Pentas Operet Kartini oleh Siswa Kelas 4 SD Labschool Unnes Semarang

Ada yang "baru" dalam acara Peringatan Hari Kartini 2017 SD Labschool Unnes Semarang. Tidak lain dan tidak bukan adalah pementasan Operet Kartini oleh siswa-siswi kelas 4. Kenapa saya katakan sebagai sesuatu yang "baru"? Karena seingat saya pada peringatan hari kartini pada tahun-tahun sebelumnya belum ada performance  yang menampilkan drama atau operet, kebanyakan hanya menampilkan fashion show, baca puisi tentang Kartini, paduan suara, atau tari.

Kata Operet berasal dari bahasa Italia, (jamak: operette) adalah genre opera ringan, "ringan" dalam hal musik dan opera. Operet adalah opera tetapi penampilannya berupa seperti teater musikal. Libreto operet lebih kepada dialog daripada nyanyian. Operet juga dianggap kurang "serius" dibandingkan dengan opera.
rifanfajrin.com
Operet Kartini ~ Salah satu adegan dalam Opera Karini.
Tokoh Kartini (diperankan oleh Faylasufa Avatarisha) - Foto: Bunda Faylasufa

Tahun ini, di bawah bimbingan wali kelasnya yang gokil abis yaitu Mister Dika Prestama sebagai penggagas ide, penulis skenario, sekaligus sutradara, mereka berhasil menampilkan operet yang cukup menghibur!

Operet Kartini ini diawali dengan penampilan anak-anak yang menari dan bernyanyi lagu milik Sherina. Judul lagu tersebut adalah "Kembali ke Sekolah", yang juga merupakan salah satu sound track lagu dalam film lawas "Petualangan Sherina".

Digambarkan di sana bagaimana siswa-siswi pada zaman sekarang bisa bebas merdeka menikmati masa-masa bahagianya di sekolah.

Kembali Ke Sekolah
Senang, riang, hari yang kunantikan 
Kusambut, 'Hai' pagi yang cerah 
Mataharipun bersinar terang 
Menemaniku pergi sekolah

Senang, riang, hari yang kuimpikan 
Jumpa lagi kawanku semua 
S'lamat pagi, guruku tersayang 
Ku siap mengejar cita - cita

Dengarlah lonceng berbunyi 
Kawan segeralah berlari 
Siapkanlah dirimu 
Dalam mencari ilmu

Waktu cepat berganti 
Hingga lonceng terdengar lagi 
Semua pun bersorak dengan riang

Senang, riang, masa depan 'kan datang 
Capai ilmu setinggi awan 
Hingga nanti aku t'lah dewasa 
Dunia kan tersenyum bahagia


***

Sesaat kemudian, kita dibawa flashback sekaligus inti cerita. Kita dibawa pada masa lampau, di mana perempuan (Jawa) pada saat itu terkekang oleh adat. Perempuan pada saat itu tidak boleh (dan tidak perlu) bersekolah tinggi-tinggi.

Betapa sedihnya Kartini. Cita-citanya yang tinggi harus pupus karenanya. Apalagi saat dia harus menerima kenyataan, dia dipingit sebagaimana kawan-kawan sebayanya dan akan segera dinikahkan dalam waktu dekat.

Namun, semangat Kartini terus menyala. Di tengah kesedihannya, dia menulis surat yang berisi kegundahannya, curahan hatinya, sekaligus pemikiran-pemikirannya kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, antara lain Stella Zeehandelaar, Nyonya Marie Ovink-Soer, Nelly Van Kool, dan juga Nyonya Abendanon. Nama yang terakhir itulah yang kemudian berisiatif untuk membukukan dan menerbitkan surat-surat Kartini itu dengan judul "Door Duisternis Tot Licht " yang artinya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku itu kemudian kita kenal sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang."

***

Pertunjukan ini sungguh menarik dan terasa spesial bagi saya. Kalau tidak salah, dulu saya pernah bilang kalau Mister Tammy, panggilan keren saya kepada Dika Prestama, itu adalah guru yang "edan", kaya akan gagasan, dan sekaligus berani mewujudkan gagasan tersebut!

Lebih spesial lagi adalah, dia berhasil "menyatukan" dua orang siswa yang sudah kondang di sekolah kami sebagai "rival" hehehe. Mereka berdua adalah Faylasufa Avatarisa Sashikirana dan Orlando Rizky Ardiansyah. Mereka kami sebut sebagai "rival" karena mereka berdua sama-sama cerdas, pandai, pemberani, dan selalu bersaing untuk mendapatkan yang terbaik.

Nah, pada "Operet Kartini" kemarin, mereka kompak betul menjalani peran masing-masing. Faylasufa berperan apik sebagai Kartini, dan Orlando sukses membawakan peran sebagai Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat atau Ayah Kartini.

rifanfajrin.com

rifanfajrin.com

rifanfajrin.com

rifanfajrin.com
Kartini menangis dan ayahnya malah tertawa terbahak-bahak. :D


Salut deh untuk kelas 4 SD Labschool Unnes dan wali kelasnya! Untuk kelas-kelas yang lain, jangan mau kalah! Kapan-kapan kita tampilkan sesuatu yang lebih hebat lagi!

Akhir kata, selamat berkreasi, selamat berprestasi!
Maju terus SD Labschool Unnes, jayalah pendidikan Indonesia!
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
April 29, 2017 at 2:22 PM delete

Salut dengan idenya :)
Btw.. btw.. kenapa selalu harus anak2 yg pandai, cerdas dan pintar?
Terkadang, aku sirik dengan mereka2 yang selalu kepilih ini itu lh (dan biasana mereka itu anak2 juara) Bagaimana kalau kapan2 tunjuklah anak2 yang biasa, tetapi menonjol untuk salah satu bidang tertentu. Paling jahil (mungkin) paling suka senyum, paling rajin membaca, atau paling gokil biang ribut sekelas? mereka juga luar biasa lho... kutunggu ya Mas Rifan hehehe. *Sejujurnya curhat masa lalu nih :D :D

Reply
avatar
May 1, 2017 at 1:59 AM delete

Kebetulan memang iya, Mbak. Dua anak tersebut yang memerankan tokoh utama. Namun sebenarnya banyak sekali yang terlibat, mereka ada yang menjadi narator cerita, ada yang tampil membawakan lagu sherina di awal, dsb.

oya, ini kelas temanku mbak, tahun ini aku libur dulu jadi wali kelas. Hehehe

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon