Nasehat Kiai Haji Anwar Zahid Bojonegoro dalam Khaul Kiai Hasan As'adi dan Kiai Turmudzi

Sabtu lalu, 29 April 2017, Kiai Haji Anwar Zahid dari Bojonegoro Jatim hadir dalam Khaul Kiai Hasan As'adi dan Kiai Turmudzi sekaligus Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Bertempat di Kupang Jetis Ambarawa, dengan bahasa "membumi", penuh kelakar, dan segar, beliau banyak memberikan tausiyah dan untaian mutiara nasehat kepada hadirin.

rifanfajrin.com

Bagi saya, inilah pengalaman pertama saya hadir dalam tabligh akbar beliau. Sebelum-sebelumnya saya hanya bisa menyimak ceramahnya di Youtube saja. :)

Berikut ini akan saya hadirkan sedikit catatan saya yang berisi nasihat-nasihat beliau untuk kita semua. Semoga berkenan menyimaknya.

rifanfajrin.com

1) Dalam kehidupan kita ini penting sekali untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT yang semestinya kita syukuri. Jangan hanya karena sedikit perbedaan menjadikan kita berpecah-belah. Indonesia adalah Negara yang majemuk, terdiri atas banyak suku bangsa dan bahasa, itu adalah modal yang kuat untuk menjadikan bangsa ini besar, bukan sebaliknya. Syaratnya adalah kita jangan mau dipecah belah/diadu domba.

2) Menjalani hidup ini, wajar dan semestinya kita tetap nyambung mempelajari kisah teladan orang-orang shaleh terdahulu, dari pada Nabi dan Rasul, para sahabat, tabiin, sampai kepada para ulama sebagai pewaris para Nabi. Begitu juga yang sedang kita lakukan ini, kita meneladani dan memperingati jasa-jasa Kiai Hasan As'adi dan Kiai Turmudzi yang telah mengajari dan membimbing umat. Jasa-jasa mereka jangan pernah dilupakan meski mereka kini telah "tertanam" di dalam tanah. Ibaratnya adalah sebatang pohon sebesar apa pun tidak akan tumbuh bagus apabila tidak nyambung dengan akar yang berada di dalam tanah. Sebaliknya apabila pohon tersebut walaupun kecil tapi masih nyambung dengan akar, maka dia akan terus bertumbuh dan akan berbuah juga. Pohon yang berbuah akan memberikan manfaat bagi orang banyak.

3) Dalam zaman dimana kemaksiatan telah merajalela ini, ibarat hidup pada zaman Nabi Nuh, maka siapa yang mau ikut masuk ke dalam perahu Nabi Nuh As maka dialah yang akan selamat. Seperti itu pula, perahu Nabi Nuh adalah pesantren-pesantren kita pada zaman sekarang ini dengan para ulamanya. Siapa yang mau ikut ulama, maka dia akan selamat. Dengan catatan, "perahu" tersebut jangan sampai bocorrr... Bocor oleh apa? Pesantren jangan sampai bocor oleh paham-paham yang merusak, seperti liberalis, hingga radikalisme. Pesantren harus berdiri tegak membentengi akhlak dan sebagai penjaga persatuan dan kesatuan sekaligus keutuhan NKRI kita tercinta ini.

4) Kita beruntung memiliki ulama sebagai pewaris para Nabi. Ulama yang betul-betul ulama. Ulama yang memiliki sanad keilmuan sampai pada Rasulullah Muhammad SAW. Bukan "ulama" yang abal-abal, yang ngajinya terjemahan, apalagi cuma modal Google! Dari para ulama inilah kita belajar agama dalam kehidupan. Dari ulama ini kita sudah tinggal praktek saja! Sholat zuhur 4 rokaat, ada tidak di dalam Al-Quran? Tidak ada! Ketentuan itu dari contoh Nabi SAW, yang dijelaskan oleh para ulama.

5) Kita suka gaya-gayaan, belajar agama langsung dari Al-Quran dan Hadits. Penjelasan ulama tidak didengar. Itu ibarat kita pengen minum madu, langsung dari silit tawon, ya lambemu njedhir! Cangkemu ndower dientup tawon! Begitu pula kalau kita ambil langsung dari Al-Quran dan Hadits kalau tanpa punya ilmunya, ya mumet dan pecah ndasmu! Bisa-bisa tersesat sejauh-jauhnya. Ulama mengajarkan Al-Quran dan Hadits dengan bekal ilmu yang dia pelajari bertahun-tahun di pesantren. Ilmu tafsir Al-Quran dan Hadits itulah ibarat alat untuk mengambil sari-sari madu dari lebah madu tadi.

6) Maka ulama-ulama ini harus kita hargai, kita hormati, kita muliakan, kita perhatikan keberadaannya. Karena ulama ini yang menjamin tetap berlangsungnya kehidupan yang baik. Nah, maka jangan sampai ada ulama yang melarat, ulama yang miskin. Kalau ada ulama yang kaliren, melarat dan nggak bisa makan, maka para pejabat itu yang dapat berdosa! Sebaliknya, kalau ada pejabat yang korupsi, bobrok akhlaqnya, maka yang dosa ya ulama'nya. Itulah sebabnya, antara ulama dan umara' (para pemimpin/pejabat) harus sinergis, harus kompak!

Demikianlah Nasehat Kiai Haji Anwar Zahid Bojonegoro dalam Khaul Kiai Hasan As'adi dan Kiai Turmudzi. 

Sebenarnya masih banyak lagi nasihat-nasihat bermanfaat dari beliau. Insyaallah akan saya Update, perbarui lagi tulisan ini pada waktu ke depan. Terima kasih.

Semoga dapat kita ambil pelajaran, hikmah, dan bisa kita amalkan.

Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon