Anak, Pendidikan, dan Kekhawatiran Zaman Ruwet
latihan menulis lagi - 1
Rabu, 8 April 2026
![]() |
| ilustrasi gambar bikinan chatgpt |
Anak, Pendidikan, dan Kekhawatiran
Zaman Ruwet
Khotbah Jumat kemarin, khatib menyampaikan anjuran agar orang tua
mempertimbangkan memasukkan anak ke pondok pesantren, baik laki-laki maupun
perempuan. Menurutnya, keunggulan pesantren itu tidak hanya mengajarkan ilmu
umum, tetapi juga mengajarkan ilmu agama, akhlak, dan adab dalam porsi yang
lebih kuat dibandingkan dengan pendidikan di sekolah umum. Bahkan hari ini,
banyak pesantren yang memungkinkan anak tetap menempuh pendidikan formal sambil
mondok. Ya sekolah ya mondok. Ya belajar ya ngaji.
Di balik anjuran itu, terseliplah nada keprihatinan. Menurut Khatib, ada
kemunduran pada generasi sekarang. Seuatu yang terasa sungguh ironi di tengah
pesatnya kemajuan zaman. Teknologi berkembang begitu cepat, kecerdasan
artifisial di mana-mana, tetapi pada saat yang sama, ada sesuatu yang terasa
tertinggal. Ruwet di mana-mana.
Saya menyimak khotbah itu, sambil menahan rasa mengantuk. Sementara anak
saya, Ilyas, yang berusia 11 tahun duduk di samping saya. Sesekali saya melirik
ke arahnya, mengusap kepalanya, dan mengisyaratkan padanya untuk duduk dengan
baik, tidak ndlosor. Entah karena
belum memahami, atau memang tidak tertarik, ia tampak tidak benar-benar
menyimak isi khotbah. Biarlah. Saya kembali menatap ke depan, tetapi pikiran
saya mulai ke mana-mana. Walhasil, kuping saya mendengar apa yang disampaikan
khatib, tapi saya tidak benar-benar mendengarkannya. Sebab, saya melamun.
Sebagai seorang bapak, sekaligus guru di sekolah dasar, saya tidak bisa tenang
melihat hal itu. Rasa khawatir pelan-pelan kembali muncul. Khawatir tentang
masa depannya, tentang bagaimana ia akan tumbuh, dan tentang dunia seperti apa
yang akan ia hadapi nanti.
Pada akhirnya, saya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ia tumbuh menjadi
anak yang baik dan kuat menghadapi zamannya. Menghadapi tantangannya sendiri
nanti.
Kegelisahan itu juga mengingatkan saya pada kondisi di sekitar, termasuk
di sekolah tempat saya mengajar. Kita hidup di masa ketika informasi begitu gampang
diakses, tetapi kecakapan dasar justru tampak memudar. Tidak sedikit anak-anak
yang belum menguasai kemampuan paling mendasar. Menulis rapi masih PR besar. Jangankan menulis bagus dan rapi, saat ini tidak sedikit anak-anak
yang punya font huruf ruwet nggak karuan. Tulisannya sulit dibaca, untuk tidak mengatakan
bahwa tulisan mereka tidak bisa dibaca. Lha wong acapkali saya temui, anak-anak
itu bahkan mengalami kesulitan membaca tulisan mereka sendiri.
Membaca juga belum lancar, masih terbata-bata pada. Belum membaca, baru mengeja.
Yang sudah bisa membaca, masih harus digenjot lagi dalam hal memahami
bacaannya.
Untuk pelajaran matematika apalagi. Bahkan untuk memahami operasi
matematika sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan
pembagian, itu sulitnya minta ampun. Bisa dibayangkan ketika mereka dikasih
soal cerita matematika, persoalannya jadi dobel, membaca dan memahami masalah,
lalu menyelesaikannya dengan operasi hitung. Ruwet.
Di luar akademik, keadaan tidak jauh berbeda. Kecakapan hidup (lifeskill) yang dulu dianggap biasa saja
kini terasa langka. Anak sekarang belum terbiasa dengan pekerjaan sederhana
yang dulu dianggap lumrah. Berapa banyak murid laki-laki kita di sekolah yang
setidak-tidaknya kenal dengan alat-alat sederhana? Atau mampu melakukan “pekerjaan
laki-laki” seperti memaku, memotong kayu, mengukur dengan meteran, atau
menyambung kabel? Anak-anak perempuan juga begitu. Berapa di antara mereka yang
bisa memotong kain, misalnya. Atau setidaknya mengenal bumbu dapur? Hal-hal
kecil yang sebenarnya penting untuk kemandirian justru sering terlewat.
Yang lebih mengkhawatirkan, tentu bukan hanya soal keterampilan, tetapi
juga sikap. Sikap, unggah-ungguh, rasa hormat, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai itu terasa tidak lagi sekuat dulu hadir dalam keseharian anak-anak.
Guru dan orang tua sudah dianggap seperti teman saja, atau malahan tidak
dianggap? Duh.
Sebenarnya hal ini menunjukkan bahwa pendidikan hari ini belum sepenuhnya
berhasil membentuk mereka menjadi manusia yang utuh. Kita mungkin berhasil
mencetak anak-anak yang akrab dengan teknologi (yang awalnya gara-gara suka nonton
youtube dan ngegame online). Tetapi belum tentu kita mampu mencetak anak-anak
yang sadar dengan kehidupan yang dijalani anak-anak itu sendiri.
Kembali ke khotbah tadi, mungkin maksudnya begitu. Dari situlah mungkin
gagasan tentang memasukkan anak-anak ke pesantren menjadi sangat menarik untuk
dipertimbangkan.
Pesantren, dalam banyak hal, bukan sekadar tempat belajar. Pesantren
adalah lingkungan yang membentuk kebiasaan. Sambil mondok, anak tidak hanya
diajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana harus bersikap. Ada
kedisiplinan waktu, pembiasaan ibadah, penghormatan kepada guru, dan kehidupan
bersama yang melatih tanggung jawab dan persaudaraan.
Saya sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren. Namun saya
melihat bagaimana banyak teman yang tumbuh dari lingkungan tersebut memiliki
dasar yang kuat. Ada teman kuliah saya, dulu kuliah sambil mondok. Sekarang
sudah jadi doktor yang punya jabatan atau peran atau posisi di kampus
masing-masing, kampus tempat mereka mengajar. Ada dua orang. Belum yang
lainnya. Melihat mereka, rasa-rasanya, mereka tidak hanya menguasai ilmu,
tetapi juga terlihat lebih tenang dalam berpikir dan lebih siap menghadapi
kehidupan di masyarakat. Ndonyane entuk akhirate yo entuk.
Diam-diam saya punya keinginan agar anak lanang saya ini kelak mau belajar
mondok di pesantren. Agar memiliki kehidupan yang lebih beruntung ketimbang
bapaknya.
Meski demikian, pesantren tentu bukan satu-satunya jawaban. Bagaimana pun
tidak semua anak harus mondok, dan tidak semua persoalan pendidikan selesai
hanya dengan memindahkan tempat belajar. Ada peran besar yang tetap harus
dijalankan oleh keluarga dan sekolah. Orang tua adalah pendidik pertama, dan
rumah adalah tempat belajar yang paling awal. Orang tua di rumah adalah guru
yang pertama dan utama bagi anak. Sementara itu guru di sekolah adalah juga orang
tua bagi murid-muridnya di sekolah.
Barangkali yang perlu kita renungkan bukan sekadar ke mana anak harus
sekolah, melainkan menjadi manusia seperti apa anak kita kelak. Sebab pada
akhirnya, kecanggihan zaman tidak akan banyak berarti jika tidak diimbangi
dengan kecakapan dasar, akhlak, dan kemampuan menjalani kehidupan dengan baik.
Dan mungkin, kegelisahan yang saya rasakan saat duduk di samping anak saya
di masjid itu adalah pengingat sederhana: bahwa mendidik anak bukan hanya soal
memilih tempat terbaik, tetapi juga tentang terus menjaga harapan, usaha, dan
doa. [Rifan Fajrin]

