Malam Lelayu dan Hal-Hal yang Saya Sesali
latihan menulis lagi - 2
diselesaikan pada hari Selasa, 14 April 2026
![]() |
| Ilustrasi gambar bikinan chatgpt |
Malam Lelayu dan Hal-Hal yang Saya Sesali
Kira-kira pukul setengah sebelas malam. Saya pulang dari rumah Ibu saya, habis bantu-bantu beres-beres karena ada acara pengajian yasinan rutin malam Jumat yang hari itu kebetulan bertempat di rumah Ibu.
Di tengah perjalanan pulang itu, saya mendengar kabar ada lelayu. Salah seorang tetangga kami meninggal dunia, kira-kira sekitar jam sepuluh malam. Cukup mengejutkan, karena sebelum wafatnya, beliau masih sempat membimbing ngaji ibu-ibu di perumahan sekitar maghrib hingga isya.
Bergegaslah saya bersama para tetangga yang lain untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari memasang tenda, mengambil keranda, menata kursi, sampai menyiapkan barang-barang seperti gelas, piring, dan lain-lain di rumah shohibul musibah.
Barang-barang itu harus diambil di gudang RW di perumahan kami. Kami mengambilnya menggunakan mobil pick up. Akan tetapi tentu saja, untuk mengangkut semua barang yang cukup banyak itu tidak cukup sekali jalan. Untuk mengangkut besi-besi tenda saja, mobil itu sudah penuh.
Akhirnya saya memutuskan, bersama tiga orang tetangga lainnya (Mas Feri, Mas Dwi, dan Mas Dodon), untuk mengusung keranda mayat yang berbahan besi itu dengan berjalan kaki saja, berempat.
Yah, namanya juga bermasyarakat, guyonan itu biasa. Lumrah saja. Meskipun dalam suasana duka, tetap saja ada celetukan-celetukan kecil di tengah jalan. Tetapi di balik itu, saya merasakan satu hal yang cukup mengganggu.
Perjalanan kami tidak begitu nyaman. Salah satunya memang karena keranda itu cukup berat, meskipun masih kosong. Belum ada jenazahnya. Tapi ada hal lain yang lebih terasa.
Tinggi badan saya tidak seimbang dengan teman-teman yang lain. Mereka bisa dengan mudah meletakkan pegangan keranda itu di pundak mereka. Sementara saya tidak bisa. Jonjing, tidak seimbang. Tidak enak, dan cukup menyiksa di tangan. Itu yang saya rasakan.
Sebenarnya situasi seperti ini bukan yang pertama saya alami.
Beberapa tahun yang lalu, saat masa pandemi covid-19, saya pernah ikut terlibat sebagai pengusung peti jenazah yang teridentifikasi covid. Di situ juga sama. Masalahnya tetap soal keseimbangan. Tinggi badan saya berada di bawah rata-rata teman-teman yang lain.
Padahal sebenarnya saya tidak pendek-pendek amat, sekitar 155 cm. Tapi ya mau bagaimana lagi. Saat itu tidak semua orang bersedia menjadi relawan. Jadi siapa pun yang siap, ya langsung terjun saja.
Mengangkat peti tentu berbeda dengan keranda. Tidak ada pegangan seperti ini. Berjalan malam-malam di kuburan, dengan lampu penerangan darurat, dengan sepatu bot yang berat, dan lagipula harus memakai APD (alat pelindung diri), beberapa kali tersandung nisan. Apalagi ketika harus menurunkannya ke liang lahat. Itu benar-benar repot, menguras tenaga, dan menguji kesabaran. Masa-masa itu memang serba tidak mudah.
Kembali ke malam itu, entah kenapa, dari situ pikiran saya jadi ke mana-mana.
Tiba-tiba, bukannya tidak bersyukur ya, namun rasa penyesalan itu datang lagi, seperti diingatkan. Penyesalan tentang hal-hal yang dulu saya abaikan. Tentang kenapa badan saya tidak bisa lebih tinggi seperti kebanyakan teman saya. Lalu soal gigi saya yang sudah bobrok sejak kelas 3 SD sampai sekarang. Dan juga penyesalan kenapa dulu saya tidak lebih rajin membaca dan berlatih banyak hal ketika saya masih kecil atau remaja.
Mungkin bagi teman-teman yang lain, ketidakseimbangan saat mengangkut keranda itu bukanlah masalah besar. Tapi bagi saya, itu cukup terasa. Dan seperti biasa, untuk menutupi itu semua, saya lempar saja dengan guyonan.
“Dulu waktu SMP, teman saya Agung pernah bertanya, ‘pendek badanmu berapa?’ bukan tinggi badan kamu berapa?! Hahaha.”
Nah, ketika kami sudah sampai di rumah duka, suasana gotong royong masih terus berjalan. Para tetangga mulai memasang tenda. Lagi-lagi saya merasakan hal yang sama.
Mereka yang punya badan lebih tinggi terlihat lebih mudah memasang bagian atas tenda, menyusun besi, atau memasang terpal. Sementara saya, sekali lagi, saya yang pendek ini, tentu lebih banyak di bawah. Melihat, membantu sebisanya, dan sesekali berkomentar.
Saya sempat bercanda, “Inilah enaknya jadi orang pendek, wajib dimaklumi kalau tidak banyak berkontribusi di atas.” Hehehe.
Tapi di balik candaan itu, ada pikiran lain yang muncul.
Anak saya yang pertama, sekarang berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5, sepertinya juga belum memiliki postur badan yang ideal. Saya jadi khawatir.
Berkali-kali saya bilang kepadanya, jangan sampai “kesalahan” bapaknya dulu terulang lagi. Jangan malas bergerak. Jangan malas berusaha. Harus jadi orang yang tinggi, baik itu tinggi postur tubuhnya, tinggi ilmunya, dan punya ketinggian budi pekertinya.
Saya sudah sering mengajaknya berolahraga, mengajarinya berenang. Bahkan saat ulang tahunnya yang ke-10, saya check-out-kan besi untuk latihan pull up, yang katanya cukup mujarab membantu menambah tinggi badan di masa pertumbuhan.
Soal nutrisi juga saya usahakan. Saya tidak pernah membatasi makannya. Selama dia mau dan doyan, malah sering saya tawari untuk nambah lagi.
Entah nanti hasilnya bagaimana.
Malam itu akhirnya membuat saya sadar, bahwa kadang penyesalan datang dari hal-hal yang dulu kita anggap sepele. Hal-hal kecil yang kita tunda, kita abaikan, atau kita anggap tidak penting.
Sekarang, ketika sudah dewasa, baru terasa dampaknya. Bahkan dalam hal sederhana seperti mengusung keranda di tengah malam.
Saya tidak tahu apakah semua ini bisa diperbaiki sepenuhnya, atau tidak. Rasa-rasanya sih saya sudah tidak bisa memiliki postur lebih tinggi. Yang terjadi justru badan yang melebar dan perut yang semakin buncit. Tapi setidaknya, saya tidak ingin hal yang sama terulang begitu saja pada anak saya.
Malam itu selesai seperti biasa. Tenda berdiri, kursi tertata, jenazah selesai disucikan, dikafani, dishalatkan, dan didoakan.
Kira-kira pukul dua dinihari, saya pulang dengan tangan yang masih sedikit terasa pegal.
Entah karena mengangkat keranda, atau karena memikirkan hal-hal yang seharusnya sudah saya selesaikan sejak lama. [M. Rifan Fajrin]

