Mengenali Kelebihan dan Kekurangan Diri Sendiri

www.rifanfajrin.com


Setiap anak adalah pribadi yang unik. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Itulah yang pertama-tama harus kita sadari sebagai orang tua atau guru di sekolah.

Albert Einstein pernah mengatakan: 
"Setiap orang itu Jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan percaya seumur hidupnya bahwa ia itu bodoh."
Karena itulah, sebenarnya kita tidak bisa membandingkan anak-anak kita, mana yang lebih unggul di antara mereka hanya berdasarkan satu patokan tertentu. Apalagi misalnya di dalam sebuah ruang kelas, kita menilai siswa hanya dengan melihat berapa nilai pelajaran sekolahnya.

Seorang anak yang tidak berbakat di bidang tertentu, pasti dia memiliki bakat di bidang yang lainnya.

Hingga saat ini saya meyakini, bahwa tidak ada seorang siswa pun yang sama sekali tidak memiliki keterampilan. Dan keyakinan tersebut saya bisikkan ke siswa-siswi saya di kelas.

Suatu ketika saya mengajak para siswa untuk mencoba mencari apa kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri mereka masing-masing. Saya mengajak mereka untuk berlatih bercermin, melakukan refleksi diri sebelum mereka menilai atau mengungkapkan kelebihan teman-temannya yang lain. 

Hal ini merupakan salah satu sikap menghargai diri sendiri. Manusia yang memiliki harga diri, dia akan tahu kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

Dengan mengetahui kelebihan diri sendiri, mereka akan mencoba untuk melihat masa depannya dengan lebih realistis. Dengan itu diharapkan siswa akan lebih termotivasi dan bisa menata strategi meraih masa depannya.

Melihat kekurangan diri sendiri pun demikian. Mereka diharapkan akan berusaha untuk menutup kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. Sehingga tidak menjadi lubang yang menganga, yang akan merugikannya dalam meraih cita-citanya.

Sulitkah mengajak para siswa untuk mengenali kelebihan dan kekurangannya? Pada tahap awal, iya. Cukup sulit. Para siswa bertanya-tanya, "Apa kelebihan saya?"

Kemudian saya kasih mereka contoh kecil. 

"Saya bisa menari lebih baik daripada teman-teman saya." Itu contoh bagi siswa saya yang bernama Assyifa.

Untuk Mas Zidan, saya contohkan sebagai berikut. "Saya bisa berenang, melempar bumerang, dan membidik dengan anak panah." 

Menyimak contoh yang saya berikan, anak-anak mulai paham.

Sebelum saya meminta anak-anak untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan mereka di atas kertas, saya coba tanya mereka secara lisan. Tidak semua saya tanya karena itu akan menghabiskan banyak waktu.

Murid saya bernama Steyer berkata, "Saya bisa berenang dengan gaya bebas. Saya tidak tenggelam. Saya juga bisa karate!"

Bagus! Steyer bercita-cita menjadi seorang polisi. Dia akan menjadi polisi yang hebat bila dia memiliki tubuh yang sehat dan kuat. Terlebih dia bisa keterampilan bela diri. Anak-anak memberikan applause untuk dia!

Satu anak lagi bernama Puspa. Saya tanya apa kelebihan dia? Dia menjawab, "Saya bisa menirukan suara Upin Ipin! Betul betul betul!"

Anak-anak tertawa.

Lalu saya bilang, "Hebat! Siapa tahu kelak Puspa akan menjadi seorang pengisi suara pada film animasi, untuk acara-acara di televisi atau radio, dan pertunjukan lainnya!"

Selanjutnya Puspa menyanyikan sebait lagu di film Upin Ipin. Tanpa dikomando, anak-anak yang juga hapal lagu tersebut pun ikutan menyanyi. Betul-betul paduan suara yang menggetarkan hati. :D

Anak-anak bertepuk tangan untuk Puspa.

www.rifanfajrin.com
Dyah Ayu Puspaningrum


Setiap kelebihan yang ada pada diri kita wajib kita hargai dan kita syukuri. Tidak ada satu kebaikan pun yang pantas untuk diolok-olok, hanya karena itu terlihat sepele dan tidak bermanfaat sama sekali.

"Anak-anak, bahkan kita selalu tersenyum apabila bertemu dengan teman, itu adalah kebaikan dan sebuah kelebihan yang tidak ternilai harganya."

Kemudian, anak-anak pun menuliskan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hasilnya, kami menempelkannya di dinding kelas kami.

dengan senyummu
senjata membeku
tentara bernyanyi
ikuti tingkahmu

tak ada lagi 
naluri menguasai
perlahan berganti
naluri berbagi
[Khaylila Song - Sheila on 7]
Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
10 Januari 2018 05.46 delete

Saya juga teringat masa kanak-kanak sungguh asik apalagi masih SD, masa itu sayang kala itu belum tahu pentingnya belajar jadi sering malas dan leha-leha dalam sekolah, tapi alhamdulillah bisa menyelesaikan sampai SD-nya.

Reply
avatar
10 Januari 2018 06.02 delete

Puspa fans berat sm upin ipin kali yaa,, pdhl klo ditanya saya jg msh binung jwbnya

Reply
avatar
10 Januari 2018 08.46 delete

Hahaha. Iya, Mas. Sebenarnya saya juga sama. Tapi mau tidak mau saya harus mencontohkan lebih dulu. Kemarin saya bilang ke anak-anak, "Kalau Pak Rifan kan kelebihannya bisa menulis....menulis status facebook!" hehehe. tertawa.

Reply
avatar
10 Januari 2018 08.48 delete

Yap. Ada bagian-bagian tertentu di dalam hidup kita yang terlewatkan, berujung pada penyesalan. Akan tetapi tidak ada kata terlambat kan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. :D

terima kasih Mas Warman, sudah mampir ke sini.

Reply
avatar
14 Januari 2018 07.21 delete

keren mas, menjadi pengajar adalah isnpirasi seumur hidup, saya pernah ikut kelas mengajar sehari yang sangat berkesan.

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.20 delete

Luar biasa pengalamannya njenengan. :D
ada satu angan-angan saya yang belum terwujud, yaitu mendatangkan para pengajar muda di kelas saya. Mewujudkan kelas inspirasi di kelas saya. :D

Salam sukses untuk panjenengan. :D

Reply
avatar

Terima kasih Anda telah membaca.
Silakan tinggalkan komentar.

Matur nuwun. EmoticonEmoticon