Pengantar Kumpulan Cerpen SD Labschool Unnes oleh Rahmat Petuguran

Keindahan-Keindahan di Balik Kesederhanaan
Pengantar Kumpulan Cerpen Siswa-Siswi SD Labschool Unnes "Tak Semanis Cokelat" 

oleh Rahmat Petuguran

Ada tiga kategori cerita anak. Pertama, cerita tentang anak-anak yang ditulis orang dewasa. Dua, cerita tentang apa pun yang ditulis untuk anak-anak. Tiga, cerita yang ditulis oleh anak-anak tentang dunianya sendiri. Di antara ketiga kategori itu, jenis terakhir adalah yang lazimnya paling sulit ditemui.
Mengapa bisa begitu? Meskipun dunia tulisan bukanlah sesuatu yang baru bagi anak-anak kita dewasa ini, membawa anak-anak menjadi kreator cerita bukanlah sesuatu yang mudah. Hanya anak-anak dengan minat kuat yang cukup tekun dan memiliki keberanian untuk menulis. Selain itu, ada berbagai kendala teknis yang menghadang anak-anak sebelum bisa merampungkan tulisan dan memublikasikannya.
Dibandingkan orang tua, anak-anak memiliki modal dasar menulis yang sangat baik jika didayagunakan: imajinasi. Mereka bisa dengan leluasa menerabas batas logis yang disepakati orang dengan menghadirkan “logikanya” sendiri. Modal inilah yang bisa membuat anak-anak bisa menulis dengan otentik, tanpa pengaruh berlebihdan dari dunia di luar imajinasinya.
Modal itu dimiliki anak-anak karena kejujuran imajiner yang dimilikinya. Cara mereka mempersepsi sesuatu bisa sama sekali berbeda dengan orang dewasa. Kondisi demikian berdampak pada lahirnya kesegaran cara pandang yang membuat mereka bisa melahirkan cerita yang betul-betul baru, hangat, dan berbeda.
Namun, itu bukan satu-satunya modal yang dimiliki anak-anak. Mereka bisa melahirkan cerita yang begitu kuat karena mereka menyajikan sesuatu dengan relatif jujur. Mereka merepresentasikan dirinya melalui peristiwa, bukan tafsir dan permainan makna. Karena itu, ceritanya bisa demikian menohok. Pesan dalam cerita yang mereka tulis bisa sampai pada ruang reflektif pembacanya.
Dua keunggulan itulah yang bisa kita nikmati dari cerita pendek yang terhimpun dalam buku ini. Terdapat 25 cerita yang ditulis oleh siswa SD Labschool Unnes yang berusaia awal belasan tahun.
Topik-topik yang mereka pilih adalah topik yang sangat akrab. Mereka menceritakan sesuatu yang dekat atau bahkan mereka alami sendiri. Ada cerita tentang persahabatan, hobi, keluarga, dan hal-hal lain yang “indah” dalam batas intelektual mereka. Tetapi di balik pilihan topik sederhana itu, ada muatan pesan yang kerap kali di luar dugaan.
Lihat, misalnya, cerita berjudul Nyanyian Terakhir yang ditulis dengan sangat baik oleh Efra Alya Rosyada. Dalam cerita ini ia menceritakan persahabatan Laura dan Dewi, jenis persahabatan yang bersih dan tulus, bukan jenis persahabatan transaksional a la orang dewasa. Di balik teknik ungkap yang sederhana, Efra dapat menghadirkan pesan yang dalam. Salah satu pesannya, adalah keindahan bersahabat.

Keindahan yang sama dapat kita jumpai dalam cerpen-cerpen lain, misalnya Kepergian Nenek karya Donna Safira Widyatami. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis mengisahkan rasa kehilangan “aku” atas kematian nenek yang dicintainya. Dari cerita ini pembaca disuguhi perspektif yang sangat jujur soal hubungan cucu dan nenek. Jenis perspektif ini yang demikian jernih ini akan sulit ditemui jika dituturkan orang dewasa, sekalipun dengan teknik yang lebih baik.

Dari pandangan itulah, saya melihat, penerbitan buku kumpulan cerita pendek siswa-siswa SD Labschool jauh melampaui tujuan awalnya untuk membangun tradisi literasi. Tujuan itu sudah barang tentu terpenuhi ketika anak-anak mulai bergerak menulis dan menyelesaikan tulisannya. Jauh lebih besar dari itu, ada visi lain dalam penerbitan buku ini, yaitu memelihara sifat dasar kemanusiaan.



Peluncuran Kumpulan Cerpen "Tak Semanis Cokelat", 18 Maret 2017


Buku ini berharga karena bisa menjadi monumen yang otentik bagi anak-anak bahwa mereka bisa melahirkan karya-karya yang indah dan berharga. Tetapi di luar itu, nilai buku ini melampaui itu. Ada banyak hal indah yang dituturkan dengan indah. Dan keindahan itu patut dibaca oleh orang-orang dewasa, orang-orang yang barangkali telah lama kehilangan sisi “indah” itu. Selamat membaca.

Rahmat Petuguran, dosen Universitas Negeri Semarang, alumni Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro


Previous
Next Post »