Mengakui Kesalahan ~ Catatan Sehari-Hari di Ruang Kelas Kami

Acapkali kami mengawali kelas dengan mengeluarkan buku catatan harian.

Buku catatan harian ini kami gunakan untuk mencatat apa saja yang kami rasakan, kami pikirkan, kami rencanakan, atau sekadar mencurahkan ide dan gagasan.

Selain untuk hal-hal di atas, rutinitas kecil ini kami maksudkan agar anak mulai terbiasa menulis. Sehingga makin baguslah tulisannya, baik bentuk hurufnya, maupun kalimat yang dihasilkannya.

Suatu hari, kami mengawali catatan harian dengan sebuah pertanyaan:

"Kesalahan apa yang kamu buat baru-baru ini?"

Terhadap pertanyaan yang saya ajukan ini, anak-anak sejenak terdiam dan tidak merespons. Beberapa dari mereka malah saling memandang satu sama lain.




Saya melihat anak-anak sedikit kebingungan. Maka kemudian saya bertanya kepada salah satu siswa.

"Apakah kamu tadi pagi sudah salim (bersalaman dan mencium tangan) Ayah Ibu ketika berangkat sekolah?"

Anak yang saya tanyai menjawab, "Sudah, Pak!"

Akan tetapi, ada juga yang ikutan menjawab pertanyaan tersebut sambil cengengesan. 

Tandanya, dia lupa tidak salim kepada orang tuanya ketika berangkat sekolah tadi pagi.

"Nah, 'kesalahan' itu bisa kalian catat," kata saya.

Selanjutnya, saya mengajukan pertanyaan lagi, "Adakah di antara kalian yang tadi ketika sarapan pagi lupa membaca doa sebelum makan?"

Ternyata, anak-anak yang lupa berdoa sebelum makan cukup banyak juga.

Barulah anak-anak merasa tidak kebingungan lagi untuk mencatat "apa kesalahan yang diperbuat baru-baru ini."

Mencatat kesalahan ini saya lakukan kepada anak-anak untuk menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Manusia adalah tempat salah dan lupa. 

Akan tetapi, kita juga harus belajar dari kesalahan kita, sebagai pengingat.

Kita ingat terus kesalahan kita dengan motivasi agar jangan sampai terulang kembali pada waktu-waktu mendatang.


Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf

Selain mengingat kesalahan dan berupaya tidak mengulang kesalahan, satu point lagi yang saya sampaikan kepada anak-anak adalah: Meminta MAAF.

Untuk kesalahan-kesalahan kepada manusia, tidak cukup hanya mengingat. 

Kita harus meminta maaf secara langsung kepada seseorang yang kita bersalah padanya.

Misalnya, kita berbuat kesalahan telah mengejek seorang teman.

Maka, yang seharusnya kita lakukan adalah meminta maaf kepadanya, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Kepada orang yang meminta maaf, saya juga menekankan agar memiliki dada yang lapang, memiliki sifat pemaaf.

Kita mungkin tidak akan lupa kepada seseorang yang telah bersalah kepada kita, juga bagaimana kesalahan orang tersebut sungguh menyakiti hati kita.

Namun, kita bisa melupakan peristiwa tersebut. 

"Kita lupakan meski kita enggak lupa."

Menjadi seorang pendendam bukanlah pilihan yang bagus.

Mudah-mudahan anak-anak mengerti. Dan tumbuhlah mereka menjadi pribadi-pribadi yang mulia pada masa-masa mendatang.
Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
Himawan sant
AUTHOR
29 Agustus 2018 14.10 delete

" kita lupakan meski kita ngga lupa " ..., nah kalimat itu benar banget, mas.
Pernah ada teman yang kata-katanya setajam pisau saking kedengaran menyakitkannya, tapi kalo dibawa dendam juga tidak baik, hanya merugikan kesehatan dan mental diri kita sendiri.
Dibawa maaf saja, meski kata'kata itu terlanjur ngga bisa dilupakan.

Reply
avatar
29 Agustus 2018 14.23 delete

Iya, Mas. Kita hanya bisa berusaha sekuat kita untuk memaafkan.

Kalu diminta untuk melupakan seratus persen, sebagai makhluk lemah bernama manusia, jujur itu berat. hehehe.

makasih mas

Reply
avatar
29 Agustus 2018 18.45 delete

Mas.. emang gamudah ya tanya hal sederhana gt ma anak2. Anakku bingung jg kutanya. Dan... cengengesan. Suka banget ide2nya. Mo kuterapin ke anak2 nih

Reply
avatar
29 Agustus 2018 22.44 delete

Makasih, Mbak Wahyu. Senang bila bermanfaat.

Reply
avatar

Terima kasih Anda telah membaca.
Silakan tinggalkan komentar.

Matur nuwun. EmoticonEmoticon