Imajinasi Hiperbolis Para Penulis Remaja


Catatan Pengantar 
Terhadap Kumpulan Cerpen Cinta Strawberry SMA N 12 Semarang

Oleh M. Rifan Fajrin

rifanfajrin.com


Pertama kali ucapan, “Selamat” layak diberikan. Bagaimanapun calon-calon penulis telah lahir di sini. Ditandai dengan pencapaian mereka yang telah berhasil menyelesaikan sebuah cerita, yang mungkin cukup menguras tenaga. Ya, seseorang yang memutuskan untuk mulai menulis, menjadi seorang penulis pemula, memang selalu membutuhkan tenaga ekstra setiap kali menyelesaikan sebuah cerita. Menulis, walaupun secara tampak mata hanya cukup duduk di depan layar komputer, menggerakkan jari-jemari di atas tuts keyboard, tapi sesungguhnya mengeluarkan tenaga yang luar biasa. Dan sekali lagi, selamat. Namun, yang jelas, pasti ada suatu perasaan bernama “lega” setelah terselesaikannya cerpen dari tangan para penulis itu.
Membaca delapan belas cerpen dalam buku kumpulan cerpen ini – yang semuanya ditulis oleh penulis/pengarang remaja– seolah kita menemukan imaji yang tak terpikirkan sebelumnya. Para penulis remaja memang kuat imajinasinya. Peristiwa sehari-hari yang bagi orang-orang kebanyakan hanya sepintas lalu, dan terkadang begitu saja menghilang, di tangan penulis bisa menjadi sebuah cerita. Meskipun, tentu saja, cerita yang dihasilkan itu mengikuti alur imajinasi yang ada dalam benak pengarang dan pada bagaimana keinginan pengarang dalam menyikapi peristiwa keseharian yang dituangkan dalam cerita tersebut. Dan itu sah-sah saja.
Menulis cerpen pada dasarnya sama dengan bercerita seperti halnya kepada rekan, saudara, dan sebagainya, tentang kejadian-kejadian sehari-hari. Hanya saja dalam cerpen (baca: fiksi), adalah cerita yang (terkadang) dilebih-lebihkan, ada unsur hiperbolis di dalamnya, yang bukan tanpa tujuan, tetapi untuk efek dramatisasi sehingga dapat mengaduk emosi pembaca, untuk tercapainya idealisasi pada suatu kejadian sehari-hari yang biasa, hingga pengemasan pesan/ amanat yang hendak disampaikan kepada pembaca. Begitu pula kumpulan cerpen ini, sebagian besar berkisah dari kehidupan remaja.
Hadiah untuk Ibu, misalnya, berkisah tentang seorang anak yang ingin memberikan surprise, kado istimewa untuk ibunya tepat di Hari Ibu. Anak itu berniat menghadiahi ibunya sepasang baju karena tak tega melihat ibunya yang lagi-lagi mengenakan baju merah bermotif bunga. Namun sayang, karena ia menunda untuk memberikan hadiah tersebut kepada ibunya, dan memilih untuk berkeliling dahulu menjajakan aneka gelang, kalung dan aksesoris lainnya, ia “kehilangan kesempatan” untuk memberikan hadiah itu. Ibunya telah mendahuluinya pergi selama-lamanya, ibunya meninggal akibat penyakit ginjal yang tak mau diobati sebab ibunya lebih mementingkan biaya sekolah daripada biaya pengobatan.
Dalam cerpen ini, mengapakah pengarang memutuskan untuk “mematikan” tokoh ibu? Tak adakah keputusan lain untuk ibu, misalnya, ketika anak itu hendak memberikan hadiahnya tiba-tiba saja ibunya harus dirawat di rumah sakit sehingga ia mempersembahkan hadiahnya dalam suasana yang tak kalah haru dibandingkan kematian? Dan mungkin juga lebih happy ending.
Namun, apa pun keputusan pengarang, pasti telah mengalami proses pemikiran yang lebih cermat sebelumnya. Kematian (yang juga muncul dalam cerita lainnya seperti Tawa sang Sahabat, atau Kasihku Mati Cintaku Abadi) memang menjadi salah satu cara yang cukup efektif untuk menimbulkan efek dramatisasi, mengharu-biru, dan juga penyampaian pesan/ amanat yang cukup kuat sebab pesan dari seseorang yang meninggal adalah “wasiat”. Dan secara keseluruhan, cerpen Hadiah untuk Ibu ini merupakan cerpen yang berhasil.
Beragam tema muncul dalam kumpulan cerpen ini. Namun, seperti cerpen-cerpen remaja pada umumnya, tema cinta dengan segala kompleksitasnya yang kemudian menjadi universal, tampaknya menjadi tema yang paling sering muncul di samping tema-tema persahabatan, moral, dan sosial. Cerpen-cerpen yang bertemakan cinta dapat dilihat pada cerpen-cerpen seperti, Cinta Strawberry (yang kemudian menjadi judul dalam kumpulan ini), Berlian tak Berkilau, Bunga Jiwa, Cinta Bayangan, Kelabut Mendung di Mata Awan, Last Spring, Melodi Sembilu, Perawan Cinta, Akhir Cinta Abadi, Tawa Sang Sahabat, Revi, dan Kasihku Mati Cintaku Abadi.
Adapun tema-tema lain semacam tema persahabatan, sosial, bakti kepada orang tua muncul pada cerita Hadiah Untuk Ibu, Sebuah Pencarian, Bastian, What is the Friendship?, Redup Remang, dan Cahaya di Balik Kegelapan.
Di akhir catatan ini, kami mencatat bahwa yang terpenting dalam mengawali kegiatan menulis adalah membebaskan diri, membebaskan imajinasi seluas-luasnya untuk mulai menulis tentang apa aja. Adapun teori-teori yang kami berikan, bolehlah agak dikesampingkan untuk sementara, yang hal itu merupakan sebagian kecil rambu-rambu dalam kegiatan menulis. Toh teori (tentang tokoh dan penokohan, alur, dsb, apalagi yang bersifat teknis seperti ejaan dan tanda baca) dalam perkembangan proses kreatif akan dengan sendirinya menyertai. Dengan praktik yang terus-menerus, pastilah akan menghasilkan karya yang semakin bagus, karena menulis itu sendiri merupakan keterampilan proses. Setidaknya, cara ini telah berhasil dengan lahirnya kumpulan cerpen ini.
Salam. []
____________________
Semarang, 13 Juni 2009
M. Rifan Fajrin
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca.
Berikan tanggapan Anda di kolom komentar. EmoticonEmoticon