Melatih Kedisiplinan dan Tanggung Jawab Siswa

Pada awal tahun pelajaran 2019/2020, telah saya sampaikan kepada siswa-siswi kelas 3A tentang tanggung jawab dan kedisiplinan.

Disiplin dan tanggung jawab merupakan karakter yang harus dimiliki oleh kita semua sebagai siswa SD Labschool Unnes. Untuk mendapatkannya, kita harus terus melatih diri. 

Hampir semua hal yang positif itu berawal dari sebuah paksaan. Paksaan itu ketika dijalankan memang akan terasa berat. Tetapi bila kita jalankan dengan terus menerus, terlebih dengan rasa riang gembira, maka keberatan-keberatan itu nantinya akan hilang. Berganti dengan kebiasaan baik yang membudaya dan menjadi karakter.

Nah, beberapa hari yang lalu, tepatnya Senin 29 Juli 2019, ada hal menarik terjadi di kelas kami.

Siang itu, saya memberikan catatan kepada siswa. Siswa-siswi sejak awal pertemuan kami, sebenarnya telah saya beritahu, bahwa kami akan lebih sering mencatat. 

Menulis di buku catatan selain membuat ingatan sedikit lebih baik dari sekadar mendengar, juga saya maksudkan agar siswa terbiasa menulis. Semakin sering menulis, tangan mereka tidak akan kaku. Tulisan juga menjadi lebih rapi.

Akan tetapi tetap saja anak-anak mengeluh. Capek, katanya. Akan tetapi, saya tetap memaksa mereka yang mengeluh itu untuk tetap menulis. Tentu saja saya sudah mengukur, bahwa "paksaan" itu sebenarnya masih berada dalam batas kemampuan mereka. Buktinya, tak sedikit siswa yang rampung menulis hanya dalam beberapa menit.

"Saya kira kalian sebenarnya tidak capek. Hanya saja masih ada rasa malas. Selain itu, kalian menjadi lama selesainya karena tidak bersegera, masih kurang fokus, dan mencatat sambil berbicara kepada teman bahkan sambil guyonan," kata saya.

"Tapi capeek, Pak!"

"Lho, bukankah Pak Rifan juga menulis di papan tulis? Kenapa Pak Rifan tidak capek, sedangkan kalian capek?" sergah saya.

"Karena Pak Rifan kan sudah biasa. Dan memang itu tugasnya guru."

"Nah, itu masalahnya. Biasakanlah menulis. Mencatat juga tugas seorang siswa, hehehe."

Lalu, saya mencoba bergurau dengan mereka. "Yaa sudah, sini siapa yang capek. Saya pijiti!"

Anak-anak berhamburan maju ke depan. "Kamu laki-laki, saya injak-injak yaaa? 

"Nggak mau to, pak! Sakitt!"

"Pak Rifan kalau capek juga suka diinjak-injak punggungnya oleh anak saya yang umurnya 4 tahun! Hahaha!"

Anak-anak pun saya persilakan untuk melanjutkan menulis. 

Karena saya masih melihat beberapa anak tidak juga mengubah kebiasaannya, yaitu tidak juga selesai-selesai catatannya, saya pun membuat peraturan tegas!

"Anak-anak yang sudah selesai mencatat, boleh berkemas, berdoa sendiri, dan pulang!" saya melanjutkan, "dan yang tidak selesai mencatat, sebaiknya besok datang ke sekolah dengan membawa bantal dan selimut. Karena siswa yang tidak selesai mencatat, dia tidak boleh pulang!"

Sampai bel pulang berbunyi, masih ada beberapa siswa yang tidak juga selesai mencatat.

Saya tanya kepada mereka, siang itu siapa yang menjemput mereka pulang. Adakah yang ikut mobil antar jemput sekolah? Rupanya mereka semua dijemput oleh orang tuanya. Amaaaan, batin saya.

Benar saja. Seorang siswa dijemput orang tua. Beliau menghampiri hingga ke kelas. Saya berikan penjelasan, bahwa siswa tersebut belum selesai mencatat. Saya lega, karena beliau mendukung alasan saya, bahkan merasa senang.

***

Kemudian, tak berapa lama kemudian, seorang siswi perempuan datang kembali ke kelas. Dia sudah selesai mencatat. Bahkan dia termasuk siswa yang menyelesaikan catatan dengan cepat, dan pulang sebelum bel berbunyi.

Lalu mengapa dia datang kembali ke kelas? Oh, rupanya dia lupa bahwa hari itu adalah jadwal dia melaksanakan piket kelas. Dan dia lupa hari itu dia belum melaksanakan piket kelas.

"Kamu piket sendirian?"

Dia mengangguk.

"Tidak apa-apa?" Saya mencoba meyakinkannya.

"Tidak apa-apa, Pak!" jawabnya pelan.

"Maukah saya bantu menyapu?"

"Tidak usah, Pak!" jawabnya.

Saya saya senang dengan hal ini. Pada akhirnya, tetap saya bantu siswa tersebut. 

Dan pada keesokan harinya, yaitu hari Selasa, saya ceritakan hal bagus ini kepada siswa yang lain: Bahwa pada hari Senin ada seorang siswa yang sangat disiplin dan bertanggung jawab melaksanakan piket kelas. Siswi tersebut bernama: Putik.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel