Ketika Anak Berkata Kotor Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Hati siapa yang tidak sedih ketika mendapati anaknya yang masih kecil tiba-tiba saja berkata kotor?

Dengan perasaan yang tak menentu, hati kecil bertanya-tanya: "Dari mana kata-kata tak pantas itu didapatkannya?"

Tak sedikit pula orang tua yang kemudian merasa telah gagal dalam mendidik anak-anaknya. 

Atau setidaknya, dia merasa gagal dalam melakukan pengawasan terhadap perkembangan anaknya. Anak kesayangannya rupanya telah salah dalam bergaul.

Ada perasaan marah. Ada perasaan kecewa. Ada sesal karena merasa telah kecolongan. 

Kadang pula kemudian orang tua menyelidik, "Jangan-jangan, berkata kotor telah menjadi kebiasaan, telah sering dilakukan oleh anak?"

Bila hal itu terjada pada diri kita, apa yang harus kita lakukan kepada anak kita? Bagaimana sebaiknya selanjutnya bila anak kita berkata kotor?



Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan bila mendapati anak kita berkata-kata jorok.

1. Tanyakan kepada anak, dari mana/siapa kata itu dia dapatkan


Saat kita mendapati anak berkata kotor, jangan langsung salahkan anak. Jangan langsung kita berikan hukuman kepadanya.


Akan tetapi, tanyakan dahulu, dari mana atau dari siapa kata-kata tersebut dia dapatkan.

Kebanyakan kasus, anak mendapatkan kata-kata kotor itu dari lingkungan pergaulannya, baik di lingkungan sekitar rumah atau pun di sekolah.

Sejauh yang saya lihat, biasanya kata-kata itu diucapkan oleh orang-orang dewasa di lingkungan sekitar rumah.

Anak yang mendengar kata-kata tersebut langsung merekam di memorinya, dan meniru untuk mengucapkannya.

Tambahan kosakata ini tak jarang kemudian dibawalah oleh anak ke sekolahnya.

Kata-kata kotor pun menular dengan cepat di lingkungan sekolah dan diserap oleh anak-anak yang lain.

Selain berasal dari pergaulan di lingkungan rumah dan sekolah, kata-kata kotor juga bisa didapatkan dari televisi, dari buku-buku bacaan, dan sebagainya.

Bila itu yang terjadi, kita harus memberikan pengawasan yang cukup untuk pergaulannya, dan memberikan pendampingan terhadap anak untuk memilih bacaan dan hiburan berupa tontonan di televisi.

2. Tanyakan arti kata yang diucapkan kepada anak

Seringkali, meskipun telah diserap di memori dan sering diucapkannya, akan tetapi sebenarnya anak  tidak tahu/memahami arti kata-kata yang dia ucapkan.

Yang jelas dia ingat, orang-orang dewasa sering mengucapkan kata itu dengan tertawa. Bahkan diucapkan di depan orang banyak.

Maka anak kemudian mengambil kesimpulan bahwa kata-kata tersebut boleh untuk diucapkan.

Nah, bila anak kita berucap kata kotor, kita selidiki terlebih dahulu, apakah anak kita tahu arti kata yang dia ucapkan.

Bila anak kita ternyata sudah tahu bahwa kata-kata yang diucapkannya tersebut sangat buruk, saat itulah kita bisa memberikannya hukuman kepada anak atas kesalahannya.

Apa bentuk hukuman yang pas untuk anak yang bicara kotor, mari kita pikirkan. Yang jelas kita berikan hukuman yang mendidik.

Selanjutnya, kembali kepada poin pembahasan kita, bila ternyata anak TIDAK TAHU makna kata yang dia ucapkan, menjadi tugas kitalah untuk menjelaskannya kepada anak.

Hal ini kita bahas pada poin ke tiga di bawah ini.


3. Jelaskan makna kata yang diucapkan oleh anak

Saya berpendapat, sebenarnya tidak ada yang perlu kita khawatirkan bila anak memiliki banyak kata-kata kotor, asalkan dia tidak menggunakannya secara sembarangan.

Justru ketika anak memahami arti dan makna dari kata-kata kotor itu, kita bisa berharapa anak tidak akan sering mengucapkannya. Sebab, anak tahu bahwa kata itu tidak bagus diucapkan.

Ada banyak kata yang bisa kita kategorikan sebagai kata-kata kotor. Antara lain adalah kata-kata makian. Selain itu ada juga kata-kata "saru", cabul, atau kata-kata seputar perkelaminan dan hubungan orang dewasa.

Kata-kata makian dalam pergaulan kami di Jawa, biasa juga menggunakan nama binatang dalam bahasa Jawa. Misalnya kata "ASU" yang artinya anjing, atau BAJING yang artinya tupai.

Untuk kata "ASU" ini, saya sering jelaskan kepada siswa saya di sekolah. Bahwa pada dasarnya kata ASU ini bukan kata-kata kotor, asal diucapkan pada konteks dan situasi yang tepat.

"Ana asu mlayu-mlayu." Itu bukan kata kotor, karena artinya adalah "Ada anjing berlari-lari."

Kata tersebut menjadi jorok ketika diucapkan untuk mengumpat. Misalnya mengata-ngatai teman dengan "Asu!"

Sama seperti kata "Wedhus" yang artinya kambing. Kata ini bukan kata kotor.

Tapi bila kita mengatakan kepada teman, "Wedhus yo kowe!" yang artinya "Kamu kambing!" maka itu menjadi kata atau kalimat yang tidak pantas/buruk untuk diucapkan.


4. Berikan bimbingan/edukasi kepada anak

Setelah anak banyak tahu kosakata kotor beserta maknanya itu, tinggal kita berikan bimbingan, edukasi, atau pengertian kepada anak.

Kita tekankan kepada anak agar berpikir terlebih dahulu sebelum berucap. Sama dengan berpikir sebelum bertindak.

Jadi, tidak ngawur atau asbun (asal bunyi). Dalam bahasa Jawa secara kasar disebut "Asal Njeplak".

Di sekolah, saya juga pernah memberikan penjelasan kepada siswa, bahwa kata kotor atau makian itu memiliki fungsi.

Apa misalnya? Misalnya kita boleh saja mengumpat kepada orang yang betul-betul jahat.

"Kalau ada orang jahat yang membunuh dengan kejam, bolehkan kita memakinya dengan 'bajingan' kepadanya?"

Waktu itu anak-anak berbisik-bisik, ada yang cekikikan karena gurunya di sekolah mengucapkan kata "bajingan".

Tapi kemudian saya jawab, "Boleh saja kaan?"

Saya biarkan anak-anak untuk berpikir dan mencerna pendapat saya itu. Kemudian saya lanjutkan,

"Namun memang menahan diri untuk tidak mengucapkannya itu lebih baik dan utama. Setiap perbuatan manusia, baik dan buruk akan mendapatkan balasannya masing-masing secara adil oleh Tuhan."

Jadi, pergunakanlah kata-kata itu secara tepat.

Sebagai penutup saya berikan sebuah falsafah Jawa yang berbunyi:

"Ajining raga saka busana, ajining diri seko lathi"
Maknanya adalah, berharganya seseorang adalah ketika dia bisa menghargai dirinya sendiri dengan berpakaian yang pantas dan sopan. Dan berharganya seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana dia bertutur kata. Orang yang bertutur kata baik dan sopan, maka dia akan dihormati dan dihargai oleh orang lain.

Demikianlah beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika anak berkata kotor.


Mudah-mudahan bermanfaat.
Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Himawan sant
AUTHOR
21 Agustus 2018 16.46 delete

Anak kecil masih mudah menirukan kata apa yang ia dengar disekitarnya, padahal belum tau pasti kata itu punya maksud baik atau kotor.
Jadi kewajiban kita yang lebih dewasa mencontohkan dan menegur apa yang pantas dan tidak pantas dikatakan.

Jujur, aku dulu waktu bocah sering berkata kotor.
Mandeg total berani mengeluarkan kata-kata kotor setelah kepergok kedengaran oleh papaku ..., dan aku dihukum ngga boleh keluar rumah untuk main dengan teman selama seminggu full 😅

Reply
avatar
23 Agustus 2018 15.10 delete

Setuju, Mas. ANak cenderung meniru. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendampingi anak-anak generasi masa depan agar terjaga dari kata-kata dan perbuatan yang kotor. hehe.

mkasih mas

Reply
avatar
23 Agustus 2018 16.13 delete

Iyaa setuju bangat, kadang anak kecil memang dapat kata-kata kotor dari orang yang lebih dewasa. Pengaruh lingkungan juga

Reply
avatar
24 Agustus 2018 22.42 delete

Nah, yang kita sayangkan adalah, banyak orang dewasa yang ketika dia berkata ceplas ceplos nggak kefilter, dia tidak menghiraukan, atau tidak menyadari bahwa ada anak-anak kecil di dekatnya...

Reply
avatar

Terima kasih Anda telah membaca.
Silakan tinggalkan komentar.

Matur nuwun. EmoticonEmoticon