Hanya Koleksi Foto, Bukan teknik fotografi

Saya tidak terlalu paham teknik fotografi. Dulu ketika saya bergabung di badan pers kampus yaitu BP2M (Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa) Unnes, saya tidak terlalu menekuni fotografi. Bagaimana cara memotret dengan baik itu, saya tidak paham sama sekali. Apalagi menggunakan kamera dengan setting manual. Saya bisanya cuma memotret dengan kamera poket dengan setting Auto, atau dengan lensa kamera hape saja. Hihihi.

Pada saat itu, saya lebih memilih untuk belajar menulis daripada memotret. Sehingga, meskipun sekarang saya tidak bisa memotret, tetapi paling tidak untuk urusan menulis berita, menulis feature, menulis cerpen, sampai menulis kolom, saya juga masih belepotan.... Tulisan saya masih saja wagu. Begitulah...

Padahal, jika saya pikir-pikir lagi, sebenarnya jika saya mau sedikit belajar tentang teknik fotografi, di badan pers tempat saya belajar dulu banyak sekali kawan maupun senior yang bisa mengajari saya. Kalau yang seangkatan ada Arif Zakki Nurfauzan yang seolah-olah dikuliahkan di jurusan Kimia hanya untuk memotret saja. Ya gimana, dia jarang sekali kuliah tapi malahan tiap hari nguthek-uthek kamera. Hasil jepretannya keren sih.

Selain Zakki, ada juga Aditya Rustama, atau Didit. Nah, kalau Didit ini adik tingkat di pers kampus. Selain dua nama tadi, ada juga ahli foto lain di sini, ada Bang Krisno Andi, Agus SP, Bang Megananda, Bang Triyas Agus, dan tentu saja Bang Yassir [A] Hatta el-Macoalloe atau yang belakangan ini juga memakai nama Om Sukamoto. Mereka semuanya telah memiliki prestasi untuk urusan potret memotret.

Ah, tapi mungkin narsis telah menjadi bubur, eh nasi telah menjadi bubur di era foto narsis dan selfie ini. Dan ketika zaman dengan semua tren-nya itu telah demikian cepat berlalu, saya tidak kunjung bisa memotret. Hasil potretan saya juga biasa-biasa aja, nggak istimewa. Saya juga nggak bisa mengedit foto, bagaimana membikin foto jadi keren, berwarna tajam, dan layak dipamerkan (minimal kepada istri di rumah) hehehe.

Nah, pagi ini di tengah-tengah pembelajaran IPA, menemani anak-anak membuat alat pencatat curah hujan sederhana, mendokumentasikan mereka dengan foto,  iseng-iseng saya coba mencari objek untuk saya potret. Secara tidak sengaja saya ketemu dengan seekor belalang dan memotretnya (ketemu aja, nggak sempat kenalan apalagi selfie bareng).


Dan inilah foto hasil jebretan karet, eh hasil jepretan kamera poket saya itu.

rifanfajrin.com

rifanfajrin.com

rifanfajrin.com

Foto yang apa adanya, tanpa editing (karena emang nggak bisa editing foto) Hehehe.

Yah, ini memang foto yang biasa-biasa saja. Sepertinya dengan hasil foto seperti ini, saya jadi nggak punya nyali untuk pamer foto, bahkan pamer foto kepada istri di rumah. Saya mau pamer sama Ilyas saja, anak saya yang berumur 17 bulan. Semoga dia seneng melihat foto belalang ini.

Oya, mungkin kapan-kapan kalau ada kesempatan lagi, saya mau motret cicak-cicak di dinding, binatang kesukaan Ilyas. Habis dia suka senyum-senyum kalau lihat cicak....

Sekian...


Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon