Resensi Buku “Me vs Senior Dodol”, Arinda Shafa


Me vs Senior Dodol karya Arinda Shafa

Mengekalkan Kenangan-Kenangan

Buku ini merupakan buku pertama karangan Arinda yang saya baca. Kebetulan awal tahun ini, setahu saya, ada dua judul buku yang dia terbitkan. Selain buku ini ada satu lagi bukunya yang terbit, yakni kumpulan cerpen Colekan Lembut Sang Bidadari yang diterbitkan Pustaka Nusantara. Arinda memang sangat produktif. Sebelum ini, karya-karyanya terselip dalam tak kurang 69 buku antologi.

Duabelas cerita tersaji dalam buku ini. Dengan alur maju dan gaya bahasa yang gaul—dan ini sudah dengan gampang kita ketahui sejak dari judul bukunya—hampir semuanya mengangkat tentang kehidupan masa remaja sampai menuju ambang dewasa. Satu-satunya cerita yang keluar dari tema itu adalah “Balada Arisan Bu Noni”. “Balada Arisan Bu Noni” ini pun merupakan cerita yang agak absurd, selain cerpen “Diary Gaul Kunce”. Dengan tokoh-tokoh “memedi” yang diplesetkan, misalnya bapak Gendu genderuwo, Ibu Kunti Centil Rambur Kriwil, Congi alias si Pocong Tengil, atau Kunce alias Kuntilanak Kece, cerita ini dibangun. Bedanya, bila dalam “Balada Arisan Bu Noni” berlatar cerita tempat-tempat horor yang juga disesuaikan dengan nama-nama tempat pada kehidupan manusia—misalnya Jalan Lelembut Raya, atau Puri Horor Indah—maka, dalam “Diary Gaul Kunce” sempat mampir di Malioboro Street, atau sebuah tempat yang sangat merakyat: Angkringan!

Cerita-cerita dalam buku ini dimaksudkan sebagai bacaan yang menghibur, bacaan yang segar, cocok dibaca pada waktu luang. Genre yang ditawarkan adalah komedi. Cerita-cerita yang lucu, ironis, bahkan tragis.

Saya memuji Arinda diantaranya adalah dia bisa mengangkat satu peristiwa sederhana menjadi sebuah cerita. Misalnya, “Sepatuku Sayang, Sepatuku Malang” yang menceritakan bagaimana si tokoh dengan sepatu-sepatunya yang unik, aneh, diluar kebiasaan, tak pernah pas dengan kakinya, dan suatu waktu justru berujung pada kesialan. Cerita sepatu tersebut diurutkan berdasarkan urutan waktu, yakni sejak usia prasekolah, sekolah dasar, hingga menginjak bangku kuliah. Apakah cerita ini memang pengalaman penulis sendiri mengenai sepatu-sepatunya? Saya tidak tahu persis, dan tak berani menduga-duga. Adakah hubungannya dengan mode yang sering penulis ikuti? Mendadak saya sadar bahwa saya tak pernah mengamati Arinda, tetapi hanya terpatri di pikiran saya bahwa dia penyuka warna merah muda. Entahlah.

“Tiga Digit” juga menarik perhatian saya. Sebenarnya, dari kebiasaan saya membaca buku mulai dari awal ke akhir, artinya tidak membaca dengan cara acak, cerita “Tiga Digit” yang ada di halaman 60 inilah yang menurut saya diceritakan dengan alur paling lancar mengalir sekaligus mampu memberikan inspirasi, tak hanya “suguhan kekonyolan-kekonyolan”. “Tiga Digit” menceritakan seorang cewek cerdas nyaris sempurnya bernama Ema. Hanya sayangnya, dia memiliki postur tubuh big size yang bagi kebanyakan cewek menjadi problem serius penyebab terkikisnya kepercayaan diri, dan tembok besar untuk mendapatkan pendamping hidup, apalagi pendamping hidup ideal yang mau menerimanya apa adanya. Padahal saat itu, Ema telah bertunangan dengan seorang lelaki bernama Mas Erdin. Problem ini tentu saja berusaha Ema hilangkan dengan program diet ekstrim, apalagi dia telah mencapai masa-masa akhir dalam studinya, yakni merampungkan skripsi dan segera lulus dengan predikat cumlaude. Lantas bagaimana hasilnya? Tetap saja Ema gagal dalam program dietnya itu. Di sinilah persoalan kepercayaan diri mengenai bentuk tubuh kembali mengusik. Meskipun berkali-kali Ema sudah men-sugesti dirinya sendiri dengan mengatakan “Big is beautifull”, misalnya ketika ia melangkah tegap menuju kampus untuk bimbingan, namun tetap saja, ketika dia sudah berhasil melampaui hadangan pertama dan tinggal menanti hari bahagia—saat wisuda itu tiba dan menanyakan kembali komitmen pertunangannya—Ema masih belum sepenuhnya yakin apakah Mas Erdin tunangannya itu benar-benar mau menikahinya.

Cerita selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah “Unpredictable Surprise”, “Mrs. Moody and Skripsiphobia”, dan cerita yang menjadi judul buku ini: “Me vs Senior Dodol”. Seandainya cerita ini tercipta dari kisah nyata Arinda sendiri dalam menjalani kuliahnya—dan saya meyakini itu—, maka, bila diurutkan menurut urutan kejadian, tiga cerpen tersebut seharusnya urutannya adalah seperti ini: “Me vs Senior Dodol”, “Unpredictable Surprise”, baru “Mrs. Moody and Skripsiphobia”. Nah, barangkali apa yang menjadikan cerita ini menarik perhatian saya, sesaat menyentuh hati saya, adalah karena saya—dan juga semua mahasiswa, terutama yang berkuliah di FBS jurusan kependidikan—juga mengalaminya, membuat saya sejenak terseret untuk menyelami kisah-kisah masa lalu, mem-flashback kehidupan saya ini.

“Me vs Senior Dodol” menceritakan peristiwa-peristiwa konyol ketika awal mula masuk kuliah di perguruan tinggi yang lazim mengalami masa Orientasi Kampus/Ospek. “Unpredictable Surprise” menceritakan bahwa mahasiswa kependidikan semester akhir wajib menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah-sekolah yang ditunjuk. Sedangkan, “Mrs Moody and Skripsiphobia” tentu saja “babak final” bagi semua mahasiswa sebelum kelulusan.

Masing-masing mahasiswa, menurut saya, tentu saja mengalami keunikan, keasyikan, kekonyolan, keseruan, kehebohannya sendiri ketika menjalani tiga fase tersebut. Maka, sebenarnya tidak ada yang spesial dari tiga cerita itu. Setidaknya bagi saya sendiri. Tiga cerita tersebut, seperti yang telah saya tuliskan di atas, hanya berhasil mengajak saya kembali menyelami “masa-masa sulit namun indah” tersebut, karena juga pernah mengalaminya. Namun bagi pembaca yang belum/tidak menginjak bangku kuliah dan tidak/belum merasakan tiga fase peristiwa tersebut, barangkali hanya menambah gambaran betapa beberapa peristiwa sekecil apapun bisa sangat berkesan di dalam hati kita masing-masing. Sampai di sini, sekali lagi, saya kagum pada Arinda sebagai seorang yang pandai merawat kenangan-kenangannya, dan menuliskannya kembali ke dalam sebuah cerita sehingga kehadirannya menjadi abadi.[]
_____________________________

Judul Buku      : Me vs Senior Dodol
Penulis             : Arinda Shafa
Penerbit           : Pustaka Jingga
Tahun Terbit    : Februari 2014, Cetakan Pertama
Tebal Buku      : 140 Halaman
Daftar Cerita Dalam Buku Ini:
1.      Sepatuku Sayang, Sepatuku Malang
2.      Oh My Boss!
3.      Silly Moment at Sangeh
4.      Balada Arisan Bu Noni
5.      Anak Kos vs Bapak Kos
6.      KKN (Kisah Kasih Nggombal)
7.      Tiga Digit
8.      Diary Gaul Kunce
9.      Antara Jurit Malam dan Joget India
10.  Unpredictable Surprise
11.  Mrs. Moody and Skripsiphobia
12.  Me vs Senior Dodol

***
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon