Tahun-Tahun Penjara

Antologi Cerpen Pendopo 12
@ Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
9 Maret 2012

Tahun-Tahun Penjara merupakan antologi cerpen sebagai seri dokumentasi Taman Budaya JawanTengah tahun 2012. Buku setebal 112 halaman tersebut memuat karya 14 cerpenis dari berbagai daerah di Jawa Tengah, diantaranya Anna Seleska APH, Edy Arif Tirtana, Eko Triono, Febrie Hastiyanto, Issatul Han'iah, Kartika Catur Pelita, Khoirul Maftuhah, M. Rifan Fajrin, Naelur Rohmah, Ni Putu Dewi Kharisma Michelia, Niken Kinanti, Nur Hadi, Ramayda Akmal, dan Sulung Pamanggih.

Peluncuran antologi tersebut digelar pada 9 Maret 2012 di Teater Arena TBJT dengan menghadirkan Dewi Candraningrum (Solo) dan Nusya Kuswatin (Yogya) sebagai pembicara, dalam diskusi yang dimoderatori oleh Indah Darmastuti (Solo).
Sebelum diskusi, masing-masing cerpenis diberikan kesempatan untuk membacakan penggalan cerpennya. Judul Antologi itu sendiri mengambil judul cerpen karya Eko Triono: Tahun-Tahun Penjara.


M. Rifan Fajrin

Selanjutnya dalam sesi diskusi, Nusya Kuswatin memulai dengan pemaparan mengenai EYD hingga eksistensialisme dalam cerpen-cerpen dalam antologi tersebut. Ia mencatat, dari kesan-kesan yang ia tangkap, bahwa masing-masing penulis memiliki gagasan yang berbeda dengan gaya penulisan yang juga berbeda, serta tidak ada benang merah yang menghubungkan kisah di dalam cerpen-cerpen tersebut. Oleh sebab itu, ia mulai memaparkan satu-persatu dari karya-karya itu.


Pada penjelasan selanjutnya penulis cerpen Lasmi ini membeber karya-karya yang lewat kacamata pengamatannya memaparkan tentang Shamanisme, Mashochisme, Paranoia, hingga ke dalam Eksistensialisme.

Dewi Candraningrum sendiri membuka diskusi dengan mulai memaparkan catatannya tentang "Lanskap Jawa Tengah dan Cermin Kemiskinannya". Menurutnya, empat belas cerpen dalam antologi tersebut dibuka dan kemudian ditutup dengan nyanyi sunyi kematian. Bahwa benang merah yang menautkan kesemua cerpen tersebut adalah kematian.

Pengajar Sastra Perempuan Muslim di Universitas Muhammadiyah Surakarta ini selanjutnya seolah mengantarkan pembaca untuk memahami cerpen-cerpen dalam antologi tersebut. Ia mengajak pembaca menyusuri kemiskinan yang diekspor dari desa-desa ke kota-kota dan negara tetangga. Kemiskinan yang dimainkan oleh plot demi plot untuk menyampaikan pesan moral: tentang ngeri-ngeri ngilu si miskin! []


***Di akhir catatan ini, kami sampaikan salam dan ucapan terima kasih mendalam untuk Pak Wijang J Riyanto/Wijang Jr Wharek dan Setia Naka Andrian.


Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon