Memang Banyak Kebutuhan Saat Lebaran, tapi mbok ya jangan nganu


Lebaran tinggal menghitung hari. Beberapa hari lagi umat Islam di seluruh dunia akan merayakannya, menyambut kemenangan setelah sebulan berpuasa dengan penuh kegembiraan. Tak terkecuali di Indonesia, negara kita tercinta yang penduduknya mayoritas muslim ini.

Tapi benarkah semua umat muslim di Indonesia saat ini sedang menyambut lebaran atau Idul Fitri ini dengan penuh kegembiraan? Tampaknya tidak semua. Beberapa di antaranya malahan menyambutnya tidak dengan suka cita bahagia, tetapi justru sebaliknya.

Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang kemarin saya lihat dalam berita di tivi. Kok bisa-bisanya dalam suasana bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini, malah ada yang merampok di SPBU. Ada juga yang menjambret. Di kampung saya sendiri juga kemarin ada yang kena gendam dan pencurian. 

Sebenarnya untuk apa mereka melakukan kejahatan-kejahatan tersebut? Mereka sedang benar-benar membutuhkan uang, mumpung sedang ada kesempatan, atau memang itulah pekerjaan mereka? Kasihan sebenarnya, kalau mengingat hidup ini cuma sekali kok digunakan untuk maksiyat dan melakukan yang jelek-jelek. 

Kemarin malah saya dengar berita juga, tapi bukan di tivi, melainkan dari cerita mulut ke mulut aja. Bahwa di Kudus, dua orang penjambret terlindas truk dan tewas seketika. Awalnya penjambret tersebut berusaha mengambil tas milik sepasang suami istri yang melintas bersamaan. Tarik-tarikan tas terjadi. 

Si suami ternyata tidak tinggal diam. Dia nggak mau menyerah begitu saja melihat istrinya berjibaku mempertahankan tasnya. Sontak si suami pun menendang motor si penjambret (bahasa Jawanya adalah: mancal) dan hasilnya dua penjambret tersebut pun jatuh. Naas bagi mereka, sebuah trus melintas dan menggilas mereka. Meninggal ketika melakukan tindak kejahatan. Akhir yang sangat buruk dan menyedihkan, bukaan?

Semua pekerjaan, apa pun itu, memang penuh dengan risiko. Tapi mbok ya pilih pekerjaan yang sekiranya baik, baik bagi diri kita, keluarga kita, juga untuk orang lain. Dalam artian, tidak menyusahkan dan merugikan orang lain.

Menjambret. Semua orang tahu bahwa itu buruk. Begitu juga dengan mencuri, menipu, menggendam, merampok, dan lain-lainnya. Tapi kenapa masih dilakukan? Apa karena pekerjaan-pekerjaan itu gampang? Saya rasa kok malahan sulit dan risikonya juga besar. Kadang harus bertaruh nyawa demi mencapai "keberhasilan". Tidak sebanding antara risiko, bahaya yang harus ditanggung dengan pendapatan. Daaan, kalau pun toh mendapat banyak uang dari situ, itu juga nggak bakalan berkah. Nah.

Lalu apa yang menyebabkan mereka masih nekad melakukannya? Apa karena lebaran? Memangnya kenapa kalau lebaran? Harus ada baju baru? Harus ada sepatu baru? Harus ada makanan-makanan lezat?

Dea Ananda dulu sudah mengingatkan:
Baju baru alhamdulillah
dipakai di hari raya
tak ada pun tak apa-apa
masih ada baju yang lama

Lalu, untuk apa lagi? Memang Banyak Kebutuhan Saat Lebaran, tapi mbok ya jangan nganu!
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
July 12, 2017 at 10:44 AM delete

Baca judulnya pingin ngakak loh. Nganu na itu lo, mbok yo ojo nganu hehehe.

Baca di tengah kok piyee gitu. Ngeri ya, mo jambret malah kena truk. Hem... aku ngeri bacanya Mas.

Ya begitulah, memang lebaran identik dengan pengeluaran di atas rata2. Mungkin bisa dengan menabung dulu. Kalo ada yang ditabung. Soalnya masinbg2 orang lifestyle nya cem macem Mas Rifan.

Btw, seuju kok kalo lebaran ya mbok ojo nganu...

Reply
avatar
July 13, 2017 at 10:42 AM delete

Iya, Mbak. Satu Kata "Nganu" berjuta makna. hehehe.

Semoga kita bisa bertemu dengan puasa dan lebaran tahun depan. tentu dengan kualitas yang lebih baik dalam menjalaninya.l

Amiin.

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon