Contoh Cerpen tentang ulang tahun

Hahaha. Saya kadang geli sendiri kalau menemukan cerpen-cerpen yang saya tulis pada awal-awal saya belajar nulis cerpen. Saya tidak cakap menulis cerpen, apalagi cerpen tentang ulang tahun. 
Berikut ini contoh cerpen tentang ulang tahun seseorang yang sangat kita cintai. Mungkin saja, ini merupakan contoh cerpen ulang tahun yang gagal menghibur. Tapi, selamat membaca. :)

Ulang Tahun




ULANG TAHUN

            Poppy lagi sibuk melingkar-lingkar angka-angka di kalender. Hari ini hari Rabu, baru tanggal 6 September. Jadi masih ada waktu sekitar tiga minggu lagi untuk mempersiapkan rencana liburannya ke Serang, Banten, ke rumah bibinya. Kemudian ia lingkari tanggal 27. Mata Poppy berkeliling lagi menelusuri angka-angka pada kalender. Sebentar kemudian matanya terpaut pada angka 13. Ia mengingat-ingat sesuatu..
“ Hey, tanggal 13 September! Ulang tahun Papa yang ke-48!”
Hampir saja Poppy lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahun papanya. Perhatian Poppy tersita untuk liburannya ke rumah bibinya itu. Sedangkan papa Poppy sendiri memang tidak pernah memikirkan- tidak pernah mengingat-ingat- kapan hari ulang tahunnya. Papa Poppy terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor sehingga tidak sempat memikirkan hal seperti ulang tahun itu. Poppy segera membereskan kalendernya dan segera bangkit menemui mamanya untuk membicarakan perihal ulang tahun papanya itu.  
“ Ma, mama ingat tidak sekarang tanggal berapa?”
“ Ee.. kalau tidak salah sekarang tanggal 6 September.”
“ Kalau Rabu depan tanggal berapa Ma?”
“ Ya tinggal ditambah 7 aja, masak nggak tau sih? kalau sekarang tanggal 6 berarti Rabu besok tanggal 13.”
“ Rabu tanggal 13 itu di rumah ini mau ada acara apa, Ma?”
“ Nggak ada acara apa-apa. Emangnya kamu mau mengundang temen-temenmu ke sini? Ada acara apa sih kamu?”
“ Tuh kan, mama juga lupa. Tanggal 13 kan hari ulang tahun papa, Ma.”
Mama menatap langit-langit mencoba mengingat-ingat.
“ Oh iya, mama lupa. Benar, papamu lahir pada tanggal 13 September. Terus enaknya gimana? Apa kita undang temen-temen papa supaya datang kesini?”
“ Jangan, Ma. Poppy punya ide begini saja Ma. Papa kan nggak pernah mengingat-ingat hari ulang tahunnya, mama ingat kan tahun lalu ketika papa ulang tahun baru inget pas tanggal 15nya. Maka ulang tahun papa besok itu kita bikin surprise pada papa. Setuju nggak Ma?”
“ Mama sih setuju aja. Tapi gimana caranya?”
“ Begini Ma,” Poppy mengubah posisi duduknya lebih mendekat pada mama. “Setiap hari kan papa pulang sekitar jam delapanan (malam). Hari rabu besok kita matikan semua lampu ketika papa pulang kerja, Ma. Nanti ketika papa pulang biar papa penasaran kenapa lampu padam dan biarkan papa sendiri yang menghidupkan lampunya. Nah, ketika itulah kita beri surprise pada papa dengan hiasan-hiasan di ruang tamu semacam pita warna-warni dilengkapi dengan balon-balon, Ma. Kita juga siapkan kue ulang tahun untuk papa dengan lilin-lilin kecil yang berjumlah 48. Tentu saja  sudah kita persiapkan sebelumnya Ma. Gimana?” Poppy menatap wajah mamanya minta pendapat.
Mama tersenyum dan mengiyakan.
Hari-hari berikutnya menjadi hari yang melelahkan bagi Poppy. Hari-hari diisi Poppy dan mama dengan sibuk mempersiapkan kejutan untuk papa sesuai yang telah direncanakan. Segalanya mereka persiapkan berdua saja. Tulisan-tulisan dari gabus untuk dekorasi, pita warna-warni, balon-balon beraneka bentuk dan warna, kamera untuk dokumentasi keluarga, dan pernak-pernik lainnya. Hanya kue tart ulang tahun saja yang mama pesankan pada catering. Soalnya  dari yang dulu-dulu kue ulang tahun yang buatan mama selalu nggak habis-nggak kemakan.
Singkat cerita, Poppy dan Mama begitu bersemangat, bahu-membahu, dan tak kenal lelah mempersiapkan kejutan itu. Semua ini mereka lakukan demi papa. Mereka ingin membahagiakan papa sekaligus memberikan sesuatu yang berkesan kepada papa yang nantinya tak akan pernah terlupakan dalam seumur hidup papa.
Sekarang semuanya telah siap, tinggal memasangnya saja pada hari H-nya. Poppy dan mama merasa waktu berjalan sangat lambat. Mereka sudah tidak sabar menantikan hari bahagia tersebut. Poppy tidak bisa membayangkan betapa bahagianya papa saat itu. Langkah Poppy selanjutnya adalah mencari hadiah yang tepat untuk papanya. Ia mengajak mama untuk pergi ke mall, sekalian mencari-cari baju yang bagus untuk hari ulang tahun papanya.
#
Akhirnya hari yang dinanti-nantikan itu sampai juga. Suasana di rumah agak lain daripada biasanya sore itu. Poppy dan mama terlihat sibuk menghias ruangan agar tampak  lebih indah. Langit-langit ruangan sudah terhiasi dengan pita warna-warni yang tertempel di setiap sudut-sudutnya. Di dekat lampu mereka memasang balon-balon beraneka bentuk dan warna. Bufet yang biasanya ada di ruangan itu mereka singkirkan ke dapur. Mereka memasang background berwarna merah di tembok di belakang bupet itu dan menempelkan huruf-huruf dari gabus yang mereka buat kemarin. Tidak lupa mereka meletakkan beberapa pot tanaman hias berjejer rapi di bawah tulisan itu. Mama dan Poppy benar-benar telah menyulap ruangan itu menjadi ruangan yang indah yang menyedapkan mata.
“ Ruangan telah siap Pop. Sekarang kamu ambil meja kecil di kamar mama sekalian taplaknya. Kita taruh  kue tartnya di sini saja.”
“ Baik Ma.” Poppy bergegas masuk ke dalam.
“ Eh Pop, mama lupa. Sekalian kamu ambil vas bunganya ya. Biar lebih indah.”
“ Iya ma.” Poppy menghentikan langkahnya, ”Kayaknya perlu kita semprot dulu ruangan ini agar lebih harum Ma.”
“ Baiklah, kamu ambil spray di cermin hias mama.”  Poppy benar-benar masuk ke dalam. 
Sementara mama tersenyum-senyum sendiri melihat-lihat ke sekeliling. Ia menatap tulisan sederhana yang ia pasang bersama Poppy :
Selamat Ulang Tahun Papa
Semoga Panjang Umur dan Sukses Selalu
Tak lama seluruh ruangan telah siap. Lengkap dengan hiasan dan kue tart ulang tahun. Wajah Poppy dan Mama tampak puas sekali. Sejenak mereka melepas lelah.
“ Kayaknya udah cukup Ma. Kita tinggal bersih-bersih dan  mandi. Jangan sampai papa pulang nanti tutup idung karena kita belum mandi. He he .”
“ Iya dong. Pokoknya kamu harus tampil cantik nanti,” kata mama sambil mencubit hidung Poppy.
“ Ah, mama dong yang harus lebih cantik. Ya kan? Oke deh. Poppy mandi dulu ya Ma.” Poppy beranjak pergi, masuk ke dalam. “ Jangan lupa Ma, setengah delapan lebih sedikit lampu udah harus padam.”
“ Iya, iya.”
Poppy masuk ke dalam. Mama menghela nafas panjang. Rupanya mama agak grogi. Mama termenung, matanya tertumbuk pada album foto. Mama mengambilnya dan membolak-baliknya sebentar. Tak terasa mama menangis terharu melihat fotonya bersama papa dan juga Poppy —anak semata wayangnya-- yang saat itu masih kecil, lucu. Tak lama kemudian mama menyusul Poppy ke dalam dan meninggalkan foto tersebut di atas meja dalam keadaan tebuka.
#
Jarum jam panjang menunjuk angka 10 dan jarum pendek mendekati angka 8. Ruangan telah gelap. Mama dan Poppy berdebar-debar menantikan saat papa membuka pintu dan keheranan sambil menyalakan lampu. Mereka sudah siap mau teriak dan berlari memeluk serta mencium papa. Pfuh! Mama dan Poppy sudah tak sabar.
“ Kriing….kriing..kriing.”  Tiba –tiba telephon berbunyi.
“ Pop, angkat dulu telephonnya. Sebentar saja, papa udah mau pulang.”
“ Iya Ma. Ruang tengah mama pasang lilin kan? Poppy agak takut nih. Perasaan Poppy nggak enak”
“ Iya. Sana cepat. Cepat balik lagi ke sini ya.”  Poppy bergegas mengangkat telephon.
…………..
“ Tidaaaaaaaak!” terdengar teriakan Poppy dari dalam. Mama bergegas menyusul ke dalam. Dilihatnya Poppy terkulai di dekat telepon. Poppy menangis dan nafasnya tersendat-sendat. Mama jadi bingung.
“ Ada apa Pop, telephon dari siapa? Ada kabar apa? Apa yang terjadi? Jawab pertanyaan mama Pop,” mama mengguncang-guncangkan tubuh Poppy minta penjelasan.
“ Pa….pa ma, Pa…pa…,” Poppy tak sanggup meneruskan ucapannya. Ia masih terisak. Dadanya turun naik.
“ Iya ada apa dengan papa?!” Mama tak sabar.
“ Papa meninggal, Ma!" kata Poppy dengan tersengal-sengal.
Mama terkulai lemas. 
                                                                       

Ambarawa,6 September 2006


Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon