dia mengumpat di kamar mandi laki-laki, sementara Ibu Guru tidak mungkin masuk ke kamar mandi laki-laki. Tahu-tahu Ibu Guru memanggilnya. Bahkan ketika dia membantah bahwa dia tidak mengumpat, hal itu dianggap bohong, sehingga dia harus menerima satu lagi kartu tambahan.

Atas perlakuan terhadap dirinya yang dianggapnya tidak adil, Gun Woo kemudian menulis sesuatu di buku catatannya: Kartu Guru Jahat! Dia menuliskan daftar "kesalahan-kesalahan" Ibu Guru, misalnya: Kartu Guru Jahat Satu tidak memberi kartu anak nakal pada murid yang mengadu, Kartu Guru Jahat Dua Ji Yeon yang pertama memulai perkelahian, Kartu Guru Jahat Lima Ibu Guru tidak ramah, dan seterusnya.

Sialnya, Eun Ji, anak perempuan yang menurut Gun Woo sangat menarik dan menyenangkan, juga tidak luput untuk berurusan dengan Gun Woo. Secara tidak sengaja Gun Woo menjatuhkan tempat pensil Eun Ji dan hal itu membuat Eun Ji menjerit dan marah padanya. Pertengkaran mulut pun terjadi antara Eun Ji dan Gun Woo, dan pada akhirnya Eun Ji terjatuh karena dorongan kecil Gun Woo. Akibatnya, daftar kesalahan Gun Woo pun semakin panjang saja.

Meskipun dia telah menerima banyak sekali kartu anak nakal, tetapi Gun Woo masih menyimpan keinginannya untuk membenahi dirinya. Dia tidak ingin terus menerus menerima kartu anak nakal, dan lebih dari itu, dia ingin berprestasi. Kesempatan itu datang ketika Ibu Guru menawarkan pada murid-murid untuk mengikuti Kompetisi Science. Sambil mengacungkan tangan, Gun Woo dengan lantang berkata bahwa dia akan ikut lomba Science bersama Lee Kyung Shik dan Jang Yo Han.Untungnya, Ibu Guru tidak menghalanginya. Bagi Gun Woo, inilah saatnya membuktikan bahwa dirinya pun anak yang pandai dan berbakat.

Namun keikutsertaan Gun Woo dalam kompetisi sains itu bukan tanpa kendala. Gun Woo tidak memiliki kotak sains, yaitu kotak yang isinya peralatan untuk merakit berserta bahan-bahan rakitannya, seperti peralatan membuat kereta api, dan lain-lain. Ibunya menolak untuk membelikannya dengan alasan kompetisi tersebut tidak mewajibkan peserta menggunakan kotak sains, dan justru ibu mengatakan bahwa pasti akan hebat kalau semua benda yang digunakan Gun Woo adalah hasil buatan sendiri! Ibu telah memutuskan untuk tidak membelikan kotak sains.

Gun Woo hampir menyerah tentang kompetisi sains yang memiliki arti sangat penting bagi Gun Woo. Itulah kesempatan baginya untuk menunjukkan kemampuannya pada Ibu Guru dan sekaligus agar bisa lebih akrab dengan Ibu Guru! Untung saja, Ayah bersedia membelikan kotak sains untuk Gun Woo,meskipun dengan harga yang membuat uang saku Ayah seminggu habis! Gun Woo pun merasa gembira sekaligus merasa sangat bersalah kepada Ayah. Untuk sedikit meringankan beban di hatinya, Gun Woo pun berusaha keras mengelap/menyemir sepatu Ayah hingga mengkilap setiap hari sebelum Ayah berangkat kerja, dan dia bertekad akan memberikan hasil yang terbaik pada kompetisi sains.

Hari pembuktian pun tiba, hari Kompetisi Science! Gun Woo merasa bahagia karena hari itu dia akan mengikuti lomba sains. Selain itu, kebahagiaannya itu tambah lengkap karena dia pergi ke sekolah dengan kotak science yang dibelikan ayahnya, dengan obeng betulan yang sangat berbeda dengan "obeng mainan" milik Kyung Shik dan Yo Han! Dia juga memperlihatkan kepada teman-teman, betapa mahirnya Gun Woo menggunakan alat itu!

Sayangnya, sebelum kompetisi dimulai, lagi-lagi terjadi insiden pertengkaran antara Gun Woo dan Lee Kyung Shik. Hal itu bermula ketika Kyung Shik menghalangi Gun Woo yang ingin meminjam penyerut pensil miliknya. "Jangan sentuh! Ini mahal, tahu!" Betapa sedihnya Gun Woo karena dia kembali harus mendapat hukuman dari Bu Guru. Lebih menyedihkan lagi, obeng kesayangannya itu pun diambil! Saat itulah Gun Woo merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dia berjalan pulang ke rumah di tengah hujan deras yang mengguyur kota.

Akibat hujan-hujanan tersebut, hari berikutnya Gun Woo jatuh demam. Namun demikian, dia tetap berangkat ke sekolah karena Ibu akan berbicara dengan Ibu Guru. Di sekolah Gun Woo tidak ikut olahraga karena badannya panas, ingusan, dan batuk-batuk. Dia hanya melihat dari kejauhan teman-temannya yang sedang berolahraga. Saat itulah, dia melihat tumpukan/bundelan stiker di meja Ibu Guru. Entah apa yang dipikirkannya, Gun Woo memutuskan untuk mencuri bundelan stiker itu. Yang jelas, dia tentu tidak akan mendapat stiker itu lagi jika stiker anak nakal itu tidak ada lagi! Dia membuangnya ke dalam kloset dan mengunci dirinya di dalam kamar mandi. Ia bersembunyi nyaris selama empat jam karena takut dimarahi oleh Bu Guru.

Akhirnya, Ibu Guru mengetahui tempat persembunyiannya dan membawa Gun Woo ke kelas. Tidak disangka oleh Gun Woo, Ibu Guru ternyata justru menemukan buku catatan Gun Woo yang berisi daftar Kartu Guru Jahat yang ditulis oleh Gun Woo. Gun Woo sudah merasa bahwa hal itu akan berakibat dirinya pasti tidak akan bisa kembali lagi ke sekolah besok, karena pasti dia akan dikeluarkan. Namun rupanya Gun Woo salah. Ibu Guru malahan menyobek catatan Gun Woo dan menyimpannya di buku catatan Ibu Guru.

"Kartu anak nakal yang kaubawa dan kartu yang kauberikan padaku, itu jadi rahasia di antara kita saja. berkat kamu, ternyata mengajar anak-anak menjadi lebih sulit," begitulah kata Ibu Guru.

Pada akhirnya, Ibu Guru menjadi lebih dekat dengannya. Lebih lanjut, Ibu Guru meminta Gun Woo menjadi ketua kelas pada semester dua agar Gun Woo merasakan bagaimana rasanya memimpin kelas. Gun Woo semakin bangga ketika mengetahui bahwa ternyata Ibu Guru menggunakan obeng milik Gun Woo untuk membetulkan laci meja. Dan lagi, Ibu Guru memberi tahu bahwa guru science mengatakan karya Gun Woo berupa kereta uap sangat bagus.

Rasanya, belum pernah Gun Woo merasa sebahagia itu!

***

Baca juga!
[BOOK REVIEW] Kartu Anak Nakal ~ Hwang Sun Mi (RESENSI)
15 Quote Menarik dan Kata-Kata Mutiara dalam Novel Kartu Anak Nakal karya Hwang Sun Mi.
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
April 13, 2017 at 1:45 PM delete

Hasekkk udah bisa komen :D :D *Lebay :) Kan asik nggak usah masuk discuss segala, yg gaapktek kayak aku nggak mudeng :D
Hem... pernah kayak gitu kejadian sama anakku xixixi. Untung anaknya cuek, karena laki kali ye... Ya kadang sebagai emaknya sebel juga sih, tapi anak2 tetep harus menyelesaikan masalahnya sendiri :)
Btw btw, aku penisirin sama bukunya :)

Reply
avatar
April 13, 2017 at 8:41 PM delete

Betul, Mbak. Yang berat, dan mungkin lebih sering dijumpai, justru kalu anak tersebut tidak memiliki motivasti untuk merubah diri sendiri.

Oya, Terima kasih sudah mampir dan koment di sini, Mbak Wahyu Widyaningrum. :)

Smoga ada ksempatan untuk saling pinjem buku yaa... ehheheheh

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon