[Book Review] Kartu Anak Nakal ~ Hwang Sun Mi [K-Novel]

Judul Buku : Kartu Anak Nakal
Judul Asli : Nappeun Orini Pyo (The Bad Kids Stickers)
Penulis : Hwang Sun Mi
Ilustrasi : Kwon Sa-woo
Penerjemah : Siti Hasanah
Penyunting : Huda Wahid
Penerbit : DAR! Mizan, Bandung
Tahun terbit : Cetakan 1, Maret 2014




"Kartu anak nakal yang kaubawa dan kartu yang kauberikan padaku, itu jadi rahasia di antara kita saja. Berkat kamu, ternyata mengajar anak-anak menjadi lebih sulit." ~ Ibu Guru.

Ketika saya membaca judul buku ini dan lantas memutuskan untuk membeli buku ini, saya berharap akan menemukan inspirasi dari seorang guru dalam mendidik murid-muridnya di sekolah. Seperti ketika saya membaca kisah Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi) ~ Gadis Cilik di Jendela yang sangat beruntung menemukan sosok guru inspiratif dari seorang Mr. Kobayashi. Atau seperti yang saya lihat pada seorang Erin Gruwell yang kisahnya diangkat dalam sebuah film Freedom Writers dan diperankan oleh Hillary Swank.

Kartu Anak Nakal, apakah itu seperti suatu metode unik dan tepat diterapkan dalam pembelajaran bersama anak-anak, sebagaimana yang dilakukan oleh John Keating (diperankan oleh Robbie Williams) dalam Dead Poets Society?

Nyatanya tidak demikian. Alih-alih menemukan inspirasi dan keteladanan dari seorang guru dalam mendidik anak-anaknya, dalam novel ini sosok guru malah digambarkan "penuh dosa" dengan memberikan Kartu Anak Nakal secara semena-mena kepada siswa yang melakukan kesalahan, meskipun tidak semua pemberian kartu itu tidak tepat sasaran. Kartu Anak Nakal justru merupakan suatu metode yang kurang tepat untuk diterapkan oleh guru kepada anak didiknya di sekolah. 

Menurut saya, kartu anak nakal pada dasarnya merupakan sebuah penerapan reward and punishment, atau pemberian penghargaan kepada siswa yang rajin, baik, penurut, dan berprestasi, serta pemberian hukuman kepada siswa yang dianggap nakal, suka mengacau di dalam kelas, atau tidak tertib. Rupanya hal itu tidak selalu tepat, setidaknya ketidaktepatan tersebut dikisahkan dalam buku karangan Hwang Sun Mi ini. 

Mengajar merupakan suatu keterampilan. Ia memerlukan kecakapan, penguasaan materi yang baik, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran yang efektif, keluwesan, rasa peduli dan peka terhadap permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Dan itu ternyata tidak mudah. Apalagi mengajar anak-anak dengan segala keunikan dan latar belakang kehidupan keluarganya.

Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang siswa--bukan guru--bernama Gun Woo. Seorang anak yang cenderung aktif, percaya diri, berkemauan kuat, dan emosional. Dalam proses belajarnya di sekolah, dia mengalami persoalan cukup serius, yaitu dia dianggap sebagai siswa yang nakal oleh Ibu Guru. Hal itu diperkuat dengan, dialah siswa yang pertama kali menerima kartu anak nakal dari Ibu Guru. Hari-hari selanjutnya, daftar kenakalan yang diperbuatnya semakin panjang saja, dan semakin banyak pula kartu kuning sebagai tanda kartu anak nakal yang diterimanya.

Ya, setiap kali ada siswa yang melakukan kesalahan (atau kenakalan), Ibu Guru tidak pernah memukul atau memarahinya. Ibu Guru cukup menghukum murid-muridnya dengan cara memberinya kartu anak nakal dan tambahan tugas seperti mengerjakan soal matematika hingga sore hari.

Namun, ada satu hal yang tidak dilakukan oleh Ibu Guru Gun Woo, yaitu berusaha mengetahui duduk persoalan yang terjadi. Misalnya ketika pot bunga pecah karena tertubruk oleh tubuh Gun Woo, Ibu Guru langsung menimpakan kesalahan kepada Gun Woo dan tanpa kompromi memberikan kartu anak nakal kepada Gun Woo. Sebagai seorang guru, menurut saya hal ini kurang baik. Semestinya, paling tidak Ibu Guru bertanya kepada beberapa siswa yang ada di situ, sebagai saksi mata yang bisa memberinya informasi kronologis kejadian.

Guru yang baik bukanlah guru yang ditakuti, yang setiap perkataan dan keputusannya tidak boleh dan/atau tidak bisa dibantah. Justru sebaliknya, guru harus bisa membuka ruang dialog dengan siswa-siswinya. Komunikasi yang baik akan menimbulkan perasaan saling memahami dan sekaligus membangun kedekatan perasaan. Jika hal itu sudah tercapai, murid akan lebih mudah menemukan jalan keluar atas persoalannya. Sebaliknya, murid akan terus terbebani dengan berbagai persoalan yang menimpanya, tanpa ada yang bisa dimintai bantuan. Dia merasa sendirian.

Guru bukanlah malaikat yang nirkesalahan. Kesalahan pengambilan keputusan dan kebijakan oleh guru, terutama dalam memberi hukuman kepada siswa, akan menimbulkan efek perasaan yang buruk kepada siswa. Kesal, marah, dan lebih parah lagi adalah siswa akan merasakan ketidakadilan. Dia akan merasa tersingkirkan dari komunitasnya. "Bagaimana aku bisa belajar ketika aku merasa kesal dan diperlakukan tidak adil," begitulah kata Gun Woo.

Adalah sebuah keberuntungan bagi Ibu Guru memiliki murid seperti Gun Woo. Meskipun Gun Woo dicap sebagai anak nakal dan sering diperlakukan tidak adil, tetapi di lubuk hatinya yang terdalam Gun Woo menyimpan keinginan untuk tidak lagi melakukan "kesalahan" yang bisa menyebabkannya kembali menerima kartu anak nakal. Gun Woo juga masih menyimpan keinginan untuk bisa berprestasi dan bisa membanggakan dirinya sendiri, membanggakan Ibu Gurunya, sekolahnya, dan juga Ayah Ibunya. Gun Woo juga masih memendam keinginan untuk bisa lebih dekat dan akrab dengan Ibu Guru.

Dari sini saya sendiri tidak bisa membayangkan, apa jadinya seandainya siswa yang mendapat perlakuan seperti Gun Woo ini menyerah, tidak lagi memiliki semangat untuk berbuat baik karena toh hal itu pastinya tidak akan dianggap sebagai sesuatu yang hebat? Selanjutnya, siswa yang diperlakukan tidak adil itu akan masa bodoh pada masa depannya?

Saya sendiri ngeri membayangkan apabila ternyata saya yang sehari-hari mengajar anak-anak, tanpa saya sadari saya telah melakukan banyak kesalahan pada murid-murid saya, dan kemudian murid saya itu mengalami perasaan yang sama dengan perasaan Gun Woo! Akan ada banyak anak yang pesimis menghadapi masa depan gara-gara kesalahan gurunya, yang (bodohnya) itu tidak disadari dan bahkan terus memproduksi kesalahan-kesalahan.

Selain itu, lebih mengerikan lagi apabila ternyata murid kita melakukan hal yang sama dengan apa yang diperbuat oleh Gun Woo dalam merespons ketidakadilan yang menimpanya. Yaitu menulis daftar kesalahan guru di buku catatan mereka. Di dalam catatannya, Gun Woo menulis KARTU GURU JAHAT, yang berisi daftar kesalahan-kesalahan Ibu Guru, seperti misalnya GURU TIDAK BOLEH MERUBAH ATURAN SEENAKNYA!

Seorang guru memang harus berjiwa besar, tidak keras kepala, dan tidak anti terhadap kritikan meskipun itu disampaikan oleh murid-muridnya. Sehingga akan terbuka pangkal persoalan yang sedang dihadapi oleh siswa-siswi, sekaligus membuka kemungkinan untuk perbaikan, evaluasi atas kekurangan-kekurangan yang telah terlewati. Ibu Guru pada akhirnya tersadar, setelah secara tidak sengaja menemukan kritik Gun Woo yang tertulis di dalam buku catatannya. Namun kemudian hal itulah yang "menyelamatkan" Ibu Guru, menjadi titik bali yang membawanya kembali ke jalan yang benar sebagai seorang guru yang menjadi pelita bagi Gun Woo.

Berkat kamu, ternyata mengajar anak-anak menjadi lebih sulit.

Di akhir catatan ini, saya ingin menyampaikan satu hal menarik dari pengarang, Hwang Sun Mi, yang mengangkat masalah pendidikan pada novel tersebut. Dalam penuturannya yang disampaikan pada awal bab buku ini, yaitu pada bagian "Kunci Pertama yang Kubawa", Hwang Sun Mi kecil berkeinginan untuk menjadi seorang penulis dan guru. Namun, hanya keinginan pertama yang terwujud. Sedangkan keinginannya untuk menjadi seorang guru, gagal ia capai.

Mengapa Hwang Sun Mi berkeinginan untuk menjadi penulis dan seorang guru? Hal itu tidak lain karena jasa besar Ibu Gurunya yang mengizinkannya (atau: membiarkannya) tenggelam dalam keasyikan membaca buku di perpustakaan SD tempat dia bersekolah hingga hari beranjak petang, hingga ia tersadar ketika melihat burung muncul di kegelapan, dan ketika tulisan di dalam buku yang ia baca menjadi tidak terlihat. Sementara Ibu Guru masih menahan diri untuk tidak pulang terlebih dahulu, Ibu Guru menunggu hingga ia benar-benar selesai membaca dan pulang ke rumah. Sebab, Ibu Guru tentu tidak akan mengunci ruang perpustakaan, sementara di dalamnya masih ada seorang anak yang membaca buku! Kejadian itu berlangsung selama berminggu-minggu.

Hingga pada akhirnya "peristiwa besar" dialami oleh Hwang Sun Mi, yaitu Ibu Guru memberinya kepercayaan untuk membawa kunci perpustakaan, yang itu berarti dia harus datang pagi-pagi ke sekolah untuk membuka pintunya, dan menguncinya kembali saat pulang sekolah. Saat itulah ia merasa telah membuka pintu paling penting di dunia ini, ia merasakan tanggung jawab, dan kepercayaan diri perlahan merayapi dirinya bahwa ia akan menjadi orang hebat pada masa mendatang!

Rasa hormat yang begitu tinggi ia sampaikan kepada Ibu Gurunya tersebut. Kiranya, ia menampilkan sosok Ibu Guru di dalam novel Kartu Anak Nakal ini adalah salah satu cara yang dia pilih untuk itu. Barangkali dia justru menggambarkan guru yang "jelek" agar kejelekan tersebut dihindari dan diperbaiki oleh seluruh guru yang ada di dunia ini.

Kira-kira begitu. Yang jelas, novel ini sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk dibaca. Terima kasih telah berkenan membaca tulisan ini.


Mungkin Anda ingin membaca:
1. Sinopsis Novel Kartu Anak Nakal ~ Hwang Sun Mi
2. Quotes Menarik dan kata-kata mutiara dalam novel Kartu Anak Nakal by Hwang Sun Mi
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
April 18, 2017 at 1:16 PM delete

Sewu siji guru sik ngono kui yo Mas Rifan. Btw.. aku mewek bacane....

Reply
avatar
April 18, 2017 at 2:43 PM delete

Betul, Mbak. Itu adalah buah kesabaran dari guru tsb, sehingga bisa mendatangkan motivasi yang sangat kuat. :)

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon