Ultah Rita - Contoh Cerpen Tentang Ulang Tahun

Ultah Rita
Oleh M. Rifan Fajrin

“Aku ingin cerita cinta yang membingungkan,” kata Yuil pada Mr. Eng, juru cerita itu.
“Oke, dengarkan!” Mr. Eng memulai ceritanya.
Ceritanya Rita lagi bete siang itu. Ia sendirian aja di kamarnya. Mau ngapa-ngapain males, ia cuma tidur-tiduran aja. Sebenarnya Rita mau tidur beneran, tapi nggak bisa, pikirannya terus melayang-layang. Lagipula kelamaan tidur bisa bikin gendut, menurutnya. Jadi ia cuma tidur-tiduran sambil terus mikir-mikir, “Kira-kira ada nggak ya, seseorang yang ngasih sesuatu yang spesial pas aku ultah? Aduuh, kayaknya nggak ada deh! Mana waktunya tinggal dua hari lagi! Aduuh!”
Dua hari lagi Rita ultah yang ke dua puluh. Karena ia sekarang udah jadi mahasiswi, dan lagi musimnya ujian semester, terpaksa ia harus ngerayain ultah di kos, tanpa ortu, saudara, temen-temen lama dari TK, SD, SMP, SMA, dan TPQ, tanpa kucing kesayangan, tanpa tetangga, tanpa kakek-nenek, dan tanpa geng ngerumpinya. Nggak mungkin Rita ngirim undangan agar mereka mau datang ke Semarang buat ngerayain ultahnya. Selain jaraknya terlalu jauh, juga berat di ongkos, hehehe! Padahal, buat Rita, acara ultah itu wajib dirayain. Umur itu kan anugerah Tuhan, jadi musti disyukuri, bahwa sampe umur dua puluh tahun ia masih diberi kesempatan untuk bernapas, gitu loh.
Nah, dalam kondisi yang memprihatinkan itu, Rita jadi berharap ada seseorang yang spesial banget yang mau ngasih kado yang spesial juga. Kalau ada, alangkah bahagianya. Jadi bisa ngilangin sedih dan kecewa sebab nggak bisa ngerayain ultah di rumah. Syukur-syukur lagi kalau nanti setelahnya bisa jadi pacar! Rita akan minder sama temen-temennya yang rata-rata udah punya pacar semua. Bahkan denger-denger dari Lily, kalau dipersentase itu kira-kira seratus tiga belas persen!
“Lho kok bisa?” tanya Rita yang keheranan pada suatu ketika.
“Bisa aja kalau cewek pacarnya lebih dari satu. Aku aja punya pacar tiga kok!” kata Lily asal. Meskipun begitu, omongan Lily yang ngawur itu tetep aja bikin hati Rita makin kerucut.
Sebenarnya Rita tak perlu terlalu bersedih andai ia tau, kalau ada tiga cowok yang diam-diam naksir ama dia! Mereka adalah Slamet, Sanwani, dan Paijo yang ternyata saingan untuk ngedapetin Rita. Tapi itu dia masalahnya, Rita nggak pernah bener-bener tau kalau dia itu disukai, disayangi, dilindungi, digilai, dimanja, dipuja, dimantra, dan diguna-guna! Hehehe! Soalnya dari mereka bertiga nggak pernah ada satu pun yang bilang suka sih! Tapi, Rita pernah ge-er juga. Atau barangkali bimbanglah, mereka tu sebenarnya naksir atau nggak toh?
Mereka biasanya cuma nongkrong-nongkrong dan ngobrol bareng di kafe-kafe, warung jahe, nasi kucing, nasi aking, kedai kopi, taman mini, di sungai-sungai, dan rumput-rumput. Bisa dibilang mereka berempat itu udah mirip Grup Band Garasi, kemana-mana bareng.
Wah, wah, wah! Rita tambah pusing. Nggak terasa dia udah tidur-tiduran selama setengah hari. Jadi ultahnya tinggal satu setengah hari lagi! Waduh-waduh! Siapa ya? Siapa ya? Siapa ya, yang mau ngasih dia hadiah spesial dan (syukur-syukur) mau jadi pacarnya? “Masa aku mau berharap pada Slamet, Sanwani, atau Paijo? Dan lagi, jangan-jangan mereka juga lupa kalau sebentar lagi aku ultah?!” katanya dalam hati.
Rita lalu membenamkan wajahnya di bantal. Lima detik kemudian tiba-tiba ia udah megap-megap, sebab dadanya sesak nggak bisa bernapas di atas bantal. Bikin tambah bête!
“Mereka suka sama aku nggak sih?!” Pikiran Rita jadi hinggap lagi ke mereka bertiga. “Sebenarnya sih aku nggak ngarepin punya pacar yang ganteng-ganteng amat, soalnya dari mereka bertiga juga mukanya pas-pasan. Tapi yang penting itu dia pengertian dan mau nerima kekurangan aku. Itu aja sih.”
Rita termenung-menung. “Ah, udahlah, aku harus ngerelain ultahku sepi tanpa ada seseorang yang spesial.” Rita lalu mengambil handphone-nya. “Aku hubungi mereka bertiga aja deh, sedang apa ya mereka?”
Rita lalu menghubungi Paijo.
Tuut tuut tuut.
“Halo, Rita, ada apa ya?” suara Paijo di seberang sana.
“Paijo, kamu sekarang di mana?” jawab Rita.
“Aku lagi di kantin nih, ke sini aja gabung!”
“Slamet ama Sanwani?”
“Di sini juga. Cepetan deh ke sini!”
“Oke, oke. Tunggu bentar ya! See you!
***




Di kantin, Slamet, Sanwani, dan Paijo lagi ngumpul-ngumpul. Ternyata mereka lagi ngobrol tentang ultahnya Rita, mereka mau ngasih surprise. Tapi, masing-masing sedang mikir-mikir mau ngasih kado yang pas buat Rita.
“Sebentar lagi Rita ultah, kita mau ngasih apaan ya?” kata Paijo.
“Oh, soal itu. Rahasia dong!” sahut Slamet. “Pokoknya aku mau bawa yang spesial buat Rita.”
“Uh, sombongnya Slamet. Aku nggak yakin kayaknya.”
“Jangan menghina ya. Pokoknya, Rita pas nerima kado dari aku pasti nangis, terharu!”
“Nangis?! Emangnya halal bi halal?” Paijo mencibir.
“Udah deh, pokoknya aku kasih dia yang spesial,” tandas Slamet. “Lha memangnya kalian berdua mau bawa apa? Kamu bawa apa, San?”
“Kalau aku, karena aku musisi, buat Rita aku hadiahkan sebuah lagu cinta, written by Sanwani, hehe. Nah, yang ini, baru dia nangis terharu! Nggak kaya Slamet, hadiahnya aja apa, belum jelas! Apalagi terharu! Jangan-jangan kamu bawa hadiah film Ratapan Anak Tiri kali, trus Rita nangis!”
“Huh,” Slamet mencibir. “Menghina!”
“Hehehe, jangan marah dulu, Met! Tapi, soal hadiah-menghadiahi, Sanwani emang jagonya!” kata Sanwani dengan nada sombong. “Eh, lha Paijo, kalau kamu bawa apa?” lanjutnya sambil menoleh ke Paijo.
“Kalau aku rahasia! Si Slamet aja maen rahasia-rahasiaan, aku juga dong!” jawab Paijo. “Tapi, pokoknya aku bawa cinta!”
“Huuu, norak lu! Kuno! Itu cara bercinta zaman Kabayan, tau?” serang Slamet. “Sekarang udah era digital, Man!”
“Ah, terserah aku dong. Yang kuno itu Sanwani, hari gini mau bilang, ‘Kupersembahkan lagu cinta ini untukmu, Rita!’ sambil bawa bunga? Malu-maluin kita aja lu!”
Mereka bertiga jadi berdebat seru. Saking serunya, mereka tak menyadari kalau Rita udah ada di samping mereka.
“Eh, pada ngapain sih ribut-ribut?”
“Eh, Rita. Ini nih Paijo yang bikin gara-gara,” sahut Sanwani.
“Kok aku, Slamet tuh!”
“Lho, kok aku?”
Rita geleng-geleng kepala. Niatnya mau membuang pusingnya, eh malah semakin pusing. “Udah-udah! Kalian bikin aku tambah pusing aja!” bentaknya.
“Udah-udah….” Paijo lalu mengajak semuanya duduk manis lagi. “Memangnya lagi pusing apaan?” katanya pada Rita. “Met, kamu pesenin minum dulu buat Rita!”
“Huuu, enaknya aja lu!”
“Cepetan sana!”
Slamet ngeloyor pesen minum.
“Sekarang cerita, kamu lagi pusing mikirin apa sih?”
Rita tak segera menjawab.
“Ngomong dong, Rita!” kata Sanwani.
“Ntar aja, nunggu si Slamet!”
“Tu dia udah dateng. Mana minumnya?”
“Bentar, lagi dibikin.”
Setelah pelayan membawakan jus ke Rita, mereka lalu melanjutkan ngobrol.
“Nah, sekarang udah komplit. Ceritakan sekarang!”
Rita bingung mau cerita apa. Sebenarnya sih dia mau curhat kalau dia pengen ada seseorang yang spesial pas hari ulang tahunnya. Tapi kayaknya nggak mungkin banget Rita curhat soal itu.
“Rita, lama amat sih?” desak Slamet. “Siapa tau kita bisa bantuin.”
“Iya, iya!” sahut Rita sambil mikir. Tiba-tiba ada satu ide melintas di kepalanya. Rita tiba-tiba saja juga udah begitu yakin, kalau mereka bertiga itu sebenarnya suka sama dia. Maka sekalian aja, pikirnya, buat membuktikan siapa sih yang bener-bener suka.
“Gini, friends, Sabtu malem aku ngundang kalian bertiga di acara ultahku. Sekaligus mau ngenalin kalian ke pacarku. Aku baru jadian lho!” kata Rita.
Sanwani yang kecewa mendengar Rita baru aja jadian, langsung nyahut. “Oh, cuma mau bilang gitu aja? Gitu aja kok pake acara pusing segala!”
“Nggak gitu, San. Soalnya aku….”
“Udah deh, kami pasti datang kok!” terang Slamet.
“Kalian kok gitu sih? Ya udah deh kalau gitu, aku tunggu lho. Jangan sampai nggak dateng!” kata Rita sambil berdiri, udah siap-siap mau pulang.
“Eh, Rita. Nggak diminum dulu jusnya?” tanya Slamet.
“Oh, iya.”
Tapi beberapa saat kemudian, Rita tersedak. “Jus apaan nih?! Kok pedes!”
“Met, jus apaan tuh?” kata Paijo panik.
“Jus tomat.”
“Tomat kok pedes?”
Belum sampai Slamet menjawab pertanyaan, datang pelayan dengan tergopoh-gopoh. “Maaf, Mas. Jusnya keliru jus cabe, hehe!” katanya sambil mengambil jus itu dari meja.
“Wong edan!”
“Ya udah, ya. Aku pulang dulu. Jangan sampai kalian nggak dateng lho!”
“Iyaa. Kita kan udah kaya Grup Band Garasi!”
***
Sehari sebelum ultah Rita, Slamet dan Sanwani yang memang tinggal sekamar satu kontrakan, sambil tidur-tiduran, ngomong-ngomong masalah ultah Rita.
“Kayaknya aku nggak jadi bawa kado yang spesial buat Rita, San,” Slamet memulai.
“Lho emang kenapa? Kamu pasti patah hati, ya?” tebak Sanwani.
“Iya, nih. Aku nggak paham ama pikiran Rita. Apa dia nggak bisa berpikir dan berperasaan? Kan aku udah ngasih sinyal, tanda-tanda, kalau aku itu sebenarnya….”
“Halaaah! Apaan!”
“Lhoh, sebagai seorang yang punya hati dan perasaan, feeling-nya pasti bisa menangkap kalau aku suka sama dia. Eh, sekarang malah udah jadian!”
“Berarti kamu dateng ke sana nggak akan bawa apa-apa?”
“Ya, iya dong! Ngapain?”
“Ya, buat sekadar bilang selamat ulang tahun kek, pacaran kek, atau apa kek!”
“Aaah, nggak ah!”
“Kalau gitu ya udah. Aku juga ikut-ikutan nggak bawa apa-apa!”
“Alaah, bilang aja kamu juga patah hati, San!” tebak Slamet membuat Sanwani gelagepan.
“Ah, nggak! Biasa aja kok!” elak Sanwani sambil membalikkan badan memunggungi Slamet.
“San, San! Bilang aja, nggak papa kok, aku nggak akan ngejek kamu deh!”
Mendengar kata Slamet barusan, Sanwani membalikkan badannya lagi.
“Trus gimana nih selanjutnya?”
Slamet tampak berpikir serius sambil manggut-manggut.
“Gini aja, aku mau ajak Cinta Laura ke acara ultahnya Rita, biar dia tahu kalau aku bisa ngedapetin cewek yang lebih cantik dari dia! Gimana?”
“Oke, kalau gitu. Aku mau ngajak siapa ya?”
“Ajak Dhea Imut aja!” Slamet ngasih saran.
“Lho dia kan masih anak-anak!”
“Sekarang udah gede, kawan. Cantik lagi!”
“Ah, nggak ah. Aku mau ngajak Asmirandah aja!”
Slamet dan Sanwani bersalaman tanda deal, setelah itu mereka pun terlelap.
***
Rita udah dandan rapi jali. Dia memakai baju pesta ulang tahun warna merah muda, lipstiknya juga merah muda. Trus dia memakai bando dan pita rambut merah muda juga. Tapi…, Rita sadar kalau dia nggak punya sepatu merah muda. Jadi akhirnya saat dia maksain warna sepatu harus merah muda, ia mengecat sepatunya pake pilox. Yang penting merah muda, warnanya orang yang sedang jatuh cinta, batinnya.
Rita tak menyiapkan apa-apa secara serius selain penampilannya. Ia nggak nyiapin makan minum yang yahud untuk menyambut Slamet, Sanwani, dan Paijo. Soal itu, ntar kalau udah pada kumpul semua, baru deh mau ke mana terserah buat nyari warung makan yang canggih. Ia juga nggak nyiapin seorang cowok ganteng untuk dikenalkannya pada Slamet, Sanwani, dan Paijo sebagai pacarnya. Sebab, Rita emang sengaja ngetes ke mereka bertiga, siapa yang sebenernya suka ama dia. Begitulah, rencana yang udah disusun oleh Rita.
Tak lama, Slamet dan Sanwani datang. Yang bikin Rita heran, mereka dateng dengan menggandeng cewek. Slamet datang bersama Cinta Laura, sedangkan Sanwani menggandeng Asmirandah. Bener-bener sesuai rencana. Mereka dateng dengan senyum lebar.
“Met ultah ya, Rita! Kenalin nih, pacarku, Cinta Laura!” kata Slamet. “Mana pacarmu?”
“Oh, iya, Slamet. Makasih udah dateng. Pacarku masih masih dalam perjalanan, kalau sekarang nggak surprise lagi dong!”
“Ini Cinta Laura? Makasih udah dateng,” sambut Rita ramah. Mereka lalu bersalaman, berpelukan, dan cipika-cipiki.
“Iya, ini Cinta Laura asli lho, pacarnya Mas Slamet,” jawab Cinta Laura sambil senyum-senyum.
“Rita, kenalin nih pacarku, Asmirandah!” Sanwani nggak mau kalah ngenalin pacarnya ke Rita.
“Oh, Asmirandah yang terkenal itu ya? Aku Rita,” balas Rita dengan senyum lebar. “Silakan duduk-duduk dulu.”
Mereka berlima lalu duduk bersama.
“Ngomong-ngomong kapan kalian berdua…”
“Udah lama kok, kita kan pacaran jarak jauh. Long distance!” potong Slamet. “Emang kita nggak mau terekspos media sih!”
“Apaan sih, Slamet!” Rita agak sewot, tapi kemudian senyum tersipu sama Cinta Laura. “Maksudku, kapan kalian berdua, Cinta dan Asmirandah nyampe di Semarang? Dari Jakarta jam berapa?”
“Oh, nggak kok. Kita ngekos di Semarang!” sahut Asmirandah.
“Aww! Apaan sih!”
Sanwani nginjek kaki Asmirandah. Melotot.
“Tadi pagi kok, Rita. Mereka dateng pake pesawat pribadi lho. Trus kita berdua jemput mereka di Ahmad Yani! Iya nggak, Met?”
“Oh, iya, iya,” jawab Slamet agak gugup.
“Eh, ngomong-ngomong, kok Paijo belum dateng ya?” tanya Rita nggak jelas pertanyaan itu ditujukan ke siapa. Dalam hati ia berharap mudah-mudahan aja Paijo nggak dateng sama pacarnya. Kalau Paijo ternyata dateng ama pacarnya, bisa gawat! Bisa berantakan semua rencananya! Kalau ternyata mereka bertiga udah punya pacar, lalu gimana Rita mau ngejelasin kalau dia sebenarnya nggak pernah jadian ama cowok ganteng? Sebenernya itu kan cuma akal-akalan Rita aja buat ngetes siapa yang bener-bener suka ama dia.
Untunglah, tak lama kemudian, Paijo pun dateng sendirian.
“Kamu dateng sendirian aja, Jo?” tanya Rita harap-harap cemas kalau aja di belakang Paijo ternyata udah ada Luna Maya.
“Iya, aku sendirian aja, kok. Mau ngajakin siapa lagi?” jawab Paijo santai. “Met ultah ya, Rita!”
“Iyaa… Makacieh….” Hati Rita berbunga-bunga. Sekarang udah ada titik terang, Paijo masih freeman! “Duduk, Jo.”
“Oh, makasih.”
Kini mereka udah duduk bersama-sama, berenam aja. Mereka ngobrol-ngobrol ringan seputar kampus, seputar Indonesia, juga seputar keterlambatan Paijo.
“Kamu habis makan karet, Jo? Datengnya kok lama banget?”
“Ah, nggak!”
“Bannya kempes ya?”
“Ah, nggak!”
“Bajunya belum disetrika, Jo?”
“Ah, nggak!”
“Atau airnya macet? Antri mandi?”
“Ah, nggak!”
“Lalu apa dong?! Dari tadi ah nggak- ah nggak melulu?”
“Soalnya aku agak bingung. Aku udah nyiapin hadiah spesial buat Rita, tapi bingung mau dibungkus pake apa hadiahnya.”
“Emangnya kamu bawa apaan sih?” tanya Sanwani.
Pelan-pelan Paijo melirik ke Sanwani, Slamet, Cinta, Asmirandah, dan akhirnya lirikannya tepat ke mata Rita. “Aku bawa…. Cinta!”
“Oh, Paijo!” teriak Rita histeris.
“Uh, dasar kuno!”
“Rayuan maut!”
“Nggak modal lu, Jo!”
Bergantian Slamet dan Sanwani meneriaki Paijo. Cinta Laura dan Asmirandah Cuma senyum-senyum. Sedangkan Rita udah nggak dapat menahan gembiranya.
Slamet dan Sanwani yang melihat ekspresi Rita, jadi keheranan. Kok sepertinya Rita seneng banget dirayu ama Paijo kayak gitu.
“Eh, Rita, trus mana pacar baru kamu? Kok ampe jam segini belum dateng?”
“Iya, nih. Mana?”
“Tenang, tenang, hadirin sekalian!” Rita menenangkan para hadirin. “Pacarku udah dateng kok barusan. Masak kalian nggak ngeliat?”
Slamet dan Sanwani celingukan. “Mana sih?”
Dengan tersenyum dan melirik Paijo, Rita menjawab dengan lantang. “Dialah pacarku!” Rita menunjuk Paijo.
Slamet dan Sanwani lalu melotot. Sementara Cinta Laura dan Asmirandah cekikikan.
***
“Terus, gimana akhirnya?” tanya Yuil pada Mr. Eng.
“Sepulang dari pesta ultah itu, Cinta Laura dan Asmirandah nagih ke Slamet dan Sanwani, ‘Mas, mana bayarannya? Kan kita udah capek-capek dandan mirip artis?’ Slamet dan Sanwani lemes banget,” jawab Mr. Eng.
“Kalau Rita ama Paijo?” tanya Yuil penasaran.
“Mereka lalu duduk berdua menatap bintang-bintang,” jawab Mr. Eng.
“Apa yang mereka perbincangkan? Apakah Paijo lalu membacakan puisi cinta buat Rita?”
“Tidak,” jawab Mr. Eng. “Rita bilang ke Paijo, ‘Aku ingin cerita cinta yang membingungkan.’ Lalu Paijo pun memulai ceritanya.”

Ditulis pada Rabu, 15 Juli 2009, sebelum berangkat ke Jakarta oleh Rifanfajrin buat sahabatku Yuli Resista yang ultah.*
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon