Dibully Preman? Lawan!

rifanfajrin.com - "Dibully Preman? Lawan!" Cara Gampang Menghadapi Preman! :P
 



Suatu petang....
Saya, istri, dan tentu saja Ilyas, cojeng2 (pinjam bahasane kang Saef Reborn, artine jalan-jalan)... kami pun magriban di masjid besar di alon-alon kota... langit cerah, tak ada mendung, angin juga nggak dingin, nyaman pokoknya.. maka kami memutuskan utk nongkrong sejenak menikmati indahnya petang di taman di alon-alon kota, kerlap-kerlip lampu taman, anak-anak kecil yang berlari-lari kecil, o asyiknya...

Waktu kami lagi asyik-asiknya, 4 orang pemuda datang menghampiri kami... istri saya sudah agak-agak nggak enak perasaannya, mbok santai saja orang beriman itu hidupnya santai, saya bilang... ngapain takut, pemuda-pemuda itu juga manusia kok, yang bisa diajak ngomong baik-baik.... lalu

Salah seorang dari mereka mintak uang dengan mengathungkan tangan kok ndelalah di depan muka saya... lalu saya bilang, "Ini minta apa nodong?" Nggak tau ya, kok tiba-tiba saya menyadari bahwa nada bicara saya agak meninggi, mungkin karena saya #gengsiDong "ditodong" di depan mata kepala anak dan istri saya....

Nom-noman itu rupanya agak kaget juga sedikit saya bentak... lha wong saya ini badannya kecil, sedikit jenggotan, tampang alim laah, kok berani mbentak... mbentak 4 orang lagi.... dia dan rekan-rekannya pun saling pandang. Lalu temannya nyolot... "Minta seikhlasnya! Pecisan! Ngaji sregep solat tekun kok beramal pelit!"

Jangkrik!
"Endasmu! Njaluk kok ora sopan! Sopo wae ra bakal ikhlas to, Nyeeeet, Nyet! Kui jenenge nodhong! Nek nodhong ra usah neng ngarepe anak bojoku! Tak remuk raimu kabeh!"

Wes tanggung, boos! Sekeliling banyak orang melihat keributan kecil ini. Saya sih yakin aja banyak orang yang pasti akan membantu saya misal pemuda-pemuda kapiran ini memilih njotosi saya...

Alhamdulillah sih... kok bisa-bisanya setelah saya "waneni" begitu mereka pada mengkerut seperti rendaman cucian kaos kakik.

Ya gimana, saya ingat nasihat Bang Kadir ke saya begini: "Melihat postur tubuhmu yang kecil tapi ketika berani ngelawan, orang pasti mikir... iki cah cilik kok wani, mesti ora wong sembarangan..." yah, meski sangat berisiko juga kalu nasihat ini betul-betul saya praktikkan, lah secara kenyataannya saya emang nggak bisa gelut.. salah-salah raiku mbendol-mbendol...

Tapi mungkin petang itu Rahmat dari Alloh Swt sedang melingkupi kami.... bedhes-bedhes tengik itu pergi meninggalkan kami tanpa saya kasih uang sepeser pun! Cuman mereka masih kurang ajar, meninggalkan kami sambil meludah!

Batin saya, "Ijeh kakehan petingkah ik, tak suwek2 blesekke kandhang sapi sisan!"

.

.

.

.
Pesan moral: Jangan takut!
Menulislah! Percoyo, kowe menangan nek mung nang njero cerito!

#cerita di atas hanyalah fiktif belaka.... kalau saya menangan, sangar, lah kan saya yang nulisss??? Bebas to yaa

rifanfajrin.com
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon