Anak

Ngomong-ngomong soal anak, anak itu kan karunia dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Subhanahu Wa Taala. Maka kehadiran seorang anak di dalam kehidupan keluarga kecil seseorang, atau keluarga kecil kita, adalah karunia dan anugrah, pemberian hadiah dari Tuhan, dan bisa juga dikatakan sebagai titipan atau amanah sekaligus tanggung jawab yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati.



Namanya juga karunia, pemberian, maka sebenarnya kehadiran seorang anak itu ya terserah dari yang ngasih, yaitu terserah Tuhan kapan Dia mau ngasih kepada kita. Makanya, ada sebuah keluarga yang cepat diberikan dikaruniai anak, ada juga keluarga yang lama sekali menunggu kehadiran sang buah hati melengkapi kebahagian keluarga kecil mereka. Yah, sekali lagi, terserah Allah yang Maha Pencipta.

Telinga ini kadang risih juga kalau dengar seseorang, biasanya sih anak-anak muda yang dalam bahasa jawanya dikatakan  koyo yak-yak'o, mereka bilang gampang saja (maaf) bikin anak! Yaelaahh! Mereka, dan sebagian masyarakat kita masih juga merasa bahwa anak itu yang bikin adalah kita sendiri! Yaitu, melalui proses bertemunya spermatozoa (sel sperma yang matang) dengan ovum (sel telur), bisa melalui proses alami hubungan intim, persetubuhan, atau senggama. Bisa juga dengan bantuan alat (inseminasi buatan), atau dengan seperti pada proses bayi tabung: spermatozoa dipertemukan dengan ovum di cawan metri dilaboratorium.

Subhanalloh! Ya enggak apa-apa sih, itu ada betulnya. Dan memang lumrahnya dalam kehidupan ini ya memang seperti itu. Tapi ayok ah, mulai dari sekarang mari kita sadari bahwa manusia cuman bisa berusaha, yang menentukan tetap saja Allah SWT. Intinya, seorang anak tercipta, itu bukan ciptaan manusia, tapi ciptaan Allah SWT melalui sebab usaha manusia. 

Adam Alaihis Salam, diciptakan Allah SWT sebagai manusia pertama, tanpa melalui proses-proses di atas. Begitu pula Ibu Hawa, tercipta atas kuasa Allah SWT dari tulang rusuk Adam As. Kemudian Isa Alaihis Salam, terlahir ke dunia tanpa seorang ayah, maksudnya, terlahir dari ibunya Maryam yang perawan dan suci. Itu sudah bisa jadi tanda bahwa Tuhan-lah, Allah SWT, satu-satunya Dzat yang kuasa menciptakan seorang anak.

Oke, Kalu manusia bisa bikin anak, maka enggak ada lagi seorang istri yang harus lamaaa menunggu kehadiran bayi. Dan juga, andai seorang bayi itu yang bikin adalah manusia, artinya manusia bisa bikin sendiri, maka (maaf) enggak akan ada lagi bayi yang lahir dengan fisik yang kurang sempurna, atau cacat. Masing-masing orang tentu saja maunya punya anak yang sempurnya fisiknya, ganteng atau cantik parasnya, dan mulia perangainya. Itu kalau maunya manusia.

Cuman, sekali lagi, anak adalah karunia, pemberian, sekaligus amanah dan titipan dari Allah SWT yang harus kita asuh, kita didik dengan penuh tanggun jawab...

Maka bagaimana pun rupa dan perangai anak-anak kita, itulah karunia agar kita bersyukur, dan amanah agar kita bersabar dalam proses membesarkan anak-anak tersebut. Dikasih anak-anak yang cerdas-cerdas, fisik sempurna, ya Alhamdulillah. Tugas kita adalah bagaimana memberikan pendidikan, menempa fisik/jasmani dan ruhaniyat sang anak dengan sebaik-baiknya.

Keberhasilan dan kemuliaan seorang anak kelak di kemudian hari, adalah kemuliaan pula bagi orangtua yang membesarkannya. Sebaliknya, jika anak berperangai buruk, maka orangtuanya juga lah yang akan tercoreng hitam di jidatnya, akan mendapat rasa malu yang luar biasa. Anak polah, bapa kepradah....
Mendidik dan membesarkan anak-anak hanya terjadi satu kali saja di dalam kehidupan kita, maka mari kita lakukan dengan sebaik-baiknya.

Kok malah jadi kayak khotbah sih...

Salam...
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon