Dongeng Anak Legenda Rawa Pening

Dongeng anak adalah cerita fiksi, cerita rekaan, cerita khayalan, atau cerita yang tidak benar-benar terjadi di dunia nyata, yang diperuntukkan bagi anak-anak. Dongeng juga disebut sebagai cerita rakyat tradisional yang diceritakan secara lisan, turun temurun, dan bertujuan untuk menghibur dan menanamkan nilai-nilai moral.

Nilai-nilai moral di dalam dongeng biasa disampaikan melalui tokoh-tokoh di dalam dongeng. Tokoh itu sendiri bisa manusia, bisa juga binatang (fabel)

Baca: Pengertian tokoh dan jenis-jenis tokoh di dalam cerita

Dongeng bisa disampaikan sebagai cerita sebelum tidur. Dengan mendengarkan dongeng sebelum tidur, anak akan berlatih berimajinasi. Selain itu, penamanan karakter dan nilai-nilai moral akan terbangun dan terbentuk dengan lebih baik.

Nah, dalam kesempatan ini, kami akan mengisahkan tentang Legenda Rawa Pening. Legenda adalah salah satu bentuk dongeng, yang biasanya diartikan sebagai cerita rakyat zaman dahulu yang berkaitan dengan peristiwa atau asal usul terjadinya suatu tempat.

Legenda Rawa Pening adalah cerita rakyat Jawa Tengah yang menceritakan tentang terjadinya Danau Rawa Pening yang terdapat di Kabupaten Semarang, dan diapit oleh tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Banyubiru, dan Kecamatan Tuntang.

Berikut ini adalah Cerita Legenda Rawa Pening secara ringkas, dalam sebuah versi anak-anak.

Baca Juga dongeng-dongeng berikut ini:


Dongeng Anak Legenda Rawa Pening


[Jihan - Siswi SD Labschool Unnes berlatih mendongeng Legenda Rawa Pening - klik untuk memutar video]


Pada zaman dahulu, di Desa Ngasem, hiduplah seorang perempuan dengan seorang anak. Anak itu bernama Baru Klinting.

Baru Klinting tidak berwujud manusia, namun berwujud ular. Meskipun begitu, Baru Klinting dapat berbicara layaknya manusia.

Suatu hari ketika Baru Klinting telah beranjak dewasa, ia bertanya kepada Ibunya. "Ibu, siapakah Ayahku dan dimanakah ia sekarang?"

Ibunya tersentak karena tidak biasanya Baru Klinting bertanya seperti itu. Ia kemudian menjawab, "Ayahmu bernama Ki Hajar Salokantara. Ia sedang bertapa di Lereng Gunung Telomoyo. Pergilah dan temuilah Ayahmu, Baru Klinting."

Mendengar penjelasan Ibunya, Baru Klinting merasa sedikit ragu. Bagaimana bila nanti Ayahnya tidak mau mengakuinya sebagai anak?

"Bagaimana aku bisa meyakinkan Ayah, bahwa aku memang benar-benar anaknya?"

"Bawalah lonceng (klintingan) ini, sebagai bukti bahwa kau memang putera Ki Hajar Salokantara!" jawab Ibunya.

Baru Klinting pun meminta restu kepada Ibunya untuk pergi menemui Ki Hajar Salokantara.

Hingga tibalah Baru Klinting di Lereng Gunung Telomoyo. Ia sampai di depan goa tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara.

Baru Klinting memperkenalkan dirinya dan menceritakan maksud kedatangannya, sambil memperlihatkan klintingan (lonceng) pemberian Ibunya.

Ki Hajar Salokantara mengamati dengan seksama lonceng tersebut. Dia mengakui bahwa lonceng itu memang miliknya, yang dia berikan kepada istrinya dahulu sebelum pergi bertapa. Namun, Ki Hajar ingin meminta satu bukti lagi kepada Baru Klinting bila ingin diakui sebagai puteranya.

"Baiklah, bila kau memang benar-benar puteraku, lingkarilah Gunung Telomoyo ini selama satu tahun, dan kau akan berubah wujud menjadi seorang manusia!"

"Baiklah, Ayah," jawab Baru Klinting.

Kemudian, Baru Klinting pun mulai mengitari Gunung Telomoyo. Baru Klinting sangat bersungguh-sungguh akan tekadnya, sehingga lama kelamaan tubuhnya tertutupi oleh belukar, lumut, dan tanah.

Hingga pada suatu hari, penduduk desa ingin mengadakan hajat/pesta. Penduduk desa pergi ke hutan dan gunung untuk mencari hewan buruan. Namun, lama sekali mereka tidak mendapatkannya. Mereka lelah dan duduk-duduk di atas belukar.

Salah seorang penduduk desa kemudian menancapkan pedangnya ke sebatang akar pohon. Dia terkejut ketika akar pohon tersebut mengeluarkan darah segar yang berbau amis. Dia lebih terkejut sekaligus gembira, karena yang dikiranya sebagai akar pohon tadi ternyata adalah tubuh seekor ular besar.

Penduduk desa pun bersorak sorai kerana mendapatkan daging ular besar. Mereka memotong-motongnya untuk digunakan sebagai hidangan pesta.

Ketika penduduk desa tengah berpesta, datanglah seorang anak kecil kurus yang penuh luka, dengan pakaian compang-camping, dan badannya sangat amis seperti bau seekor ular. Anak kecil itu adalah penjelmaan dari ular Baru Klinting yang telah dipotong-potong tubuhnya oleh penduduk desa.

Baru Klinting yang kini telah berwujud anak kecil, merasakan perutnya sangat lapar dan ia bermaksud meminta sedikit makanan kepada penduduk desa.

Sayangnya, penduduk desa itu sangat angkuh, kikir, dan tidak memiliki belas kasihan kepada Baru Klinting. Ketika Baru Klinting datang mendekat, mereka mengusirnya dengan kasar, memaki-makinya, bahkan menendangnya.

Baru Klinting sangat sedih. Dia terus berjalan sambil menangis, hingga tibala dia di sebuah gubug tua yang ditinggali oleh seorang nenek tua.

"Anak kecil, mengapa kau bersedih? Pergilah ke pesta, di sana banyak sekali makanan lezat!" kata nenek tua itu kepada Baru Klinting.

"Aku dari sana, Nek. Namun, tak seorang pun yang memberiku makanan, bahkan mereka mengusirku karena jijik melihat tubuhku yang penuh luka koreng dan bau tubuhku sangat amis," ucap Baru Klinting dengan memelas.

Nenek tua itu pun memberi Baru Klinting sedikit daging yang dimilikinya. Nenek itu hanya mendapatkan jatah sedikit daging, karena dia sudah tua dan tak hadir di pesta.

"Terima kasih, Nek. Sungguh aku tidak bisa membalas kebaikanmu," ucap Baru Klinting.

Sebelum Baru Klinting pergi, dia berpesan kepada Nenek tua tersebut. "Nek, apabila nanti nenek mendengar suara gemuruh, itu adalah tanda akan datang banjir besar. Segeralah Nenek menaiki lesung ini, Nenek akan selamat."

Nenek tua itu keheranan mendengar pesan Baru Klinting. Akan tetapi ia mengangguk dan mengiyakan pesan Baru Klinting tersebut.

Adapun Baru Klinting, dia kembali ke tengah-tengah pesta. Dia menancapkan sebatang lidi, dan berteriak memberikan pengumuman kepada penduduk desa.

"Wahai kalian yang merasa hebat, aku datang ke sini untuk menantang kalian. Jika kalian bisa mencabut lidi ini, potonglah leherku!"

Penduduk desa tertawa mendengar tantangan Baru Klinting. Mereka menyuruh anak-anak untuk mencabut lidi tersebut. Namun, anehnya, tak satupun berhasil mencabutnya.

Kemudian, orang-orang dewasa pun maju untuk mencoba tantangan tersebut! Satu dua orang gagal, hingga mereka berusaha mencabut lidi itu beramai-ramai. Gagal.

Baru Klinting kemudian membentak mereka. "Dasar kalian payah! Dengarlah, aku adalah ular besar yang telah kalian potong dan lalu kalian makan di pesta! Namun, ketika aku datang dan meminta sedikit saja daging itu, kalian malah mengusirku karena wujudku yang seperti ini! Sekarang, aku datang dan akan menghukum kalian semua!"

Warga desa menyadari kekeliruannya, namun sudah terlambat. Bersamaan dengan itu, Baru Klinting telah mencabut lidi itu. Dari bekas lidi itu, terpancarlah air yang sangat deras disertai suara gemuruh yang menggetarkan hati. Banjir besar datang. Seluruh desa beserta warga desa pun tenggelam.

Hanya ada satu orang yang selamat, yaitu nenek tua yang telah menolong Baru Klinting.

Genangan air yang luas itu masih ada sampai sekarang, yaitu Danau Rawa Pening.

Adapun Baru Klinting, berubah wujud kembali menjadi seekor ular naga besar yang hidup di bawah Danau Rawa Pening. Naga besar itu kini menjadi penjaga Danau Rawa Pening.

[]