Penguatan Karakter Nasionalisme di Sekolah Dasar Labschool Unnes Semarang

Di sekolah kami, SD Labschool Unnes Semarang, sebelum pelajaran dimulai ada program penguatan karakter yang sesuai dengan visi dan misi sekolah kami. Jadi untuk mewujudkan visi sekolah yaitu: Menghasilkan insan yang relijius, berkarakter kebangsaan, berwawasan konservasi, dan unggul dalam prestasi; maka dibuatlah program-program pembiasaan/pembudayaan tersebut. 

Program tersebut dilaksanakan tidak lama, hanya sekitar 30 menit saja sebelum jam pertama pelajaran dimulai pukul 08.00. Yang penting adalah terus dilakukan secara kontinyu sehingga membentuk karakter.

Untuk hari Senin, tentu saja ada upacara bendera. Pada hari Selasa ada muatan Nasionalisme atau cinta tanah air. Pada hari Rabu pagi, ada gerakan Budaya Baca agar siswa-siswi termasuk guru mencintai bacaan dan literasi. Sementara siang harinya, yaitu Rabu pada istirahat ke dua, ada program berburu sampah sekitar lima menit. Pada hari Kamis ada program Moorning Meeting yang biasanya kami isi dengan kegiatan-kegiatan positif yang dikemas dalam permainan, pentas seni, dan sebagainya. Sedangkan pada hari Jumat, ada senam pagi dan setelah pelajaran usai ada program kerohanian, yaitu Baca dan Tulis Al-Quran untuk siswa muslim dan doa untuk siswa nonmuslim.

Nah, yang akan kami ceritakan di sini adalah kegiatan kami pada hari Selasa lalu, yaitu pada program dengan muatan nasionalisme dan cinta tanah air.

Di kelas saya, kelas 3B SD Labchool Unnes, saya ajak siswa-siswi saya untuk menyanyikan lagu-lagu wajib nasional Indonesia. Praktiknya, saya bikin beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang siswa. Mereka saya minta untuk membawakan lagu wajib nasional yang mereka pilih sendiri untuk dinyanyikan.


Dari empat kelompok yang terbentuk, terpilihlah lagu Garuda Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, Indonesia Tanah Air Beta, dan lagu Dari Sabang Sampai Merauke.

Target saya jelas, anak-anak wajib hapal dan bisa menyanyikan lagu-lagu tersebut. Selain itu, syukur-syukur mereka juga tahu siapa penciptanya. Maka saya tanyakan kepada mereka, dan saya ajak mereka untuk mencari tahu siapa pencipta lagu-lagu tersebut. Kemudian kami tahu, bahwa lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh Sudharnoto, Satu Nusa Satu Bangsa ciptaan Liberty Manik (L. Manik), Indonesia Tanah Air Beta diciptakaan oleh Ismail Marzuki, dan Dari Sabang Sampai Merauke diciptakaan oleh R. Suharjo.

Lagu tersebut kemudian kami nyanyikan secara medley, dan kami dokumentasikan di dalam sebuah video sederhana yang saya sertakan melalui tautan di atas.

Lalu, apakah bentuk penguatan karakter kebangsaan atau nasionalisme dan cinta tanah air itu cukup dengan menghapal dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional tersebut? Tentu saja tidak. Bentuk kegiatan tersebut hanyalah bagian kecil dari upaya menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur demi bangsa dan negara, hanyalah sebuah ikhtiar kecil untuk menginsyafi bahwa betapa besar jasa-jasa mereka demi bangsa dan negara yang besar bernama Indonesia ini, kemudian kami menyadari bahwa kini perjuangan mereka harus terus ada, dan itu kini tanggung jawab tersebut berada di pundak-pundak kita semua.

Demikianlah, sekelumit tentang kegiatan di sekolah kami. Kami menyadari masih jauh dari sempurna. Hanya niatan kami untuk lebih baik lagi ke depannya, semoga itu menjadikan kami terus kreatif dan inovatif demi kemajuan kita bersama. Amin.

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar

Terima kasih Anda telah membaca.
Silakan tinggalkan komentar.

Matur nuwun. EmoticonEmoticon