Widget HTML Atas

Ketika Gigi Anak Saya Sakit

Andai saya bisa mengulang masa kecil saya, salah satu yang akan dan pasti saya lakukan adalah rajin menggosok gigi. Saya akan menjaga dan merawat gigi saya dengan sepenuh hati, dengan cara menggosoknya sehabis makan dan sebelum tidur seperti anjuran para (mahasiswa calon) dokter gigi, dan pergi periksa ke dokter gigi setiap enam bulan sekali! Singkatnya, saya akan memastikan gigi saya tidak rusak seperti yang keadaan saya sekarang ini.

Tapi masa kecil tentu saja tidak bisa dan tidak mungkin diulang kembali. Jangankan masa kecil, satu detik yang lalu saja tidak bisa diulang kembali. Waktu begitu cepat menggelinding. Maka kembali ke masalah gigi saya yang bobrok tadi, kembali ke masa kecil hanyalah angan-angan. Dan satu-satunya yang masih bisa saya lakukan adalah menjaga gigi saya supaya tidak semakin parah bobroknya.

Saya sudah bermasalah dengan gigi saya bahkan sebelum akil baligh, ketika saya masih belum mengenal sepakbola--saya mulai suka sepakbola ketika Piala Eropa 1996 di Inggris. Waktu itu saya melewatkan pertandingan seru di partai semifinal antara Prancis vs Republik Ceko, dan tuan rumah Inggris vs Jerman (yang akhirnya menjadi juara), hanya gara-gara saya harus menangis dan meringkuk di pojokan kamar sambil memegangi kepala saya yang nyut-nyutan karena sakit gigi. Ketika saya meraba pipi saya, juga terasa seperti sedang memegang buah kedondong akibat bengkak. Terlebih ketika saya melihat wajah sendiri di depan cermin, semakin menjadi-jadilah tangis saya karena wajah saya, yang rasanya saya terlalu sombong dan tak tahu diri kalau saya bilang ganteng, tiba-tiba berubah menjadi lucu karena tidak simetris antara pipi kanan dan kiri. Sungguh yang ada hanyalah derita. wk wk wk.



Bisa dikatakan saya sudah sangat akrab dengan yang namanya sakit gigi. Mungkin kalau saya teliti menghitungnya, sudah ratusan kali saya sakit gigi seumur hidup saya. Dan meskipun sudah akrab, sekarang saja saya masih merasakan sakit kalau sedang kumat. Nyaris saya selalu tidak kuasa untuk menahan tangis.

Nah, dengan berbekal sederet pengalaman merasakan sakit gigi itu, jatuhlah air mata saya ketika anak saya yang pada bulan Desember ini genap berusia 5 tahun, mulai merasakan sakit gigi. Gigi geraham anak saya itu juga sudah mulai keropos dan sering kemasukan sisa makanan yang dia kunyah. Sedih sekali. Ketika saya melihat anak saya menangis menahan rasa sakitnya, itu adalah refleksi masa kecil saya. 

Tentu saya dan istri tidak diam saja ketika anak sakit gigi. Yang kami lakukan pertama kali adalah menghilangkan penyebab kesakitan itu. Kami ambil sisa makanan yang masuk ke bolongan gigi geraham anak saya itu. Tak lupa kami kasih dia obat untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri. Dan membujuknya untuk mau menggosok gigi.

Anak saya betul-betul duplikat bapaknya pada saat kecilnya yang sungguh sulit disuruh sikat gigi. Harus dibujuk sedemikian rupa, yang kalau sudah habis kata untuk membujuknya, terpaksa harus kami paksa.

Namun, bagaimana pun sulitnya saya menempuh upaya persuasi agar anak saya mau menggosok gigi, saya akan berusaha sekeras-kerasnya agar perihal kesehatan gigi, nasib anak saya tidak seperti bapaknya. Jika saat ini anak saya merasa jengkel, sedih, atau bahkan membenci bapaknya ketika upaya persuasif saya tadi gagal sehingga saya harus menempuh cara "sedikit represif", saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kelak anak saya akan memahaminya.

Ada rencana anak saya itu akan saya ajak periksa ke dokter gigi anak pakai faskes kesehatan BPJS kami. Bukan karena eman-eman kalau punya BPJS kok tidak pernah dipakai, tapi memang demi kesehatan. Saya dan istri sedang berupaya membujuknya agar mau. Kalau dia mau, saya nanti mau sekalian periksa gigi.

[]

 

*) M. Rifan Fajrin, penderita sakit gigi bertahun-tahun