Rabu, 21 Juni 2017

Contoh Teks Berita Hasil Penerapan Model Investigasi Kelompok oleh Siswa


Dalam post kali ini, akan kami hadirkan beberapa contoh teks berita sebagai hasil penerapan model pembelajaran tersebut.

Berita-berita berikut ini ditulis sendiri oleh para siswa, ditulis secara langsung setelah melakukan investigasi dan pengamatan di Candi Ngempon yang terletak di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Candi Ngempon terletak di Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang


Siswa Kelas VIII Kunjungi Candi Ngempon

Selasa, 13 Maret 2012 siswa kelas VIII SMP 17 Bawen mengunjungi Candi Ngempon. Bersama dengan guru Bahasa Indonesia, M Rifan Fajrin, mereka mengunjungi Candi Ngempon untuk belajar menulis teks berita secara berkelompok.
Candi Ngempon adalah mahakarya peninggalan masa kejayaan Hindu. Lokasi candi berada di tengah sawah di Desa Ngempon, Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Menurut warga, candi ini ditemukan oleh seorang petani bernama Kasri pada tahun 1952. Ketika mencangkul di sawah, paculnya membentur batu yang ternyata batu candi.
Siswa siswi merasa senang dengan kegiatan ini. Dengan demikian mereka bisa belajar menulis berita sambil refreshing berjalan-jalan ke luar kelas.

Candi Ngempon terletak di Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang

Candi Ngempon Ramai Dikunjungi
Di Kabupaten Semarang, terdapat dua candi yang bagus. Pertama Candi Gedongsongo, dan kedua adalah Candi Ngempon yang terletak di Desa Derekan, Kecamatan Bergas. Candi Ngempon ditemukan oleh Kasri pada tahun 1952.
Pada hari minggu dan hari libur Candi Ngempon ramai dikunjungi. Pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp. 1000,00  Menurut Pariyanto, juru kunci Candi Ngempon yang menggantikan ayahnya Kasri, rata-rata pengunjung di hari libur atau hari Minggu mencapai 35-50 orang. Tetapi pada hari-hari biasa sangat sepi.
Selain mengamati bangunan Candi, cukup dengan membayar Rp. 2.000,00 pengunjung juga dapat berendam di pemandian air panas. Bagi yang suka permainan dan game, pengunjung bisa juga bermain flying fox yang juga ada di kompleks Candi Ngempon.

Candi Ngempon terletak di Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang

Candi Ngempon Terbuka 24 Jam
Berbeda dengan objek-objek wisata dan situs bersejarah lainnya, Candi Ngempon terbuka 24 jam. Hal itu disampaikan oleh Pariyanto, pengelola Candi Ngempon yang terletak di Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang, Selasa, 13 Maret 2012.
“Justru pengunjung banyak yang datang malam hari. Ini dikarenakan ada petirtaan (pemandian) air hangat yang ada di kompleks Candi Ngempon,” tutur Pariyanto yang merupakan putra dari Kasri, petani yang menemukan Candi Ngempon pertama kali pada tahun 1952.

Untuk dapat menikmati pemandian air panas, pengunjung hanya merogoh kocek Rp. 2000,00 saja. Sebelum berendam di air hangat, pengunjung disarankan untuk makan terlebih dahulu. Tujuannya agar badan tidak lemas setelah berendam. Bagi pengunjung yang tidak membawa bekal, tidak perlu kuatir, banyak pedagang dan warung di dalam kompleks Candi Ngempon yang menyediakan makanan mulai dari nasi rames, mie, sampai warung ikan bakar dan pemancingan.


Candi Ngempon terletak di Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang


Bilyard dan Karaoke Merusak Suasana Candi Ngempon

Candi Ngempon juga sering digunakan untuk ibadah umat agama hindu di hari raya Galungan, seperti kata Pak Fajrin guru bahasa indonesia. Tidak hanya sebagai tempat wisata saja, karena itu adanya bilyard dan karaoke musik dangdut menyebabkan merusak suasana candi Ngempon. Hal ini diketahui pada hari Selasa, 13 Maret 2012 ketika siswa kelas VIII SMP 17 Bawen pergi ke candi Ngempon untuk belajar menulis berita.

Mungkin karena pada hari itu tidak hari raya sehingga kalau tidak ada musik dangdut akan terasa sepi. Hiburan selain musik dangdut adalah pemandian air hangat, flying fox, dan pemandangan sungai dan sawah, kata Pariyanto sang juru kunci.

Fungsi Religi Candi Ngempon Masih Ada



Perpustakaan Belum Ada di Sekolah

SMP 17 Bawen sampai sekarang ini masih belum punya perpustakaan sekolah sendiri dikarenakan tidak ada tempat dan tidak ada buku untuk perpustakaan. Buku-buku yang bisa di pinjam siswa baik itu buku pelajaran apalagi buku bacaan dan hiburan sangat sedikit sekali jumlahnya. Belum ada tempat khusus untuk perpustakaan. Untuk sementara perpustakaan masih berada diruang guru.

Lomba Kebersihan Kelas

Siswa SMP 17 Bawen seminggu ini gemar membersihkan kelasnya mereka sendiri karena ada lomba kebersihan kelas. Lomba ini tujuannya untuk menyambut kedatangan penilik sekolah Bapak Agung Patrianto agar tidak malu kalau kelasnya kotor. Kelas terbersih akan mendapatkan hadiah dari kepala sekolah, Ibu Endang Lestari Rahayu, S.Pd.

Kelas VIII Ingin Menjadi Juara Lomba

Pada tgl 27 pebruari 2012, bertempat di smp 17 Bawen kelas VIII ingin memenangkan lomba kebersihan yang di adakan oleh Kepala Sekolah. Kelas VIII orangnya pandai-pandai dan baik-baik, dalam beberapa lomba sering di menangkan kelas VIII, contohnya: lomba Sepakbola, kebersihan, tenis, dll.

Persiapan Ujian Nasional

Kelas IX mendapat jam tambahan belajar untuk mapel yang dijadikan Ujian Nasional. Jam tambahan itu dilaksanakan setelah pulang sekolah. Jam tambahan diberikan oleh Bu Endang, Bu Feri, Bu Elly, dan Bu Mislichah yang mengampu mapel yang diujikan saat UN bulan April mendatang.

Banyak siswa yang mengaku ketakutan dan khawatir tidak lulus. Banyak dari mereka yang sebenarnya menginginkan UN tidak ada seperti yang dikatakan oleh Bayu dan Angga siswa kelas IX. Tetapi banyak siswa yang masih membolos tidak mengikuti jam tambahan. Setelah pulang sekolah mereka langsung pulang dengan alasan lapar.

Kegiatan Ekstrakurikuler Minim

Banyak siswa SMP 17 Bawen yang memiliki bakat yang bagus. Misalnya, Roy murid kelas VIII bisa bermain band. Tetapi bakat mereka banyak yang tidak tersalurkan. Roy yang berasal dari Denpasar Bali ini adalah drummer.

Di SMP 17 Bawen tidak ada kegiatan ekstrakurikuler. Padahal selain Roy, banyak lagi yang punya bakat, misalnya Wahyu gemar bermain sepak bola. Tetapi sekolah ternyata tidak siap membuat ekstrakurikuler karena keterbatasan biaya dan waktu. Guru yang melatih ekstra juga tidak ada.

Selasa, 20 Juni 2017

Memang Banyak Kebutuhan Saat Lebaran, tapi mbok ya jangan nganu


Lebaran tinggal menghitung hari. Beberapa hari lagi umat Islam di seluruh dunia akan merayakannya, menyambut kemenangan setelah sebulan berpuasa dengan penuh kegembiraan. Tak terkecuali di Indonesia, negara kita tercinta yang penduduknya mayoritas muslim ini.

Tapi benarkah semua umat muslim di Indonesia saat ini sedang menyambut lebaran atau Idul Fitri ini dengan penuh kegembiraan? Tampaknya tidak semua. Beberapa di antaranya malahan menyambutnya tidak dengan suka cita bahagia, tetapi justru sebaliknya.

Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang kemarin saya lihat dalam berita di tivi. Kok bisa-bisanya dalam suasana bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini, malah ada yang merampok di SPBU. Ada juga yang menjambret. Di kampung saya sendiri juga kemarin ada yang kena gendam dan pencurian. 

Sebenarnya untuk apa mereka melakukan kejahatan-kejahatan tersebut? Mereka sedang benar-benar membutuhkan uang, mumpung sedang ada kesempatan, atau memang itulah pekerjaan mereka? Kasihan sebenarnya, kalau mengingat hidup ini cuma sekali kok digunakan untuk maksiyat dan melakukan yang jelek-jelek. 

Kemarin malah saya dengar berita juga, tapi bukan di tivi, melainkan dari cerita mulut ke mulut aja. Bahwa di Kudus, dua orang penjambret terlindas truk dan tewas seketika. Awalnya penjambret tersebut berusaha mengambil tas milik sepasang suami istri yang melintas bersamaan. Tarik-tarikan tas terjadi. 

Si suami ternyata tidak tinggal diam. Dia nggak mau menyerah begitu saja melihat istrinya berjibaku mempertahankan tasnya. Sontak si suami pun menendang motor si penjambret (bahasa Jawanya adalah: mancal) dan hasilnya dua penjambret tersebut pun jatuh. Naas bagi mereka, sebuah trus melintas dan menggilas mereka. Meninggal ketika melakukan tindak kejahatan. Akhir yang sangat buruk dan menyedihkan, bukaan?

Semua pekerjaan, apa pun itu, memang penuh dengan risiko. Tapi mbok ya pilih pekerjaan yang sekiranya baik, baik bagi diri kita, keluarga kita, juga untuk orang lain. Dalam artian, tidak menyusahkan dan merugikan orang lain.

Menjambret. Semua orang tahu bahwa itu buruk. Begitu juga dengan mencuri, menipu, menggendam, merampok, dan lain-lainnya. Tapi kenapa masih dilakukan? Apa karena pekerjaan-pekerjaan itu gampang? Saya rasa kok malahan sulit dan risikonya juga besar. Kadang harus bertaruh nyawa demi mencapai "keberhasilan". Tidak sebanding antara risiko, bahaya yang harus ditanggung dengan pendapatan. Daaan, kalau pun toh mendapat banyak uang dari situ, itu juga nggak bakalan berkah. Nah.

Lalu apa yang menyebabkan mereka masih nekad melakukannya? Apa karena lebaran? Memangnya kenapa kalau lebaran? Harus ada baju baru? Harus ada sepatu baru? Harus ada makanan-makanan lezat?

Dea Ananda dulu sudah mengingatkan:
Baju baru alhamdulillah
dipakai di hari raya
tak ada pun tak apa-apa
masih ada baju yang lama

Lalu, untuk apa lagi? Memang Banyak Kebutuhan Saat Lebaran, tapi mbok ya jangan nganu!

Minggu, 18 Juni 2017

Ramadhan yang segera berakhir

Ramadhan yang segera berakhir


Tak terasa bulan ramadhan yang penuh berkah ini telah memasuki sepuluh hari terakhir. Kalau kata ustad yang ceramah kultum subuh tadi, ini seperti sudah memasuki babak semifinal atau bahkan sudah masuk final. 

Di sini, pertanyannya adalah, apakah masing-masing kita akan keluar sebagai juara, dan berhak menyandang gelar mutaqin atau orang yang bertaqwa; atau malahan kita gagal di final tersebut. 

Tentu saja kita menginginkan meraih kemenangan, sehingga di hari fitri (Idul fitri) nanti selain menjadi orang yang bertaqwa, kita juga seperti terlahir kembali. Seperti bayi yang baru saja lahir, tanpa dosa karena mudah-mudahan dosa-dosa ini lebur dan termaafkan, dan kehadirannya penuh dengan kegembiraan.

Kita memang tidak bisa tahu secara pasti, seperti apa raport kita selama ramadhan ini. Hanya Allah yang tahu. Cuma dua hal kita bisa lakukan, yaitu takut dan harap (khauf dan raja').

Kita takut dan khawatir amalan-amalan kebaikan kita ternyata tidak diterima, khawtir bahwa selama satu bulan lamanya di mana setan-setan terbelenggu ternyata nafsu kita masih saja belum bisa terkendali, sehingga kebaikan-kebaikan yang kita perbuat masih saja kalah dengan keburukan dan kesia-siaan kita.

Juga penuh harap. Kita hanya bisa berharap sekecil apa pun, amalan kita yang sedikit itu akan diterima oleh Allah Swt, menyebabkan Allah ridho kepada diri kita. Kalau Allah sudah ridho kepada kita, hakikatnya kita sudah tidak perlu lagi yang lain-lainnya.

Namun kiranya kita perlu muhasabah, introspeksi diri, mencoba berkaca dan melihat diri kita. kira-kira saja. 

Apakah selama bulan ramadhan ini kita telah berbuat baik? Atau adakah kita justru telah berbuat keburukan, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi?

Adakah perbuatan kita yang menyenangkan orang lain? Atau kah justru ada perbuatan-perbuatan kita yang menyakiti hati orang lain? Lebih banyak mana antara perbuatan yang menyenangkan dengan yang tidak menyenangkan?

Adakah target amalan yang dicanangkan selama bulan ramadhan itu telah terpenuhi? Misalnya selama ramadhan kita bertekad merampungkan bacaan Al-Quran 30 juz? Atau target-target yang lain, misalnya tidak bolong puasa dan shalat berjamaah di masjid atau mushala?

Mungkin kita merasa lucu, mana ada target amalan kebaikan? Bukankah lebih baik kita beramal saja dan jangan malahan sibuk menghitung amal? Buat apa target tersebut? Mungkin saja kita lupa, jika dalam urusan keduniaan kita biasa mematok target tinggi, misal penghasilan sekian sekian, penjualan sekian sekian, lalu kenapa untuk target amaliah dan ibadah dianggap lucu dan mengada-ada?

Kalau kita sudah selesai memuhasabah diri, kita bisa mengira-ira, berhasilkah kita melewati masa ujian selama ramadhan? Jika iya, kita patutlah bersyukur, dan tanda orang bersyukur adalah terus berusaha mempertahankan kebaikan tersebut.

Sebaliknya, jika ternyata kita kok nampaknya gagal, patutlah kita bersedih. Sebab, di bulan ramadhan saja kita lemah dalam amalan, lantas bagaimana nanti di bulan-bulan lainnya? 

Sebagai penutup tulisan ini, ingin saya sampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, setiap sampai di penghujung ramadhan seperti ini, saya selalu ingat lirik sebuah lagu milik grup legendaris Bimbo. Kira-kira seperti ini.

____
Setiap habis ramadhan
Hamba rindu lagi ramadhan
Saat saat padat beribadah
Tak terhingga nilai maknanya

Setiap habis ramadhan
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan
Berilah hamba kesempatan
______