Kesaksian




Cerpenis M. Rifan Fajrin
 Bercak-bercak darah; seorang perempuan tua menggelepar, tak sadarkan diri. Keranjang di punggungnya beserta isinya jatuh berserakan. Seorang pemuda tergesa menegakkan sepeda motor, setelah sempat tersungkur, pilihan khas para seorang pengecut: melarikan diri!
“Sial!”
Ingin kuberlari menolong perempuan malang itu. Berteriak memanggil orang-orang yang masih punya hati, atau sedikit rasa, yang dengan suka rela mengulurkan tangannya.
Dua orang pria berjaket hitam melintas. Berpaling sebentar, “Lihat! Perempuan itu! Oh, Tuhan!”
“Pasti tabrak lari!”
“Ya ya ya. Benar, pasti tabrak lari!”
“Oh…”
“Kasihan perempuan itu! Tidak adakah yang menolongnya?”
“Orang-orang sekarang telah kehilangan rasa, nurani!”
“Jangan mengumpat! Bukankah kita juga diam?”
“Mengapa kita hanya diam?”
“Waktu kita terbatas! Kita harus cepat!”
“Semoga ada yang mau menyentuhnya, menyelamatkan nyawanya.”
“Cabut?”
“Ya ya ya.”
“Sekarang?”
“Ya ya ya.”
“Dia sudah tua sih, seandainya saja masih muda!”
“Hahaha.”
Melesat. Debu-debu beterbangan. Suara deru mesin. Angin mendesah, kemudian sepi. Meninggalkan rintih yang beku, bisu.
What?! Mereka tak sempat? Sekadar untuk melihat, dan memastikan jasad ini selamat? Oh, dunia memang hendak kiamat.
Aku menjerit. “Hai, kemanakah orang-orang? Bantu aku! Aduh, bagaimana ini? Ya, ampun!”
Oh, perempuan yang malang. Apakah engkau masih mempunyai sanak saudara? Keluarga: suami, atau anak-anakmu yang pasti akan mencemaskan dirimu saat mereka tak mendapatimu pulang pada saatnya? Mereka yang akan kehilangan dirimu andai untuk bangkit kau pun tak sanggup, dan jantung berhenti berdegup?
Oh, kembali aku menjerit meminta pertolongan saat tak begitu lama berselang kulihat sekawanan remaja nan tampan dan jelita berboncengan alangkah mesra.
“Stop!” Kuberteriak.
Mereka berhenti sebentar, beberapa orang turun, mendekat. Sedangkan yang lainnya, tetap berada di atas motor mereka.
“Tolonglah perempuan malang itu! Aku mohon,” pintaku.
“Ada apa, Fred?”
“Entahlah. Sepertinya telah terjadi tabrak lari,” kata pemuda yang dipanggil Fred itu.
“Ya, benar,” sahutku.
“Kau mengenalinya, Fred?”
“Tidak. Sama sekali.”
“Lantas mau apa?”
“Kita tolong dia?! Bawa dia ke rumah sakit terdekat.”
“Uh, capek deh! Buat apa sih, Fred?”
“Suda..ah! Ayo! Kamu hendak jadi pahlawan, he?”
Fred terdiam.
“Ayo, Fred! Waktu kita tak banyak. Setengah jam lagi kita harus sudah sampai di sana. Aku tak mau waktu kita sia-sia hanya untuk perempuan tua ini. Yang bahkan kenal pun tidak!”
“Tapi…”
“Aa..ah!”
Beberapa rekannya mulai menghidupkan kembali mesin motornya. Seorang melirik kepada gadis yang membonceng Fred, berikan tanda. “Joy!”
Gadis yang bernama Joy itu mendekati Fred, menggandeng tangannya. Fred pun bangkit, sedang matanya terus tertuju pada perempuan malang itu. Sebentar mengeluh, Fred mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, melemparkannya ke dada wanita malang itu. Andai akan ada seseorang yang melihatnya dan hanya merampas uang ini tanpa berikan pertolongan, maka biarlah ia yang binasa! Hmm; suatu sikap terpilih.
“Hai! Kemana kalian hendak pergi?” Aku berusaha mencegahnya.
Tak berhasil. Mereka tak dapat dicegah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, desisku kepada perempuan tua itu.
Oh, kemanakah perginya nurani? Yang sanggup hentikan jangkar egoisme dalam diri manusia? Hingga sebegitu pentingnyakah detik-detik waktu? Tik-tak tik-tak, bertukar uang. Hidup memang perlu kerja keras; siapa malas dia tergilas. Sekalipun di depan biji matanya, nyawa menggeliat-geliat hendak terlepas?
Hidup ini penuh kekerasan. Bahkan semakin keras. Setidaknya, selama hidup aku tlah paham, sanggup pula menjadi saksi: betapa manusia semakin hilang kemanusiaannya. Sebuah sistem, tatanan nilai manusiawi yang senantiasa didengungkan amat lantang sebagai ciri kemuliaan. Itulah. Yang membedakan dengan binatang: jalang, dan sanggup menerkam dengan garang.
Hm, aku mengerti. Aku mengerti…
Aku tlah mendengar, betapa sejak awal penciptaannya manusia tlah tergariskan; manusia tempat salah, juga lupa. Aku dengar pula, betapa Qabil sang putra Nabi yang rupawan sanggup menghabisi nafas adiknya, Habil. Dan tatkala malaikat yang penurut pun tlah mengerti bahwa manusia diciptakan sedangkan manusia sendiri hendak berbuat kerusakan di muka bumi, namun sungguh-sungguh tak mengerti kehendak Gusti, bahwa: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahu di balik penciptaan itu.”
Dan sejak itu pula, dua sisi kejelekan versus kebaikan senantiasa berperang, tumpang-tindih saling bergencetan. Datang silih berganti. Ada manusia yang sungguh alim, ada pula yang sungguh bangsat. Kehidupan teratur orang-orang alim datangkan kemakmuran, kedamaian, kesejahteraan, kesentosaan; kebaikan-kebaikan. Jika sebaliknya, maka datanglah kehancuran, kebinasaan, kebiadaban merajalela, hingga tak berlebihan jika diturunkanlah para Nabi.
Namun, roda kehidupan memang harus terus berjalan. Scene-scene peristiwa kehidupan memang senantiasa berputar, hingga tak salah jika kita perlu belajar dari sejarah! Begitu pula, episode-episode kekerasan pun berulang. Hanya, tak akan mungkin turun lagi orang alim berujud Nabi, yang datang membasuh nurani.
Nah. Sekarang, gara-gara nurani yang tlah mati, apakah aku mesti menyaksikan kembali seorang yang tak berdaya kesakitan meregang nyawa? Aku tak sanggup menyaksikannya lagi untuk kesekian kali! Cukup! Cukup! Cukup! Aku tlah sungguh-sungguh tersiksa.
Aku tlah cukup tersiksa melihat mayat yang terbungkus dilempar sia-sia; pada suatu subuh yang mencekam. Disemat sumpah serapah, segala umpat dan cela kata-kata, tatap mata kejijikan, dan dengus napas kebusukan. Aku melihat para begundal-begundal itu tertawa setelahnya.
Pisau dan parang berkilatan, terkubur dalam-dalam. Puas menghapus semua jejak: rekaman kenistaan, tinggal memastikan seolah tak terjadi apa-apa. Begitu gampang. Bahkan turut berduka, dengan air mata dusta! Sungguh alangkah!
Aku pun tlah tahu, bagaimana bocah-bocah ingusan pun tlah belajar untuk menjadi pembunuh. Seragam sekolah, sepatu, tas di punggung-punggung mereka: nyata tak mampu mendamaikan satu sama lain. Aku merasakan gemuruh nafas mereka, naluri pembantai, gairah dan panas di dada mereka, kebencian yang mengalir di nadi mereka, serta dengan jelas aku dapat melihat nyala kemarahan di mata mereka. Mereka berlarian, saling berkejaran, saling melempar batu.
“Setan!”
“Binatang lu!”
“Anjing!”
“Najis!”
Hiruk-pikuk.
Dan pada saat yang tepat, saat salah seorang tergelincir, tercerai dari koloni mereka, beribu-ribu kebencian tersalurkan lewat tinju-tinju membabi buta, hantaman-hantaman batu, hingga sabetan parang yang mengesampingkan akal. Darah muncrat! Mereka tertawa, mereka tertawa. Sama sekali tak terpikirkan, betapa tersayatnya hati ibu-ibu mereka melihat jasad anak-anaknya yang tak cukup dewasa tercabik-cabik.
anjing-anjing menyerbu
belantara, neraka
burung-burung nazar
pesta pora
setan-setan bernyanyi, menari, tertawa
Genderang perang ditabuh amat lantang
Sementara, aku dapat berbuat apa? Aku menangis. Aku teriak. Adakah yang menghiraukan aku? Tak ada yang dapat kuperbuat selain menjadikan diriku sendiri sebagai saksi. Namun, aku akan tetap berbicara dengan sejelas-jelasnya kelak, di hadapan Sang Pengadil yang paling Agung.

***
Matahari semakin ke barat. Pancaran sinarnya yang garang, perlahan mulai hilang. Datanglah senja; dihembus semilir angin sore; dingin; dahan-dahan bergetar; cericit burung-burung kecil, terbang pelan.
Tubuh ringkih perempuan tua itu menggeliat. Rintihan teramat halus; nyaris tak terdengar, cuma lamat-lamat aku mendengarnya. Aku bersorak, “Dia masih hidup! Oh Tuhan, aku memujiMu. Engkau masih selamatkan nyawanya!”
“Wahai perempuan tua, apakah engkau baik-baik saja?”
Perempuan tua itu rupanya tak mendengar kata-kataku. Ia terlihat lemas sekali. Pucat. Darah di pelipisnya, lengan sebelah kanan, dan lututnya tlah berhenti mengalir; darah tlah mengering.
“Maafkan aku perempuan tua! Aku tlah melihat semuanya. Namun, sekali lagi maafkan, aku tak sanggup berbuat apa-apa.”
Aku segera menguraikan kejadian yang menimpa perempuan tua itu panjang lebar, menceritakan betapa manusia mulai kehilangan kemanusiaannya. “Saat engkau tersungkur, pemuda itu pada awalnya hendak menolongmu. Namun, dia mendapatimu sungguh-sungguh payah. Sungguh entahlah! Aku tak habis mengerti, mengapa dia lebih memilih pergi? Apakah ia mengira engkau telah mati?”
“Pada saat itu tidak ada seorang pun yang melihatnya, hanya aku saja. Dan pemuda itu, dengan matanya yang nyalang, sempat pula menatap aku garang. Kemudian dia terbirit, khas seorang pengecut! Lantas beberapa orang sempat melintas berganti-ganti; aku meminta mereka untuk menolongmu, sekadar memastikan keadaanmu, namun mereka….”
Aku melirik.
Hai! Ada apa denganmu? Apakah engkau masih mendengarkan kata-kataku? Mengapa engkau hanya terdiam, membisu? Jawab! Bicaralah! Kau tak mengacuhkan aku?! Aku yang dari tadi memikirkan keselamatanmu? Kau?! Jangan bercanda! Ataukah kau telah…
Oh, Tuhan! Kaulah pemilik hati! Engkaulah Sang Maha Sutradara! Ha-ha-hah! Pemilik segala kisah!
Cuman, aku tlah bosan. Begitu, apakah aku berdosa? Hu-hu-hu… Aku teramat bosan untuk melihat kebusukan ini. Andai aku tak ingat, bahwa Kau ciptakan aku untuk memuji-Mu, mengagungkan nama-Mu. Bolehkah aku mati, Tuhan?
Andai aku Engkau ciptakan untuk berkhidmat kepada manusia, pada alam semesta, sesungguhnya aku ingin dapat menolong setiap hamba-Mu yang merintih. Namun, Kau batasi gerak tubuhku, Kau tak izinkan aku berlari. Bahkan Engkau tak izinkan pula orang-orang mendengar jeritanku. Aku Kau ciptakan untuk bergeming di pinggir jalan; Engkau ciptakan aku hanya untuk melihat, bahkan untuk peristiwa-peristiwa sinting(!) yang tak aku inginkan: pembunuhan, kekerasan, ketakpedulian. Sebagai sebatang pohon yang selamanya mematung dan membisu, menunggu hancur! []
Semarang, akhir tahun
 
*) Cerpen ini tergabung dalam Antologi Cerpen Tahun-Tahun Penjara, Seri Dokumentasi Sastra Taman Budaya Jawa Tengah tahun 2012. Dibacakan pada dan didiskusikan bersama pada 9 Maret 2012 @Teater Arena TBJT, Solo.
































































Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon