UTANG


Ngomong-ngomong soal utang, kendati nampaknya sederhana  tapi ternyata bisa jadi perkara yang rumit untuk dibereskan. Utang yang gampang itu begini: seseorang meminjam uang dan suatu saat harus mengembalikan uang tersebut. Persoalannya adalah... orang yang berutang kemudian cenderung suka berbohong, berdusta, mengingkari, nggak mau bayar/melunasi utangnya. Malahan, seseorang yang sedang nagih utang itu sama ngenesnya dengan kondisi orang yang dulu ngutang itu! Hihihi.

Kebayang nggak, gimana sakitnya: Kalo yang meminjam itu sebenernya mampu bayar tapi faktanya pending terus. Padahal, istri & anak-anaknya slalu pake baju up to date, sabtu dan minggu sering piknik ke mall, mau maksa (nagih) agar segera membayar juga kadang mana tega, malah ngga enak?? Aaaarrgghh! Sakitnya tuh di siniii!! Nagih utang kadang emang lebih melas, lebih ngenes, lebih repot, daripada orang yang ngutang.. Kecuali kita punya tukang pukul, lintah darat, rentenir. Kalau sudah begini, gimana mau ikhlas?

Persahabatan, perkoncoan, bahkan perseduluran kadang bisa ambrol gara-gara masalah ini. Teman saya, sebut saja namanya Topenk, pernah cerita: “Ada orang (dulu sih kusebut teman) pinjem duit sejuta, ee sekarang malah ngilang..! Yoweslah, lemah-lemah teles, ben Gusti Allah sing mbales! Nek perlu gendheng-gendheng teles, ben truck gandheng sing mbales!” Woooww!! Sadis banget doanya! Sampek segitunya...? :o

Belajar dari sini, sebaiknya jadi orang kalu nggak kepepet betul itu jangan suka ngutang dech... Kalau hutang sudah jadi mata pencaharian, maka sama saja membuka pintu kemiskinan. Kere dunia akhirat, RASAKNO! Rosul pun pernah berdoa agar terhindar dari perkara utang. Utang itu bisa menjadikan hidup tidak tenang, gelisah, dan bingung bagaimana melunasi utang-utangnya. Rosul juga menegaskan bahwa perkara utang-piutang ini harus segera dibereskan, jangan sampai terbawa mati. Kalau pada saatnya mati kok masih membawa utang, keluarganyalah yang harus melunasi utang-utangnya itu. Kalau tidak, repotnya nanti kalau sudah sampai akhirat. 

Ada tidak doa agar kita terbebas dari utang? Doa agar terbebas dari utang adalah doa sebagaimana Rosul pernah memberi doa kepada sahabatnya Abu Umamah yang pada suatu hari dia termenung di masjid karena memikirkan utang-utangnya. Maka demi melihat sahabat beliau gelisah, Rosul langsung bersabda dan memberi doa kepada Abu Umamah untuk diamalkan setiap pagi dan sore.


Doa agar terbebas dari utang adalah sebagai berikut:



"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan pemaksaan dari orang lain." (HR Abu Dawud)

Sangking pentingnya masalah utang ini, saya pernah dengar sebuah “amalan surga” begini: sebelum tidur ikhlaskanlah kesalahan-kesalahan orang-orang terhadapmu, termasuk hutang-hutang mereka kepadamu. Ikhlaskanlah.... Tetapi, hutangmu sendiri jangan lupa, catatlah! Siapa tahu dalam tidurmu ternyata blabas, maka nanti biar ada yang membantu melunaskan utang yang kamu catat itu! Uwapik maneh, selain meninggali catetan utang, juga meninggalkan/menyiapkan sesuatu untuk melunasi utang itu! Dadi ora mung catetan utang thok!

Nah, sekarang bagi kita yang uangnya dipinjem atau diutang, lalu dibawa kabur. Sebenarnya sah-sah saja sih kalau kita punya pilihan untuk mengikhlaskan atau tidak terhadap utang itu. Katakanlah, itu hak kita mau ikhlas apa enggak. Cuman, kalu kita nggak ikhlaskan, dia akan kerepotan di hari perhitungan, berhadapan dengan kita dan juga malaikat pengadil. Tapi kalu kita ikhlaskan, dia tinggal berhadapan dengan pengadil, dan banyak kebaikan untuk kita. Katanya sih begitu...

Lagipula ....
Ada satu keutamaan bagi seorang yang memberi utang kepada orang lain, yakni apabila dalam jatuh tempo orang yang mengutang itu belum bisa kembalikan utangnya, maka yang memberi utang tersebut mendapat ganjaran bersedekah sejumlah yang dia pinjamkan/utangkan. Bila orang yang mengutang terlambat satu hari untuk mengembalikan, maka orang yang meminjami itu dianggap bersedekah satu kali sejumlah yang dia pinjamkan. Terlambat dua hari, dianggap bersedekah dua kali sejumlah yang dia pinjamkan. Begitu seterusnya. Itulah mengapa kejelasan akad, atau perjanjian kapan utang akan dilunasi menjadi penting, itu disepakati oleh peminjam dan yang meminjami.

Persoalannya, dalil ini__yang menjadi kabar gembira bagi orang yang rela memberi utang kepada orang lain__kemudian digunakan secara keliru oleh orang mengutang sebagai alasan untuk menunda-nunda melunasi utang, bahkan untuk tidak melunasi utang tersebut selama-lamanya. Katanya, "Ikhlaskanlah, kamu akan mendapat banyak ganjaran, berlipat-lipat." Wow, kata-kata itu betul-betul indah dan menggembirakan, tapi juga betul-betul kampret...?

Yah... gimana ya...? Masalahnya sekarang itu orang sukanya membolak-balik dalil. Memakai dalil secara keliru. Itu sama kasus dengan orang kurang mampu yang berdalil "Pada hartamu ada sebagian hak untuk orang lain yang tak mampu," dan kemudian dia meminta-minta. Sementara orang kaya berdalil, "Jangan kamu mudah bergantung dan meminta kepada manusia, bergantunglah dan memintalah hanya kepada Alloh subhanahu wataala. Kekayaanmu adalah perasaan cukup di dalam hatimu!" Lha ini... Inilah orang kaya yang kebangetan tenan pelitnya. Jan kewolak-walik tenan!


Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon