Buku Menulis Halus, Buku Komunikasi, dan Buku Catatan Pribadi Siswa

www.rifanfajrin.com


Memasuki semester genap ini, saya mewajibkan siswa untuk menyiapkan tiga buku: Buku Komunikasi, Buku Menulis Halus (menulis tegak bersambung), dan Buku Catatan Pribadi.

Dari ketiganya, sebenarnya buku komunikasi sudah sejak awal ada. Bahkan sejak dari kelas satu. Akan tetapi di kelas kami masih kurang optimal penggunaannya pada semester lalu.

Sedangkan dua buku lainnya, yaitu buku menulis menulis halus dan buku catatan pribadi, adalah buku yang baru. Selain memang saya rencanakan akan diterapkan pada awal semester dua, juga merupakan tindak lanjut (follow up) dari evaluasi semester gasal yang sudah kami lakukan.

Mengapa tiga buku tersebut menurut saya penting kehadirannya di kelas kami? Berikut ini penjelasannya.

1. Buku Komunikasi

Buku komunikasi adalah sarana untuk berkomunikasi antara guru dengan orang tua. Isinya bisa berupa catatan kejadian yang dirasa penting yang dialami oleh siswa hari itu. Bisa berupa catatan positif atau catatan yang negatif. Misalnya, hari ini si A tidak berkelahi di sekolah.

Catatan dari guru tersebut akan direspon oleh orang tua, juga dengan menuliskannya di buku komunikasi tersebut.

Jadi sebenarnya menurut pemahaman saya, tidak selalu siswa yang menulis di buku tersebut, tetapi guru atau orang tua bisa juga menulis di sana. Ya, untuk keperluan komunikasi tadi.

Namun pada praktiknya, komunikasi kami lebih sering menggunakan gawai yaitu di grup whatsapp. Sedangkan buku tersebut pada akhirnya "hanya" sebagai buku untuk mencatat daftar tugas siswa. Atau digunakan untuk mencatat, "Oh hari ini ada PR matematika." dan sebagainya.

Menggunakan whatsapp sebagai sarana komunikasi memang tidak salah. Tetapi pesan-pesan di grup whatsapp seringkali "tenggelam". Banyak sekali pemberitahuan/notifikasi yang ketika kita hendak membukanya kita sudah menduga-duga, "Penting nggak yaa...."

Kita sudah meluangkan waktu untuk membuka whatsapp, tetapi ternyata hanya ada beberapa hal yang sebenarnya kurang begitu penting.

Pada semester dua ini, saya ingin mencoba untuk merevitalisasi buku komunikasi. Hal itu saya maksudkan juga agar siswa bisa belajar bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Orang tua tinggal memeriksa saja.

Selama ini, justru yang aktif untuk bertanya adakah tugas atau pekerjaan rumah untuk siswa, adalah orang tua. :D

2. Buku Menulis Halus (Menulis Tegak Bersambung)

Buku ini menurut saya penting. Sudah saatnya anak-anak untuk lebih banyak berlatih menulis dengan bagus.

Bagaimana tulisan yang bagus? Menurut saya, setidaknya ada tiga kriteria tulisan yang bagus.

Pertama, tulisan itu harus bisa dibaca dengan baik oleh orang lain. Tulisan yang hanya bisa dibaca oleh dirinya sendiri, tentu bukan tulisan yang bagus. Lebih parah lagi kadang-kadang dia sendiri yang menulis juga tidak bisa membacanya. Hehehe.

Kedua, tulisan itu betul bentuk-bentuk hurufnya. Huruf kapital (huruf besar) harus berbeda bentuknya dengan huruf nonkapital (huruf kecil). Tulisan siswa-siswi kami masih banyak yang bercampur-campur tidak bisa dibedakan huruf kapital dan nonkapitalnya karena sama besarnya, sama ukurannya, dan sama bentuknya.

Ketiga, tulisan yang bagus adalah tulisan yang rapi.

Nah, saya pikir, dengan terbiasa berlatih menulis halus, tujuan kami agar setiap siswa bisa menulis dengan bagus mudah-mudahan bisa tercapai.

Sekadar catatan tambahan, beberapa waktu lalu anak-anak sempat protes kepada saya. Itu terjadi ketika saya mengajak mereka untuk melihat kembali bentuk-bentuk huruf kapital dan nonkapital. "Pak, kok kayak kelas satu saja!" begitu kata mereka. Tapi kan kenyataannya masih ada yang keliru dalam menulis.

Satu lagi, mulai kelas tiga, anak-anak saya ajak untuk mulai membiasakan diri menulis dengan bolpen. Ternyata beberapa anak masih mengalami kesulitan.

"Tulisan saya menjadi jelek kalau menulis dengan pen. Saya lebih suka menulis dengan pensil."

Ada juga, "Tulisan saya dengan pensil sudah jelek, apalagi dengan bolpen, tambah jelek lagi." hehehe.

3. Buku Catatan Pribadi

Ketika saya menjelaskan rencana saya tentang buku ini, ternyata buku inilah yang mendapat sambutan paling suka cita dari anak-anak. Mereka sangat antusias.

Apa itu buku catatan pribadi? Apa kegunaannya? Kapan anak-anak menulis dalam buku catatan pribadinya? Dan apakah buku ini ada "peraturannya"?

Baik. Buku catatan pribadi, namanya saja pribadi. Maka hanya pemiliknya saja yang boleh menulis di dalamnya. Hanya pemiliknya jugalah yang boleh membuka dan membaca isinya.

Lalu apa isi buku tersebut? Anak-anak bebas menuliskan apa saja ke dalam buku pribadinya. Dia bebas menulis tentang perasaannya pada hari itu. "Hari ini aku merasa bahagia karena ... bla bla bla." misalnya. Bila dia menemukan sebuah gagasan, boleh juga dia tuliskan di sana. Pokoknya apa saja, bebas. Tidak akan ada seorang pun yang tahu. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.

Sudah tiga hari ini pada akhir pembelajaran, sebelum mereka pulang, saya berikan kesempatan kepada siswa untuk menulis di buku diary-nya itu. Meskipun hanya 5 menit.

"Pak, jika saya pada saat istirahat saya ingin menulis di buku saya, apakah itu diizinkan?" Ya, silakan saja. Tetapi ingat, siswa hanya boleh mengambil dan membuka buku miliknya sendiri.

Masing-masing anak sudah mengerti "aturan main" buku itu.

  • Hanya boleh membuka buku miliknya sendiri
  • Siapa pun termasuk teman dekatnya tetap tidak boleh membacanya. Bahkan guru sekali pun tidak boleh. Kecuali, bila pemiliknya telah memberikan izin.
  • Akan ada sanksi bila ada yang melanggar aturan ini, yaitu ketika kita membaca buku milik siswa lain tanpa izin.
Pada hari pertama lalu, beberapa siswa memperlihatkan apa yang telah ditulisnya kepada saya.

Terakhir, apa manfaat dengan adanya buku tersebut? Bagi saya setidaknya ada dua manfaatnya:

Satu, melatih siswa untuk mengungkapkan gagasan dan perasaannya secara tertulis. Keterampilan ini cukup penting untuk dikuasai. Jangankan siswa, kami guru-guru mereka pun acapkali masih sering kesulitan untuk menulis.

Dua, melatih kejujuran siswa. Dalam hal ini adalah jujur kepada diri sendiri ketika menuliskannya, dan jujur dengan tidak membuka buku catatan milik orang lain.

Akhir kata, mudah-mudahan setiap niat baik kita bisa berbuah manis kelak di kemudian hari.
Previous
Next Post »

30 komentar

Write komentar
dini embun
AUTHOR
11 Januari 2018 16.49 delete

Ide yang luar biasa pak, melatih anak menulis sejak dini

Reply
avatar
11 Januari 2018 17.07 delete

itu disekolahnya ya bang diterapkan seperti ini menarik banget , kalau yang umum kan buku catatan ama buku latihan

Reply
avatar
Nuqman Rifai
AUTHOR
11 Januari 2018 20.55 delete

Dengan menulis kita juga bisa menambah wawasan kita juga, dan tulisan2 nanti dapat bermanfaat untuk khalayak yang lain.

Reply
avatar
Mbah Dinan
AUTHOR
12 Januari 2018 06.51 delete

mungkin kalau buku komunikasi, menulis halus, dan catatan pribadi siswa itu bisa kita sediakan min. tapi kalau di pontianak kebetulan sekolah anak saya menggunakan buku tema yang susah di dapat. ketika di tanya masing-masing sekolah ada pilihan buku tema tersendiri. pas pula tuh bukunya yang jarang dipasaran. akhirnya jadi masalah tersendiri bagi orang tua murid min...

yang saya bingung itu kok pilih buku temanya yang gak umum ya, apakah menyesuaikan dan dianggap bagus oleh pengajarnya ya min? tanggapan anda bagaimana min?

Reply
avatar
12 Januari 2018 14.45 delete

Alhamdulillah, Mbak Dini. Mudah-mudahan kami diberikan kekuatan untuk melanggengkannya dan semakin hari selalu bergerak ke arah yang lebih baik. :D

Reply
avatar
12 Januari 2018 14.47 delete

Iya, Mas. Buku latihan dan ulangan juga ada.
Namun buku ini khusus kami siapkan untuk tujuan-tujuan yang telah saya sebutkan di atas. :D

terima kasih, :)

Reply
avatar
12 Januari 2018 14.49 delete

Betul sekali, Mas Nuqman. Menulis juga bermanfaat untuk mempertajam ingatan kita akan sesuatu. "Mengikat ilmu" agar tidak lepas dari pemahaman kita, salah satu caranya juga menulisnya. :D

terima kasih.

Reply
avatar
12 Januari 2018 14.54 delete

Sebenarnya hampir sama keadaanya di sekolah kami, Pak. Untuk beberapa kelas yang telah menerapkan kurikulum 2013, kami juga masih harus menunggu buku-buku tema tersebut ada.

Bagaimana kalau buku tersebut belum ada, sementara anak-anak sudah harus masuk dan memulai pelajaran? Yah terpaksa guru-guru itu harus kreatif dan inovatif dalam menyusun materi pembelajaran. :D

Menurut kami, pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan harus selekasnya berbenah untuk siap menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kita. :D

Reply
avatar
12 Januari 2018 17.32 delete

buku menulis halus.. jadi ingat waktu SD.
sekarang masih ada g sih kurikulumnya menulis tegak bersambunng?

Reply
avatar
12 Januari 2018 18.00 delete

saya pikir buku menulis halus sudah tidak ada lagi sekarang
ternyata masih ada aja
saya jadi terbiasa menulis tegak bersambung karena buku ini

Reply
avatar
Andi Nugraha
AUTHOR
13 Januari 2018 01.34 delete

Jadi teringat buku menulis halus dulu. Terkadang suka kangen akan menulis halus gitu..he

Reply
avatar
Anonim
AUTHOR
13 Januari 2018 07.17 delete

Semoga buku yang pertama bisa dimanfaatkan lagi dengan maksimal di semester yang baru. :)

Reply
avatar
Wisnu Tri
AUTHOR
13 Januari 2018 11.08 delete

Pertama kali dengar buku komunikasi itu dari ponakanku yang masih SD. Dan menurut saya, itu memang sangat bermanfaat. Tentu orang tua akan merasa lebih terbantu juga karena perkembangan anaknya bisa dipantau selama mengikuti pembelajaran di sekolah.

Reply
avatar
Maya
AUTHOR
13 Januari 2018 13.38 delete

Ketiga buku itu memang penting, era digital tdk ssharusnya menyingkirkan buku komunikasi, kalau dulu aku belajar menulis bukunya halus kasar sekarang sekolah sdh jarang ada tulis bersambung atau halus kasar

buku pribadi serupa dengan buku diary ya pak, ini bisa menciptakan generasi literasi hehe

Reply
avatar
14 Januari 2018 00.52 delete

Saya sendiri kurang tahu, adakah kurikulum tentang menulis tegak bersambung.

saya hanya merasa keterampilan tersebut sangat penting untuk dilatih. :D

terima kasih kunjungannya, Mas. :D

Reply
avatar
14 Januari 2018 06.39 delete

mantap sekolah nya pak semoga ada sekolah lain yang terinspirasi

Reply
avatar
Ella fitria
AUTHOR
14 Januari 2018 18.19 delete

Wah luar biasa idenya.. Bolehkah saya ikut menerapkan tiga buku ini untuk anak2 saya pak? Sepertinya akan membawa dampak positif :)

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.23 delete

Selama masih diperlukan, saya kira buku tersebut masih terus ada, Mas.

Di zaman mengetik di atas tuts keyboard sekarang ini, ternyata keterampilan menulis tangan di atas kertas masih diperlukan. Kita juga masih diminta menulis lamaran di dengan tulisan tangan kita sendiri. :D

Terima kasih kunjungannya Mas.

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.25 delete

Betul, Mas.
Saya sendiri juga membeli buku gambar, bukan karena saya memang hobi menggambar. tetapi saya ingin mengenang dulu saya sekolah dan harus menggambar.

gambar saya sih sampai sekarang masih jelek, bagusan gambarnya anak-anak. :D

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.26 delete

Amiiin. terima kasih, Mas.

Mudah-mudahan kami guru-guru di sini senantiasa diberikan kekuatan untuk itu.

:D

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.27 delete

Sangat betul, Mas.

tinggal telaten saja menggunakan buku tersebut. :D

terima kasih

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.29 delete

Benar, Mbak Maya.

Mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak pada masa mendatang.

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.30 delete

Alhamdulillah, semoga demikian, mas Abd Kadir Rusdi.
Saling menginspirasi

terima kasih.

Reply
avatar
15 Januari 2018 09.32 delete

Tentu. Tentu saja, Mbak Ella.
kami juga akan menerapkan apa saja yang sekiranya baik untuk diterapkan di kelas kami.

terima kasih.

Reply
avatar
Ella fitria
AUTHOR
15 Januari 2018 16.39 delete

:) terimakasih, ide2 bapak luar biasa.. Apalagi kemarin dengan menerbitkan kumpulan puisi anak2.. Kereen

Reply
avatar
15 Januari 2018 23.24 delete

Terima kasih, Mbak Ella. Semoga kami tidak terlalu membanggakan diri. dan bisa terus berkarya. :D

Reply
avatar
16 Januari 2018 11.34 delete

Menulis halus, hadeh jadi keingat jaman sd dah,, belajar menulis tegak sambung (tulis tali namanya klo daerah saya)

Reply
avatar
16 Januari 2018 13.13 delete

Menulis tali, ya.. wah ini pengetahuan baru untuk saya. Itu dari daerah mana ya Mas?

mungkin juga di daerah lain punya nama masing-masing.

terima kasih.

Reply
avatar
Desi
AUTHOR
16 Januari 2018 13.15 delete

Melatih anak menulis dari sejak kecil bagus itu apalagi diperkenalkan dengan buku buku yang bagus dan berkualitas... bisa menambah pengetahuan anak dan mengembangkan pengetahuan anak menjadi lebih luas lagi ya hhe

Reply
avatar
16 Januari 2018 13.19 delete

Tepat sekali, Mbak Desi.
di kelas kami juga kami buat Pojok Baca dan Jurnal Baca.

Pojok baca itu semacam perpustakaan mini di dalam kelas kami. Anak-anak yang menyediakan sendiri buku-bukunya untuk dibaca.

Sedangkan jurnal baca kami buat untuk mencatat buku apa saja yang sudah kami baca. tapi bukan buku pelajaran. :D

terima kasih atas kunjungannya. :D

Reply
avatar

Terima kasih Anda telah membaca.
Silakan tinggalkan komentar.

Matur nuwun. EmoticonEmoticon