Penyesalan Seorang Mahasiswa

Penyesalan Seorang Mahasiswa


Pemuda itu menatap jauh ke depan. Dia menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kini "beban hidupnya" sedikit berkurang. Ya, dia telah "lolos dari lubang jarum". Dengan lirih dia berucap syukur kepada Tuhan, dia telah terhindar dari drop out (DO) atau dikeluarkan dari unversitas tempatnya menuntut ilmu. Hampir saja dia drop out karena nyaris dia melewati batas waktu maksimal 7 tahun belajar di universitas tersebut. "Alhamdulillah, segala puji bagi Engkau, Ya Alloh!" ucapnya.

Masih terngiang di telinganya, saat sang dosen penguji berkata, "Selamat, Anda lulus meskipun masih ada beberapa hal yang perlu direvisi." 
"Bersegeralah, agar kau bisa wisuda bulan depan!"

Beberapa bulan yang lalu, mahasiswa tersebut baru menyadari bahwa waktu studinya akan segera habis. Seketika dia dilanda kegugupan yang sangat. Apalagi orangtuanya mulai mendesaknya agar segera menyelesaikan kuliahnya. Padahal, mahasiswa tersebut belum mempersiapkan apa-apa. Dia belum merumuskan tema penelitian skripsinya.

Namun, untunglah! Seketika itu juga dia meneguhkan niat, memaksimalkan usaha, dan mengerahkan dua kali lipat energinya untuk mengejar target wisuda. Akhirnya, persoalan skripsi itu pun bisa diselesaikannya dengan relatif cepat. Dengan demikian, bulan depan, mahasiswa tersebut bisa dinyatakan lulus dengan wisuda.

***
Saat upacara wisuda, tiba-tiba mahasiswa tersebut merasa menyesal. Ijazah memang sudah dia terima. Transkrip rekap nilai dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dengan predikat SANGAT MEMUASKAN juga sudah dia terima. Namun, ketika dia memandangi lembaran ijazahnya itu, hatinya justru merasa masygul. Terlihat dari raut mukanya yang mendung.

Raut muka acapkali tidak bisa berbohong. Begitu pun yang dialami oleh mahasiswa tersebut. Wisudawan di sebelahnya, yaitu seorang mahasiswi cantik dua tingkat di bawahnya, tahu bahwa ia sedang gundah. 

Maka bertanyalah dia, "Mengapa kau terlihat bersedih, Kak?"
Sang anak mahasiswa itu pun menjawab, "Entahlah. Tiba-tiba aku merasa menyesal."
"Mengapa?" tanya wisudawan di sebelahnya lagi.
"Sebab, aku merasa selama tujuh tahun berada di kampus ini, aku belum punya kecakapan apa pun meskipun kini ijazah sudah kugenggam, dan aku lulus dengan predikat SANGAT MEMUASKAN!" jawabnya lagi.
"Oh, kurasa hal itu dirasakan oleh sebagian besar wisudawan di ruangan ini," adik tingkatnya mencoba menghibur. "Waktu studiku lima tahun, tidak begitu jauh, kurasa."

Sejenak mereka berdua sama-sama terdiam.
"Jangan-jangan kita merasa khawatir tidak mendapatkan pekerjaan yang cukup baik?" tanya si mahasiswi cantik, mencoba menyelidik. Dia memilih mengatakan "kita" untuk menjaga perasaan mahasiswa tersebut agar tidak tersinggung seumpama ia menyebut "kau" atau "kakak".

"Ya.  Sejujurnya, iya," jawab mahasiswa itu lagi, lalu dengan sedikit emosional dia melanjutkan, "tetapi andai saja sejak tujuh tahun yang lalu aku tidak terlalu bersantai. Dulu aku terlalu malas dan selalu berpikir waktuku masih panjang. Dan, ah, andai saja sejak tujuh tahun yang lalu aku dengan penuh kesadaran berusaha memperbaiki diriku, meningkatkan kualitas diriku, tentu saja aku akan jauh lebih baik dari sekarang. Tentu saja aku tidak akan segalau ini menatap masa depan. Tentu saja aku sekarang telah menjadi pemuda yang hebat!"

Mahasiswi cantik di sebelahnya mengangguk. Dengan bijak dia menjawab. "Baiklah, aku mengerti, dan aku sepakat. Andai tujuh tahun lalu kita selalu memperbaiki diri dan berusaha keras meningkatkan kualitas diri kita, tentu saat ini kita menjadi seseorang yang HEBAT! Akan tetapi, andai tujuh tahun berlalu kita melupakannya, maka sekarang ini BUKANLAH SAAT KITA UNTUK MENYESAL. Justru saat inilah kita berusaha MEMULAI MENATA NIAT untuk terus meningkatkan kualitas diri kita, agar..." si mahasiswi tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menunggu.

"Agar setidaknya tujuh tahun ke depan kita menjadi orang yang hebat!" jawab si mahasiswa.
"Nah!"
"Baiklah!" sahut si mahasiswa, "BAGAIMANA PUN KITA MASIH BERHAK MEMILIKI MASA DEPAN YANG CERAH!"

Hahaha. Mereka berdua tertawa. Dan upacara wisuda masih terus berlangsung. []
Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
May 23, 2015 at 12:45 PM delete

And yes!! Sayapun pernah merasakannya. Sekolah kehidupan melebihi apapun jenis sekolah formal.

Perjuangan dimulai saat kita satu titik di kehidupan nyata, bukan di sekolah, hahaha :D
7 tahun hanya 0,0000001 % dari hidup dan kehidupan yang sebenarnya :D

Keren mas Rifan, sanagt menginspirasi. `Horai, aku wes iso komen :D

Reply
avatar
May 23, 2015 at 8:29 PM delete

Betul, Mbak Wahyu.
Dulu sewaktu saya menulis skripsi, saya merasakan beban berat. Tetapi ketika berhasil melewatinya, ternyata tantangan demi tantangan datang silih berganti dan kadang-kadang malah bersamaan. Tantangan (ujian) itulah yang menjadikan diri kita kuat.
Katanya sih begitu, hihihi.
Terima kasih sudah membaca. :)

Reply
avatar
Mas Pe Uw
AUTHOR
May 29, 2015 at 8:16 AM delete

Dan saya sangat ingat pada saat itu.

Reply
avatar
May 29, 2015 at 8:48 AM delete

Ya, aku ingat, Mas Pe Uw bercerita tentang kondisi pendidikan Jepang setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur! :D :D

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon