Strategi Penyampaian dalam Interaksi Belajar-Mengajar

Kegiatan Belajar Mengajar


Strategi penyampaian dalam suatu interaksi belajar-mengajar banyak sekali macam-macamnya. Oleh sebab itu, guru hendaknya dapat dengan cermat memilih strategi manakah yang paling efektif guna mencapai tujuan pengajaran khusus yang telah ditetapkan.
Beberapa prinsip yang perlu diingat dalam memilih strategi yang efektif untuk mencapai tujuan, antara lain prinsip pemilihan pengalaman belajar. Strategi yang dipilih haruslah memungkinkan siswa mengalami tingkah laku yang dirumuskan dalam tujuan, memberi kepuasan kepada siswa untuk mengalaminya, serta ada dalam batas-batas kemampuan siswa untuk mengerjakannya.

Secara ringkas, berikut ini akan dipaparkan tiga macam strategi. Strategi-strategi tersebut hanya dapat diuraikan prinsip dasarnya saja. Penerapannya secara lebih terperinci dapat ditemui dalam pengajaran apresiasi prosa, puisi, dan drama.

1) Strategi Strata

Karena ide dari strategi ini didapatkan dari tulisan Leslie Stratta dalam bukunya Patterns of Language, maka strategi ini disebut sebagai strategi strata.

Ada tiga langkah pokok dalam strategi strata, yaitu sebagai berikut:
a) Penjelajahan: siswa melakukan penjelajahan terhadap cipta sastra yang disukainya atau disarankan oleh guru/dosen. Penjelahan bisa dilakukan dengan cara membaca, bertanya, mengamati/menyaksikan pementasan, dan kegiatan lain yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman.
b) Interpretasi: dilakukan penafsiran dari cipta sastra. Penafsiran/interpretasi dapat dilakukan dengan presentasi atau suatu penampilan lain.
c) Re-kreasi: adalah langkah pendalaman. Siswa diminta mengkreasikan kembali apa yang telah dipahaminya.

2) Strategi Induktif Model Taba

Hilda Taba mengemukakan strategi ini berdasarkan tiga rumusan tentang berpikir, yaitu: berpikir dapat diajarkan, berpikir adalah transaksi aktif antar individu dengan data, dan proses berpikir berkembang berdasarkan urutan yang sesuai dengan hukum.

Ada tiga tahap pokok dalam model ini. Setiap tahap dapat dikembangkan lagi menjadi tahap-tahap baru sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
a) Pembentukan konsep: menyebut dan mengumpulkan data, mengelompokkan, dan memberi nama/mengkategorikan.
b) Penafsiran: mengidentifikasikan butir-butir, menerangkan hubungan butir-butir dan sebab-akibat.
c) Penerapan: Menganalisis masalah baru, meramalkan, membuat hipotesis, menerangkan/menentukan hungan sebab akibat hipotesis, dan memeriksa ramalan.

3) Strategi Analisis

Strategi ini rupanya strategi yang paling lumrah dilaksanakan terutama di tingkat perguruan tinggi. Hakikat dan tujuan analisis adalah: mengenal bagian-bagian yang membangun cipta sastra, menentukan hubungan antarbagian, dan menemukan hubungan bagian-bagian tersebut dengan struktur keseluruhan.

Analisis selalu diakhiri dengan munculnya pengertian/kesan yang penuh atas cipta sastra sebagai satu keseluruhan yang utuh. Dengan analisis, keterampilan intelektual dan emosional dapat berkembang, hingga dengan latihan analisis pada akhirnya pembaca akan sampai pada kesenangan untuk mengerjakannya, yang berarti mulai menggemari/menikmati cipta sastra yang bersangkutan.
__

Demikianlah tiga paparan strategi penyampaian dalam interaksi belajar-mengajar. Masih banyak lagi strategi yang lain yang dapat digunakan dalam pembenahan pengajaran sastra. Strategi-strategi ini hendaknya tidak membelenggu guru/dosen, tetapi justru memberikan inspirasi. Guru berhak mengadakan modifikasi bila dianggap perlu asalkan saja tidak menyimpang dari prinsip dasar dan hakikatnya.

Semoga bermanfaat.[]
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon