Warna-Warna Pemilu Raya


Arsip Artikel

Pemilu Raya telah selesai. Kepengurusan lama akan segera digantikan oleh kepengurusan yang baru lagi. Rasa-rasanya, pemilu tahun ini tak seramai tahun kemarin. Pemilu kali ini terkesan senyap-senyap dan tahu-tahu selesai. Entahlah, apakah ini yang dinamakan kelesuan, atau sekurang-kurangnya menunjukkan antusiasme yang menurun dibandingkan pemilu tahun lalu? Semoga tidak.
Dalam kampanye pemilu kemarin, muncul isu yang simpatik. Yakni perbaikan advokasi yang selama ini (mungkin dianggap) lemah; dan semangat persatuan dalam pluralitas, “bhineka tunggal ika”-lah gampangnya. Isu tersebut, siapa pun yang mengusungnya dalam kampanye, tentu memikat simpati masyarakat (warga Unnes). Maklumlah, kedua hal tersebut masih terasa sekali kekurangannya. Ketika “ribut-ribut” soal hak mahasiswa yang mahasiswa sendiri kadang tak tahu, kemudian soal kewajibannya melunasi biaya pendidikan yang dirasakan tambah mahal, misalnya, menjadikan isu semacam itu sangat perlu untuk ditampilkan secara tandas.
Semoga isu tersebut bukan sekadar dijadikan isu politik alias manisan saat kampanye untuk memenangkan pemilu saja.



***
Sekarang belum saatnya untuk menagih isu-isu tersebut. Toh itu cuma isu politik yang entah si pengusung isu menang, atau sebaliknya. Sukur-sukur kalau keduanya bisa direalisasikan oleh pemenang pemilu.
Menyoal pluralitas, warna-warna, tak dimungkiri bahwa di mana pun itu selalu begitu. Sesekali warna-warna memang indah bila dipandang, terasa semarak, dan barangkali menjadikan bersemangat. Namun, sangat bertolak belakang kejadiannya bila justru warna-warna itu kemudian menimbulkan kesan kelompok-kelompok yang saling memisah, terkotak-kotak. “Oh si A warna ini, dan kalau si B warna itu!” Apalagi kalau ternyata antara warna-warna itu ada semacam saling mendominasi. Kalau sudah begini, mengkombinasikan warna-warna akan menjadi satu pekerjaan yang tak gampang kalau tidak punya feel sungguh-sungguh oke. Bisa-bisa tidak matching!
Lantas bagaimana agar tidak terkesan terkotak-kotak? Mencampuradukkan warna-warna jelas tak mungkin. Merah ya merah. Putih ya putih. Merah dicampur putih hasilnya bukan merah putih, tapi satu warna baru, yakni merah muda.
Caranya adalah bergerak! Gerakkan warna-warna itu. Putar dengan kecepatan tinggi! Tak pernah bergerak dalam satu cita-cita sejalan yang dirangkup dalam semangat kebersamaan dan kasih sayang adalah jawab dari pertanyaan apa yang menyebabkan pengkotak-kotakan itu. Lihatlah kipas angin yang dalam setiap ruas baling-balingnya terdapat warna-warna. Saat ia diam saja tak bergerak, maka mencoloklah warna-warna itu. Namun, bila bergerak, semakin kaburlah warna-warna tersebut. Hingga pada speed yang paling tinggi kipas itu bergerak, meleburlah semua warna-warna menjadi satu warna saja, yaitu putih bersih dengan tanpa menghilangkan warna sesungguhnya.

Maka bergeraklah! Satu hikayat telah memberi kabar, barangkali seorang Martani – rakyat jelata, pemuda rombeng yang punya satu kelemahan yaitu ingin selalu makan enak – tak akan pernah mengenali wajah rajanya saat itu andai rajanya tak pernah “turun” hingga ke pelosok-pelosok desa untuk mengecek keadaan rakyatnya dengan menyamar sebagai seorang lelaki bernama Lowo Ijo. [] M. Rifan Fajrin


Tulisan ini saya buat untuk mengisi kolom di Bulletin Express waktu lagi musim coblosan Presiden Mahasiswa.
close