MENANAM POHON HARAPAN


Menanam Pohon Harapan


Hari ini hari Minggu. Pagi-pagi sekali Didi sudah mandi dan berpakaian rapi. Hari itu anak-anak SD Merah Putih akan menanam pohon di Desa Kalibening, Magelang. Desa Kalibening termasuk salah satu desa yang terkena erupsi – lahar Gunung Merapi.

Sebelumnya Desa Kalibening merupakan desa yang indah. Ia berada di lereng Gunung Merapi. Namun, setelah Gunung Merapi meletus, desa itu menjadi gersang. Banyak pohon yang terbakar dan mati.
Pukul 06.30 setelah sarapan pagi bersama Ayah dan Ibu, Didi berangkat ke sekolah. Tidak lupa Didi berpamitan. “Ayah, Ibu, Didi berangkat,” kata Didi sambil mencium tangan Ayah dan Ibu. “Hati-hati Didi,” sahut Ayah dan Ibu sambil melambaikan tangan.

Didi berangkat ke sekolah dengan membawa lima bibit pohon. Di sekolah, teman-teman Didi sudah berkumpul. Sama dengan Didi, teman-teman Didi juga membawa beberapa bibit pohon untuk ditanam di Desa Kalibening. Tidak lupa, mereka juga membawa cangkul kecil dan peralatan lainnya.

Pak Among, Kepala SD Merah Putih juga telah datang. Sebelum berangkat ke Desa Kalibening, mereka berkumpul dan mendapat pengarahan dari Pak Among. “Anak-anak, kita perlu melakukan reboisasi di Desa Kalibening. Reboisasi artinya penghijauan kembali tanah yang gundul dan gersang,” kata Pak Among.

Tak lama kemudian, truk yang akan mengantarkan rombongan SD Merah Putih telah datang. Sebelum naik ke truk Pak Among kembali memimpin rombongan untuk berdoa. Mereka berdoa agar kegiatan hari itu berjalan lancar. Rombongan SD Merah Putih berangkat menggunakan dua truk.

Sampai di sana, rombongan disambut oleh warga. Rupanya warga di sana juga sedang melakukan kerja bakti memperbaiki jembatan. Jembatan itu rusak karena diterjang lahar dingin.

Rombongan SD Merah Putih dipandu oleh Kepala Desa menuju lokasi penanaman pohon. “Mengapa kita perlu menaman pohon di sini, Pak?” tanya Rendra, murid kelas 3. “Pohon akan menyerap air ke dalam tanah sehingga dapat mencegah terjadinya banjir. Selain itu, hawa akan terasa sejuk karena pada siang hari pohon menyerap gas karbondioksida (CO2) dan mengeluarkan oksigen (O2) yang kita hirup,” jelas Pak Among. “Oleh sebab, itu mari kita segera menanam pohon.”

Anak-anak SD Merah Putih segera mengambil bibit pohon yang mereka bawa. Dengan bersemangat mereka mengolah tanah dengan cangkul kecil. Ada juga yang menggunakan sekop. Mereka menanam pohon dengan gembira. Seolah-olah mereka tidak mengenal lelah.

Di sela-sela menanam pohon, Didi bertanya kepada Pak Among, “Jika pohon-pohon yang kita tanam telah tumbuh besar, apakah kehidupan akan menjadi lebih baik?” Sambil tersenyum Pak Among menjawab, “Ya, betul sekali, Didi.” “Berarti kita telah menanam ‘pohon harapan’, Pak Among?” sahut Didi juga dengan tersenyum. Pak Among dan Didi tertawa bersama diikuti oleh siswa Merah Putih lainnya.

Tak terasa bibit pohon yang mereka bawa semuanya telah selesai ditanam. Mereka tinggal menunggu pohon-pohon yang mereka tanam tumbuh besar, seperti harapan mereka kepada kehidupan yang lebih baik lagi.


Pak Kepala Desa sangat berterima kasih kepada rombongan SD Merah Putih. Ia melambaikan tangan ketika truk rombongan SD Merah Putih mulai bergerak pulang. Pak Kepala Desa sangat bahagia hari itu. Begitu pula anak-anak SD Merah Putih. Mereka sangat bahagia telah melakukan kebaikan, menanam benih harapan, benih kebaikan. []

Baca Juga Cerita Anak Lainnya:
1) Menanggulangi Polusi Udara
2) Sungai, Tong Sampah Raksasa
3) Waserba itu Bernama Apotek Hidup
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon