Ayo Bercerita dengan Peraga!


Pose Kemenangan
Fayla, Dhinar, dan Nadha -- Juara 1,2,3 Lomba Bercerita Kelas 3B
rifanfajrin.com -- Ayo Bercerita dengan Peraga!



Mengawali bulan November ini, saya mengajak anak-anak kelas 3B SD Labschool Unnes untuk bercerita dengan alat peraga. Semua anak di kelas ini harus turut serta, dengan maksud sekaligus saya akan mengambil nilai mereka untuk aspek berbicara. Nah, sekadar untuk menambah gairah motivasi anak-anak, saya katakan: "Lomba Bercerita Menggunakan Alat Peraga Kelas 3B || Dengan Hadiah dari Pak Rifan." 

"Horeee!" teriak anak-anak, senang.

Sebetulnya, kegiatan ini masih ada sangkut pautnya dengan kegiatan peringatan bulan bahasa dan sumpah pemuda beberapa waktu lalu. Jika pembaca kebetulan menyimak tulisan saya sebelumnya tentang Peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda di SD Labschool Unnes, pembaca pasti tahu bahwa kami mengadakan beberapa lomba, yaitu "Lomba Harmonisasi Gerak dan Lagu Tralala Lero", dan "Lomba Bercerita/Story Telling" dengan menggunakan alat peraga, misalnya boneka.

Pada dua jenis lomba tersebut, Alhamdulilllah, pada Lomba Harmonisasi Gerak dan Lagu, kelas kami berhasil meraih juara II (baca: Buah Kekompakan dan Kebersamaan). Sementara itu, pada lomba bercerita, yang mana masing-masing kelas hanya diperbolehkan mengirimkan wakilnya paling banyak dua orang saja, kelas kami belum beruntung mendapatkan nomor juara. Neysha Putri Shazia dan Sasikirana Arsaputri, mereka berdua yang menjadi wakil peserta dari kelas kami. Oya, asal tahu saja, karena mengingat waktu yang mepet, dua gadis kecil ini terpilih maju mewakili kelas kami sebelumnya tanpa melalui proses seleksi, melainkan karena mereka berdualah yang merasa cukup siap. Itu saja. Sementara, saya dan orang tua siswa merasa bahwa sebenarnya banyak di antara anak-anak yang memiliki bakat bercerita secara lisan.

Oleh sebab itulah, setelah peringatan bulan bahasa dan sumpah pemuda usai, saya secara intern kelas 3B mengadakan lomba bercerita kelas 3B ini! Setidaknya, ada tiga hal yang bisa kudapatkan manfaatnya: 1) Memfasilitasi anak-anak lain yang belum sempat maju pada lomba kemarin, 2)  Mengambil nilai anak-anak pada aspek berbicara, dan 3) tentu saja, untuk refreshing dan senang-senang. Hehehe. Sambil menyelam minum air. Ya, mengikuti pembelajaran di kelas, anak-anak memang harus senang. (ssstttt... mumpung mereka masih kelas tiga, belum mikir Ujian Nasional :P senang-senang saja dulu, tentang materi pelajaran saya yakin anak-anak pasti bisa asal kita terus bimbing dan dampingi mereka belajar).

Senin, 2 November 2015, sesuai yang telah direncanakan dan kebetulan memang pada pelajaran Bahasa Indonesia, anak-anak telah siap untuk maju bercerita dengan menggunakan alat peraga masing-masing. Aku tersenyum menyadari anak-anak begitu antusias mengikutinya, terlihat dari persiapan alat peraga mereka. Kulihat beberapa anak datang membawa boneka, boneka tangan, wayang sederhana, gambar dan foto, bahkan ada yang membawa sapu lidi sebagai peraga.

Pertama-tama, kuajak mereka untuk mengambil nomor undian, agar terasa adil bagi anak-anak. Dalam kondisi seperti ini, rasanya nggak asik aja kalau anak-anak maju berdasarkan nomor urut kan? hihihi. Setelah menentukan nomor undian, langkah selanjutnya adalah menyampaikan beberapa aturan main kepada anak-anak, yaitu beberapa hal yang akan saya nilai. Penilaian berdasarkan pada: isi cerita, ekspresi, suara, dan media (alat peraga).

Berikut ini adalah urutan para peserta dan judul cerita yang dibawakan.
  1. Fairuz Nadha Harisya, judul cerita: "Singa yang sangat membenci zebra"
  2. Faradita Sabila Abimanyi, judul cerita: "Masa kecilku"
  3. Athaya Farras Rahima, judul cerita: "Sebuah Keluarga"
  4. Sasikirana Arsaputri, judul cerita: "Koki Cilik"
  5. Dhinar Naifah Mufidah, judul cerita: "Tiga Sahabat Duyung"
  6. Nur Ihsan Fauzi, judul cerita: "Kancil yang cerdik"
  7. Mae Saraswati, judul cerita: "Dua anak durhaka"
  8. Hasna Alifa Parsa, judul cerita: "The Mouse and Lion"
  9. Faylasufa Avatarisa Sasikirana, judul cerita: "Persatuan dan kesatuan"
  10. Neysha Putri Shazia, judul cerita: "Sahabat Lama Hello Kitty"
  11. Raditya Damai Ananta, judul cerita: "Bermain Sepakbola"
  12. Muhammad Riski Fulvian Saefullah, judul cerita: "Sahabat Terbaikku"
Pada pembawaan cerita mereka, sepertinya tidak salah kalau saya memasukkan kriteria "suara" sebagai salah satu penilaiannya. Ya, volume suara mereka tanpa menggunakan pengeras suara, terdengar lirih saja, tidak  cukup jelas terdengar. Adapun media, ada tiga anak yang ternyata tidak mempersiapkannya, dan ketiga anak itu adalah tiga anak laki-laki di kelas kami. Hihihi. Tentu saja poin mereka berkurang cukup signifikan. Sayang sekali.

Lantas siapa yang menjadi pemenang pada "lomba-lomba-an" ini?
Juara ketiga diraih oleh Fairuz Nadha Harisya dengan judul "Singa yang sangat membenci zebra". Menurut saya, cerita yang dia bawakan cukup bagus, cukup memberikan pesan yang kuat sebagai salah satu ciri khas dongeng fabel. Sementara itu, dari media yang dia gunakan bagus dan tepat.


Berikut ini saya sisipkan vidionya Nadha.


Juara kedua, diraih oleh Dhinar Naifah Mufidah dengan judul cerita "Tiga Sahabat Duyung". Sama seperti Nadha, cerita dari Dhinar pun cukup panjang dan cukup mengandung pesan moral. Sayangnya, dalam membawakan ceritanya, Dhinar terlalu menunduk sehingga peraga yang ditampilkannya tidak cukup terlihat oleh penonton. Namun demikian, dengan peraga cukup banyak wayang sederhana dari kertas yang dia tempelkan dengan lidi, merupakan bukti yang cukup kuat bagi saya bahwa Dhinar telah mempersiapkan pentas ini dengan serius. Dan saya tidak ingin menyia-nyiakan kesungguhan ini dengan tidak memberinya nilai yang tinggi.

Adapun juara pertama, berhasil diraih oleh Faylasufa Avatarisa Sasikirana dengan judul "Persatuan dan Kesatuan". Secara judul cerita, sebenarnya sih saya kurang begitu sreg. Hehehe. Apalagi Fayla hanya membawa sapu lidi sebagai peraga ceritanya. Cerita seperti apa gerangan yang hendak dibawakannya? Dengan sapu lidinya, Fayla menggambarkan sebuah komunitas, sekumpulan tokoh dari lidi. Salah satu tokohnya, dan itu menjadi tokoh utamanya, dia beri nama Lidika. Lidika yang berusaha lepas dari kelompoknya itu, ingin hidup mengandalkan dirinya sendiri pada akhirnya tersadar bahwa dia dan siapapun akan rapuh bila sendirian. Nah, seperti itulah yang disampaikan oleh Fayla sambil mematahkan sebatang tokoh lidi-nya itu. Jadi, ketepatan media, keruntutan dan kelogisan cerita, ditambah dengan ekspresi yang cukup baik diantara penampilan teman-temannya yang lain itulah yang menjadikan Fayla saya tetapkan sebagai juara pertama. 

Yah, tentu saja penilaian saya bisa saja berbeda dengan penilaian orang lain seandainya mereka juga duduk serta menyimak penampilan anak-anak. Tetapi, seperti yang saya sampaikan di awal, kemenangan bukanlah tujuan utama. Tujuan yang lebih penting dari pada itu adalah untuk senang-senang. Maka setelah anak-anak semuanya selesai tampil, saya kasih mereka masing-masing sebatang coklat murah. (Hihihi, semoga kesempatan ke depan dompet saya terisi agak tebal). 

Adapun mereka yang meraih juara, saya kasih hadiah pada mereka gerabah berbentuk kura-kura dan berbentuk gadis kecil. Gerabah ini pun juga murah harganya (hehehe, yang penting cukup buat tanda kalau mereka juaranya :P). Saya beli di Desa Kasongan, Yogyakarta, desa yang terkenal sebagai penghasil gerabah  waktu studi banding dan kunjungan kerja ke SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, 24 Oktober lalu. Malahan, Sasikirana mengomentari hadiah itu begini, "Pak Rifan, itu gerabah dari sovenir nikahan toh?" Hahaha. Gubraaaakkk!!! Aseeem. Gerabah beli di Yogya kok dikira sovenir gratisan habis kondangan. 

Cuman, sayangnya, hadiah milik Dhinar yang berbentuk gadis kecil itu malah jatuh dari meja dan pecah berantakan. :( Huhuhu. Nadha, yang jadi juara 3, secara tidak sengaja menyenggolnya sehingga jatuh. Tentu saja Dhinar sempat merengut dan marah-marah. Yah, namanya juga anak-anak. Aku bilang ke Nadha, "Kamu tenang saja, asalkan kamu tadi tidak secara sengaja, kamu cukup minta maaf saja ke Dhinar. Nanti biar Pak Rifan yang ganti milik Dhinar. Lain kali lebih berhati-hatilah! :)"

Nah, demikianlah asyiknya bercerita dengan alat peraga di kelas kami! Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya. :)
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon