Kakek Ali

Ilustrasi Cerpen

Semua orang di kampungku pasti tahu siapa kakek Ali. Dan jika kita bertanya pendapat mereka tentang kakek Ali, hampir dapat dipastikan mereka akan memberi satu inti jawab yang sama: ”kakek Ali adalah orang yang baik”.


Kira-kira umur kakek Ali sudah enam puluh tahun. Namun, matanya masih tajam. Badannya masih kuat. Kakek Ali masih mampu untuk sekadar mencangkul atau menimba air di sumurnya yang melimpah airnya itu.

Sederhana, bersahaja, dan religius, itulah kakek Ali. Hidupnya seakan-akan tidak pernah susah, walaupun tidak ada apa-apa di rumahnya selain beberapa buah kursi plus meja di ruang tamu, sebuah dipan, dan beberapa ekor ayam piaraannya. Selain itu kakek Ali juga mempunyai sebatang pohon pepaya.

Satu hal yang membuat banyak orang suka pada kakek Ali adalah sifatnya yang supel, mudah berbaur dengan tetangga atau masyarakat sekitar. Gaya bicaranya enak. Pengetahuannya dan pengalamannya luas. Bicara apa saja dengan kakek Ali seakan-akan tidak pernah putus, selalu ada saja topik yang bisa dibicarakan. Dan juga, kakek Ali murah senyum.

Namun, akhir-akhir ini ada yang agak lain pada diri kakek Ali. Kakek Ali sering berdiam diri. Ia banyak menghabiskan waktunya di mushala. Ia juga sering menangis. Kakek Ali yang biasanya menyapa orang-orang ketika pergi ke mushala, sekarang tidak lagi. Berjalannya menunduk terus. Tentu saja orang-orang merasa kehilangan. Mereka bertanya-tanya, ada apa gerangan yang terjadi pada kakek Ali sehingga ia berubah seperti itu?



Paimo yang mula-mula melihat perubahan pada kakek Ali, menyatakan keheranannya pada Krisno.

“Ada apa dengan kakek Ali ya kang? Kok jadi diam begitu?” Paimo memulai.

“Ah, siapa yang tahu? Lha wong aku saja juga heran kok,” timpal Krisno.

Keheranan ternyata tidak hanya dirasakan Paimo dan Krisno. Siapa pun yang melihat gerak-gerik kakek Ali pasti merasakan hal yang sama. Pada intinya perubahan kakek Ali itu sudah menyebar dan dirasakan oleh masyarakat. Namun, semuanya tidak ada yang tahu pasti, apakah gerangan yang terjadi pada diri kakek Ali.

Pernah Mas Dono menyatakan keheranannya pada kakek Ali. Dia mencoba bertanya langsung pada kakek Ali. Namun, kakek Ali cuma memberi jawaban, “Jangan khawatir. Saya tidak apa-apa kok, Mas Dono.”

Mendapat jawaban seperti itu membuat Mas Dono tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan justru semakin khawatir pada kakek Ali. Mas Dono merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakek Ali. Atau lebih tepatnya, ada sesuatu yang hilang pada diri kakek Ali.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak kecil pun merasa kehilangan kakek Ali yang berubah menjadi pendiam itu. Anak-anak seperti Joko, Yanto, dan Indro –yang mempunyai kenangan pernah merasakan kebaikan kakek Ali—juga merasa sedih.

Teringat dalam benak mereka bertiga ketika ingin mengambil pepaya milik kakek Ali. Tapi mereka tidak meminta ijin terlebih dulu. Saat itu Yanto yang mendapat tugas memanjat, sedangkan Joko dan Indro menunggu di bawah. Saat belum satu pun buah dapat mereka ambil, ternyata telah datang kakek Ali. Joko dan Indro yang melihat kedatangan kakek Ali langsung melarikan diri. Tinggallah Yanto seorang diri di atas.

Betapa terkejutnya Yanto ketika melihat ke bawah. Joko dan Indro sudah tidak ada. Yang ada hanyalah kakek Ali yang sedang mengasah parang tepat di bawah pohon pepaya itu.

Saat itu kakek Ali berpura-pura tidak tahu jika ada orang di atas. Sedangkan Yanto sama sekali tidak berani turun sebelum kakek Ali pergi. Bulu kuduknya berdiri. Ia ngeri membayangkan apa yang hendak diperbuat oleh kakek Ali kepada anak yang mencuri pepaya miliknya. Apalagi kakek Ali sedang mengasah parang! Gawat, pikir Yanto.

Lama sekali Yanto menunggu di atas. Tapi kakek Ali tidak juga pergi. Akhirnya Yanto pun menangis di atas pohon.

Mendengar tangis Yanto, kakek Ali hanya berpura-pura bahwa ia baru menyadari jika ada seorang bocah di atas. Ia pun tersenyum dan menyuruh Yanto turun. Kemudian kakek Ali memberinya tiga buah pepaya untuk mereka bertiga dan menasehati Yanto agar tidak mengulangi perbuatannya.

Peristiwa itu benar-benar membekas di benak Yanto, Joko, dan Indro.

#

Jumat, 21 Juni 2002, warga benar-benar telah kehilangan kakek Ali. Kakek Ali meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Warga jadi gempar. Kematian kakek Ali tanpa didahului sakit yang berarti. Kematian kakek Ali hanya didahului dengan berubahnya kakek Ali menjadi pendiam. Itu saja, tidak ada tanda-tanda yang lain.

Sebagian warga masih sulit menerima kenyataan itu. Mereka menduga-duga sebab-sebab kematian kakek Ali. Namun, tidak ditemukan jawaban yang memuaskan. Akhirnya mereka semua bersepakat, kematian kakek Ali adalah semata-mata karena takdir. Memang sudah saatnyalah kakek Ali meninggalkan mereka semua.

Kesedihan memang tergambar di wajah-wajah orang-orang kampung. Berbondong-bondong mereka melayat dan menguburkan jenazah kakek Ali, menyatakan duka cita dan bela sungkawa yang mendalam.

Namun, kesedihan mereka itu sedikit terobati mengingat kakek Ali meninggal pada hari Jumat. Sebab, konon orang yang meninggal dunia pada hari Jumat pasti orang yang mulia. Meski sebenarnya, andai saja kakek Ali meninggal pada hari lain pun orang-orang akan tetap mengatakan kakek Ali adalah orang yang baik dan mulia. Namun setidaknya, meninggalnya kakek Ali pada hari itu bisa menjadi bukti yang kuat bahwa kakek Ali memang benar-benar orang baik!

Berangsur-angsur warga mulai dapat menerima kematian kakek Ali. Bahkan sebagian warga ada yang mulai melupakannya. Namun bagi sebagian warga yang lain, masih ada ganjalan di benak mereka. Jika tidak ada suatu peristiwa atau kejadian yang menimpa kakek Ali sebelum meninggalnya, mengapa kakek Ali harus berubah menjadi pendiam?

Dan semua warga menyadari akan adanya perubahan itu. Maka mencuat lagi persoalan tentang sebab-sebab kematian kakek Ali. Pak Jono sebagai ketua RT mengajak warganya bermusyawarah. Ia mengundang warganya untuk mengadakan rapat khusus. Semua warga boleh bercerita hal-hal yang dirasa aneh yang kira-kira dapat dihubungkan dengan perubahan kakek Ali yang menjadi pendiam itu.

Mas Bagyo angkat bicara, “Jangan-jangan perubahan kakek Ali itu ada hubungannya dengan kedatangan lelaki tua yang masuk ke rumah kakek Ali beberapa waktu yang lalu.”

“Lantas, siapa lelaki tua itu, Mas Bagyo?” Bang Seno menyela.

“Itu dia masalahnya. Saya tidak tahu siapa lelaki tua itu,” kata Mas Bagyo.

Warga terdiam. Tak seorang pun dapat menjelaskan siapa sebenarnya lelaki tua itu.

Di tengah keheningan warga, Mas Dono mencoba berpendapat.

“Saya kira lelaki tua itu adalah pengemis atau orang dari jauh yang kebetulan singgah di rumah kakek Ali. Kita semua tahu, kakek Ali suka menolong siapa saja, dengan cara apa saja. Jika dia tidak mempunyai uang, ia seringkali memberinya barang sedikit nasi atau sekadar minum walaupun kakek Ali tidak mengenalnya.”

“Ya, ya, ya, itu mungkin saja,” kata Pak Jono mengiyakan. “Kakek Ali memang suka menolong orang. Tapi, apa hubungannya kedatangan pengemis atau seseorang itu dengan perubahan pada diri kakek Ali?”

Semua warga terdiam. Tak satupun yang angkat bicara menanggapi pertanyaan ini. Akhirnya disimpulkan bahwa cerita kedatangan lelaki tua itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perubahan kakek Ali yang menjadi pendiam. Apalagi jika dihubungkan dengan kematian kakek Ali yang mendadak itu, jelas semakin jauh.

Kemudian Mas Sapto berpendapat bahwa mungkin perubahan kakek Ali itu dikarenakan kakek Ali tidak mempunyai sanak famili yang akan mewarisi harta bendanya. Ia menambahkan juga, kakek Ali mungkin memang tlah tahu ajalnya sudah dekat, tapi ia bingung karena belum menemukan siapa yang menjadi ahli warisnya.

“Ingat, kakek Ali kan orang baik. Sangat mungkin ia telah mempunyai firasat ajalnya sudah dekat. Sedangkan ia sendiri bingung karena tidak ada penerus atau ahli warisnya,” kata Mas Sapto yakin.

Sebagian warga manggut-manggut. Pendapat itu bisa dibenarkan dan masuk akal. Kakek Ali memang tinggal sendirian, dan setahu warga, ia tidak mempunyai sanak famili.

Warga saling berbisik-bisik.

Tapi tak lama kemudian Yusno menyangkal pendapat itu. Ia teringat kata-kata kakek Ali. Kakek Ali pernah mengatakan tanah dan rumahnya akan ia wakafkan untuk kepentingan bersama saja jika ia telah meninggal.

“Tunggu sebentar,” Yusno men-stop warga yang berbisik-bisik, ”kakek Ali pernah mengatakan bahwa tanah, rumah beserta isinya akan ia wakafkan untuk kepentingan warga. Termasuk pohon pepaya di samping rumah kakek Ali dan juga sumur kakek Ali yang melimpah airnya itu.”

Yusno menggeber argumennya dengan tidak kalah meyakinkannya.

Beberapa orang warga yang juga pernah mendengar kata-kata kakek Ali saat itu, serempak membenarkan Yusno.

”Betul, betul!”

”Ya, betul itu!”

Terlihat lagi sebagian warga manggut-manggut.

Jadi, kesimpulan yang diambil adalah bahwa tidak adanya ahli waris kakek Ali bukanlah penyebab perubahan kakek Ali. Dan tidak ada hubungannya dengan kematian kakek Ali.

Tapi seorang warga lagi-lagi mencoba memberikan pendapat, bagaimana kalau seandainya kakek Ali berubah pikiran? Maksudnya, kakek Ali yang mengatakan tidak masalah dengan tidak adanya keluarga yang mewarisi tanah dan rumahnya, tapi sesungguhnya dalam hatinya gundah juga memikirkan siapa ahli warisnya.

Sekali-lagi, pendapat itu langsung disangkal oleh sebagian warga. Suasana rapat khusus itu menjadi semakin riuh. Warga sepakat mengatakan kakek Ali adalah orang yang teguh pendirian, teguh pada prinsip, dan selalu konsekuen dengan apa yang dia katakan.

“Tidak mungkin kakek Ali berbohong pada kita semua. Apa yang ia katakan adalah yang sebenarnya,” kata Pak Jono menengahi.

“Lalu bagaimana ini, pak? Apa sih sebenarnya yang menjadi sebab perubahan pada diri kakek Ali, atau yang menjadi sebab kakek Ali meninggal secara mendadak itu?” Mas Naryo bertanya, setengah putus asa.

“Entahlah. Kita semua tidak ada yang tahu. Mungkin Yang Mahatahu saja yang tahu persis akan masalah ini,” kata Pak Jono pada akhirnya, sambil mengangkat bahu dan menengadahkan tangan ke atas, tanda sama putus asanya dengan para hadirin.

Malam semakin larut, musyawarah warga itu pun ditutup tanpa mendapat suatu kesepakatan yang jelas tentang apa yang menjadi penyebab perubahan kakek Ali sebelum meninggalnya. Kesimpulan yang sementara diterima adalah perubahan kakek Ali yang menjadi pendiam itu hanyalah karena firasat kakek Ali yang merasa ajalnya telah dekat.

Warga pulang ke rumah masing-masing dengan isi kepala yang berbeda-beda. Ada yang masih penasaran, ada juga sebagian yang telah menerima begitu saja kesimpulan yang diambil.

#

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa sudah dua bulan kakek Ali meninggal. Spekulasi mengenai sebab-sebab kematian kakek Ali sudah tidak pernah tersentuh lagi. Kini warga hanya dapat mengenang dan membicarakan kebaikan kakek Ali saja tanpa ada perasaan atau niatan untuk mengungkit-ungkit lagi perkara meninggalnya kakek Ali.

Situasi kembali berjalan normal seperti sediakala. Hanya saja bedanya adalah sekarang adalah tidak ada lagi sosok lelaki bernama kakek Ali di tengah-tengah warga. Tidak ada lagi seorang tua yang tersenyum dan menyapa warga saat akan pergi ke mushala. Sedangkan tentang tanah dan rumah kakek Ali beserta pohon pepaya dan sumur kakek Ali yang melimpah airnya itu, saat ini telah bermanfaat dan digunakan untuk kepentingan warga. Setiap hari warga dapat dengan bebas menimba air di sumur itu untuk keperluan sehari-hari mereka, untuk mandi selepas pulang dari sawah, mencuci, memasak, atau sekadar membasuh muka.

Namun, ada satu perubahan yang tidak disadari oleh warga. Memang aktivitas kembali berjalan normal seperti sediakala. Tapi sekarang tak ada lagi sosok sederhana yang masuk ke mushala lima kali sehari. Tidak ada lagi orang yang menyapu dan membersihkan debu-debu yang menempel pada kaca-kaca jendela mushala. []
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon